SHARE

Lagi-lagi upaya Freeport untuk mendiskrediktkan pemimpin nasional Indonesia di mata rakyat khususnya Papua, terus terjadi. Selain membuat rekaman illegal yang dilakukan Maroef Syamsudin tanpa sepengetahuan lawan bicaranya, Freeport juga menata scenario seolah-olah pemimpin nasional Republik Indonesia yang tak mau peduli dengan nasib bangsa Papua.

Konstruksi untuk itu dibangun Maroef Syamsudin saat berbicara tentang Persipura. Klub sepak bola asal Jayapura itu diceritakan oleh Maroef Syamsudin sebagai klub yang tengah teraniaya oleh tingkah dan polah Presiden Joko Widodo. Freeport, sebaliknya dijadikan sebagai sosok sinterklas yang selalu membantu Persipura yang sampai saat ini masih dianggap sebagai perwujudan nyata dominasi bangsa Papua, khususnya dalam sepak bola, atas masyarakat atau suku-suku lain di Indonesia.

Maroef secara jelas-jelas dan gamblang menerangkan betapa meruginya dan menderitanya rakyat Papua, akibatulah Presiden Joko Widodo yang menghukum PSSI. Akibat pembekuan PSSI oleh Presiden Joko Widodo itu, Persipura digambarkan tidak bisa bermain membawa nama Papua untuk harum di tingkatan internasional. Padahal sepak bola adalah sebuah hiburan yang tidak hanya sangat dinikmati public Papua, terutama pecinta Persipura, namun juga sebagai lambing supremasi bangsa Papua.

Bahkan Maroef Syamsudin, membesar-besarkan masalah, akibat sepak bola yang terhenti, para pemain Persipura merana dan sakit jantung.

MS: Kita kan sponsor Persipura. Bubar Pak. Pada ngirim surat mau membubarkan. Kasihan Persipura

MS: Drop semua. Sakit semua. Sakit jantung semua Pak

Maroef Syamsudin, jelas-jelas telah membandingkan akibat ulah Jokowi, rakyat Papua menderia. Maroef Syamsudin lagi-lagi telah sukses membangun konstruksi cerita, bahwa Presiden Republik Indonesia, tidak pernah peduli dengan nasib bangsa Papua.

Maroef Syamsudin, dalam mewujudkan misinya sangat kejam karena melibatkan orang-orang tak bersalah seperti Setya Novanto ke dalam jurang masalah. Kini Maroef Syamsudin yang sukses membawa misi fitnah dari Freeport dan Amerika Serikat, tengah tertawa terbahak-bahak. Setya Novanto yang lugu dan jujur serta tidak menginginkan perpanjangan kontrak karya Freeport terjerat masalah dan membuat Presiden Joko Widodo citranya sangat buruk di hadapan masyarakat Papua.