SHARE

Pihak pengacara Hary Tanoesoedibjo merencanakan mendatangkan enam orang pakar dalam tuntutan praperadilan pada Bareskrim Polri.

Sidang kelanjutan praperadilan juga akan kembali di gelar pada Rabu (12/7/2017) besok.

Enam pakar itu datang dari beragam bagian.

Satu diantara pengacara Hary Tanoe, M Maulana Bungaran, menyebutkan, enam pakar tersebut di antaranya datang dari bagian komunikasi, bhs, pidana, ITE, serta Dewan Pers.

” Besok pakar ada enam orang, ” kata Maulana di Pengadilan Negeri, Jakarta Selatan, Selasa (11/7/2017).

Spesial pakar dari Dewan Pers, Maulana menyebutkan, pihaknya menginginkan menunjukkan kabar berita mass media masalah masalah ini berdiri sendiri.

Menurut Maulana, Jaksa Yulianto, yang memperoleh pesan singkat dari Hary Tanoe, terasa ada ancaman lewat kabar berita.

Ia tidak mengatakan mass media mana yang disebutnya membuat Jaksa Yulianto terasa terancam.

” Kami menginginkan tunjukkan, sSaudara Yulianto terasa terancam dengan kabar berita yang ada, kami menginginkan hadirkan Dewan Pers, kalau media itu berdiri sendiri, ” tutur Maulana.

Kuasa Hukum Polri dari Biro Hukum Polri, Veris, malas berkomentar banyak masalah persidangan hari ini ataupun Rabu (12/7/2017) besok.

Pada persidangan Rabu besok, Polri juga akan mendatangkan bukti.

” Giliran kami kelak, besok juga ada kontrol saksi serta pakar dari pemohon (Hary), ” tutur Veris.

Hary adalah tersangka dalam masalah sangkaan ancaman pada Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Spesial Yulianto lewat media elektronik.

Ia dipakai Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Th. 2008 mengenai Info Transaksi Elektronik (ITE) tentang ancaman lewat media elektronik.

Hary telah di check jadi tersangka oleh penyidik Bareskrim.

Dalam masalah ini, Yulianto 3x terima pesan singkat dari Hary Tanoe pada 5, 7, serta 9 Januari 2016.

Berisi yakni, ” Mas Yulianto, kita tunjukkan siapa yang salah serta siapa yang benar. Siapa yang profesional serta siapa yang preman. Anda mesti ingat kekuasaan itu akan tidak abadi. Saya masuk ke politik diantaranya satu diantara pemicunya ingin memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang menyukai abuse of power. Tulis kalimat saya disini, saya tentu jadi pimpinan negeri ini. Di situlah waktunya Indonesia dibikin bersih. ”

Tetapi, Hary menyanggah meneror Yulianto.