SHARE

Komisi Pembarantasan Korupsi  sudah mendengarkan kesaksian dari Paulus Tanos. Ia adalah salah satu tokoh utama  dalam kasus dugaan korupsi proyek Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik yang menjadi program mercusuar Kemendagri. Paulus Tanos ini  pendiri sekaligus Dirut PT Sandipala Arthapura, yang tergabung dalam konsorsium pemenang proyek e-KTP yakni PNRI.

Ini adalah pemeriksaan kedua KPK terhadap Paulus Tanos. Dua pekan sebelumnya, penyidik KPK telah memeriksa Paulus Tanos di kantor Corrupt Practice Investigation Bureau (CPIB) Singapura.  Akan tetapi, tak cukup dengan kesaksian tertulis, dalam persidangan ke-15 kasus e-KTP Kamis (18/5) di PN Tipikor Jakarta, KPK melakukan teleconfrence dengan Paulus Tanos, terkait dengan pengadaan e-KTP dan aliran dana yang disalurkan terdakwa Irman dan Sugiharto.

tanosku

Ada beberapa fakta menarik dari pemeriksaan melalui teleconfrence dengan Paulus Tanos ini. Pertama, bahwa dia mengakui melakukan dua pertemuan dengan Setya Novanto. Namun, Setya Novanto yang waktu itu duduk di Komisi II DPR ternyata tidak banyak mengetahui soal e-KTP.

Dengan demikian, kata Paulus Tanos, hanya klaim Andi Agustinus atau Andi Narogong yang mengaku-aku berhubungan dekat dengan Setya Novanto.

Kedua, Paulus Tanos tidak membantah kedekatannya dengan Gamawan Fauzi, Mendagri 2009-2014. Adalah Gamawan Fauzi pula yang memintanya membuat perusahaan baru untuk masuk dalam konsorsium PNRI, yakni PT Sandipala itu. Sayang, jaksa KPK tidak terus mencecar Paulus Tanos terkait pertemuan-pertemuan dengan Gamawan Fauzi.

fauzijuga

Dalam teleconfrence itu Paulus Tanos secara terbuka mengakui bahwa ia tak bisa pulang ke Indonesia karena keselamatannya terancam.

“Rumah saya diserang, saya diancam dibunuh. Akhirnya saya tinggal di Singapura sejak Maret 2012,” paparnya.

Paulus Tanos mengatakan ia sebenarnya ingin hadir secara langsung di PN Tipikor Jakarta ini. Namun, karena kondisi belum memungkinkan, ia masih belum berani pulang. “Saya ingin hadir di Indonesia, tapi saya takut keselamatan jiwa saya terancam,” ujarnya.

Baca Juga  Paulus Tanos: Andi Narogong Jual Nama Setya Novanto

Paulus Tanos menjelaskan, kepindahannya ke Singapura itu berkaitan dengan proyek e-KTP. Sebagai perusahaan yang bertugas menyediakan blangko e-KTP, Paulus berkongsi dengan Andi Winata, anak Tommy Winata, untuk menyediakan keping ST-Micro. Perusahaan Oxel System Ltd, milik Andi, merupakan agen tunggal keping merek itu di Indonesia.

sugiharto
Sugiharto, salah satu terdakwa kasus e-KTP, menangis saat mendengarkan kesaksian Paulus Tanos melalui teleconfrene. Sugiharto kerap meminta dana kepada Paulus Tanos, memenuhi perintah atasannya, Mendagri Gamawan Fauzi

Kerja sama antara Paulus dan Andi tak berjalan mulus. Menurut Paulus, chip yang disediakan Andi merupakan software yang biasa digunakan untuk kartu surat izin mengemudi (SIM). Software ini, menurut Paulus, tak dapat digunakan untuk KTP.

Selanjutnya ada perselisihan yang terjadi antara Paulus dan Andi Winata. Andi lantas melaporkan Paulus ke Mabes Polri dengan tuduhan penipuan. “Akhirnya saya kabur ke Singapura,” ujar Paulus Tanos. Jelas dia tak mau berurusan dengan TW.

Dalam pengadaan proyek e-KTP, PT Sandipala Arthapura bertugas mengerjakan 103 juta kartu dari 172 juta kartu yang harus diselesaikan konsorsium. Namun, dalam perjalanannya, konsorsium PNRI mengurangi jatah Sandipala hingga menjadi 45 juta kartu.