SHARE

Sikap tamak dan rakus negara imperialis seperti Amerika Serikat, selalu ingin menguasai semua sumber daya alam di muka bumi ini. Perang di Timur Tengah, ketegangan di Asia Pasifik dan geger di benua Afrika, tak pernah lepas kaitan dengan peran Amerika Serikat. Semua itu dilakukan oleh Paman Sam guna mengangkangi sumber daya alam tersebut.

Emas, mulai dari emas hitam (minyak) hingga emas murni dan bahan mineral lain, selalu menjadi incaran AS di setiap jengkal planet bumi ini. Kini cadangan emas dunia yang terbesar diketahui berada di Tambang Grassberg, Timika, Papua, Indonesia. Saat ini tambang tersebut dioperasikan oleh perusahaan tambang asal AS, Freeport.

Namun pada tahun 2021, Tambang Grassberg, bisa saja lepas dari genggaman Freeport dan Amerika Serikat. Jika pemerintah Republik Indonesia enggan memperpanjang kontrak karya Freeport yang sudah bercokol sejak 1967, bisa dipastikan AS akan kehilangan cadangan emas terbesar di dunia.

Republik Indonesia bisa dianggap menjadi penghalang. Untuk itu dibuatlah berbagai scenario agar cadangan emas di Tambang Grassberg tetap menjadi milik mereka. Jika RI tak mau memperpanjang kontrak karya Freeport, maka pilihan terbaik adalah membuat Papua merdeka.

Bagi AS akan lebih mudah mendikte negara baru bernama West Papua dibandingkan harus mengurusi keinginan Republik Indonesia. Jika tak ada aral melintang, AS merencanakan kemerdekaan Papua akan terwujud paling lama 2019. Bisa jadi lebih Cepat pada Desember 2016 tergantung situasi dan kondisi Jakarta.

HPN selaku Tokoh Intelijen Terkemuka RI, pada Prinsipnya menghendaki Referendum Nasional jika Papua ingin Merdeka. Pernyataan HPN itu berulang kali dimuat media sebagai tanggapan terhadap solusi tuntutan Papua Merdeka yang makin marak di dunia internasional.

Baca Juga  Operasi XYZ Papua Merdeka: Sutiyoso & BIN Curiga Permainan Freeport

Australia sebagai salah satu negara tetangga terdekat, dimana Organisasi Papua Merdeka memiliki akses terhadap pemerintahnya, sudah siap mendukung rencana kemerdekaan Papua. Salah satu bentuk kesiapan Australia mewujudkan Papua Merdeka adalah pemberian izin kepada AS untuk menambah Pasukan AS terutama US Marine di Darwin, Australia.

Pasukan Militer AS di Darwin semula hanya 250 personil, sekarang sudah puluhan ribu prajurit yang didominasi US Marine sebagai persiapan Papua Merdeka. Pernyataan Menlu AS, bahwa pasukan US Marine di Darwin akan ditingkatkan menjadi 67 ribu personil pada 2019 yang akan datang. Mereka akan menurunkan pasukan terdiri dari USAF, US Navy dan US Marine.

Semula, AS beralasan penempatan pasukan itu untuk mengimbangi pergerakan pasukan Cina di kepulauan Spratley, Pasifik Selatan. Namun tak dimungkiri jika sasaran mereka sebenarnya adalah Papua.

Masa Depan RI akan suram karena ada indikasi Papua Merdeka dan Pulau Jawa yang tenggelam dengan populasi manusia. Prediksi tentang NKRI dalam lima tahun ke depan memang menyeramkan jika rakyat dan pemerintah RI lengah.

Kemerdekaan Papua bukan kondisi Final. Setelah Papua, akan segera diikuti dengan Kemerdekaan Aceh yang didukung Turki, RRC dan Eropa (Swedia, Norwegia, ddan negara skandinavia lainnya).

Turki dan Swedia sudah berkomitemen mendukung Kemerdekaan Aceh. Komitmen ini terkait jasa Aceh (cq. ZN ABD) membantu Konflik Swedia-Turki. Turki mendukung kemerdekaan Aceh juga terkait romantisme Kejayaan negara Islam masa lalu, Turki dan Aceh, yang mesra akan diwujudkan Kembali.

Cina bahkan sudah sepakat akan mendapat konsesi sebagai kontraktor utama Eksplorasi Migas di Seumelu, Aceh, yang cadangannya diperkiarakan mencapai 358 miliar barel, terbesar di Dunia.

Kemerdekaan Papua akan diikuti oleh Kemerdekaan Aceh. Rencana ini sudah disepakati Gubernur Aceh – PM Australia di Canberra medio 2014 lalu. NKRI bisa bubar..!

Baca Juga  Operasi XYZ Papua Merdeka: Niat Jahat Freeport kepada Pemerintah RI Lewat Maroef Syamsudin

Bubarnya NKRI dan munculnya 5-6 negara baru di eks RI sesuai dengan tujuan “Clinton Programm’ 1998 lalu. Ingat selama Partai Demokrat berkuasa, RI akan diobok-obok oleh AS.

Negara ASEAN juga menerapkan Standar Ganda. Di satu pihak secara resmi menolak diinsintergasi RI tapi dibelakang mereka setuju dengan rencana itu. Hal ini biasa dalam dunia diplomatik.

RI yang besar dan kuat akan menjadi ancaman bagi negara-negara ASEAN lain. Mereka ingin RI dalam kondisi lemah dan terpecah-belah. Namun jangann sampai terjadi Gejolak Kawasan.

Memecah Indonesia menjadi 5-6 Negara Merdeka tanpa gejolak adalah PR terbesar RRC, AS, Eropa, Australia, Israel dan ASEAN. Apakah berhasil..?

Apakah konspirasi global berhasil memecah RI menjadi 5-6 negara baru yang berdaulat tanpa terjerumus dalam gejolak politik dan militer yang berdarah-darah? Atau bisa jadi RI akan terpecah-belah meniru nasib negara-negara Balkan dengan gejolak politik-militer yang memakan korban jiwa hampir satu juta Jiwa mati sia-sia?

Jangan Sampai Balkanisasi terjadi di Indonesia. Kuncinya, sikap Presiden RI Joko Widodo harus tegas, TNI dan Rakyat Republik Indonesia harus tetap bersatu. Hindari semua konflik yang membenturkan antarlembaga dan pimpinan RI. Kini bentuk perpecahan itu sudah mulai muncul dengan pendiskreditan Ketua DPR Setya Novanto oleh Maroef Syamsudin, Presdir Freeport.

Satu-satunya pilar kekuatan RI yang masih Solid adalah TNI. Pilar Utama Indonesia yang lain adalah Islam. Tapi Islam sudah dihancurkan, berantakan. Tak Solid lagi. Sementara Rakyat RI sudah tak jelas jiwa patriotisme dan nasionalismenya. Mati bersama Ideologi Pancasila akibat Reformasi Kebablasan & Media Fitnah Setan. Karakter Bangsa Indonesia kini acak kadut. Menuhankan materialisme, hedonisme dan liberalisme.

Otak Rakyat RI sudah dicuci habis media fitnah setan dan karakter bangsa Pancasilais agamis sudah dibunuh bersama dengan Pembunuhan Pancasila.

Baca Juga  Operasi XYZ Papua Merdeka: Niat Jahat Freeport kepada Pemerintah RI Lewat Maroef Syamsudin

Sadarlah Rakyat Indonesia..!!! Bangkitlah Rakyat Indonesia..!!! Ibu Pertiwi Terancam MATI…

Mari kita Kita Kobarkan & Gaungkan NKRI Harga Mati!!!

Si Kantil (semerbak harum bunganya menyerap bau busuk dan bangkai, jangan coba-coba memecah NKRI)

2 COMMENTS