SHARE

Proses pemanggilan Setya Novanto oleh Kejakasaan Agung dalam perkara dugaan permufakatan jahat, pekan ini di Jakarta kembali menemui kontroversi. Beberapa ahli hukum di Indonesia, mempertanyakan dalil yang dipakai oleh anak buah Jaksa Agung Prasetyo dalam dugaan mereka.

Berikut adalah pendapat hukum atau legal opinion dari DR Chairul Huda, SH, MH, Ahli Hukum Pidana/Hukum Acara Pidana Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Menurut Chairul Huda secara garis besar ia menyoroti tentang dugaan tindak pidana permufakatan jahat dalam tindak pidana korupsi, terkait rekaman pembicaraan ilegal yang dibuat oleh Maroef Syamsoeddin, atas pembicaraannya dengan Muhammad Riza Chalid dan Setya Novanto, pada 8 Juni 2015.

Paparan ini secara khusus menyingkap tentang tidak adanya upaya “pemaksaan” dari Setya Novanto.

“Dalam paparan sebelumnya telah disampaiklan bahwa Maroef Syamsoeddin, Muhammad Riza Chalid maupun Setya Novanto bukanlah termasuk dalam jajaran penyelenggara negara yang dapat diklasifikasikan sebagai pelaku permufakatan jahat, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 UU Nomor 31 tahun 1999, atau “penyelenggara negara” sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 1 UU No 28 tahun 1999,” ulas Chairul Huda.

Menurut dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta ini, Kalau pun dipandang telah ada kesepakatan itu, maka jika dilihat dari materi pembicaraan dalam rekaman ilegal Maroef Syamsoeddin, Muhammad Riza Chalid dan Setya Novanto yang dibuat pada 8 Juni 2015, tidak tergambar sama sekali bahwa adanya perbuatan memaksa dari Setya Novanto dan/atau bersama-sama Muhammad Riza Chalid.

“Materi pembicaraannya sama sekali tidak menunjukkan adanya perbuatan Setya Novanto yang membuat Maroef Syamsoeddin atau pihak lain “terpaksa” berbuat di luar kehendaknya,” tutur Chairul Huda.

Pembicaraan terkesan berlangsung dalam suasana yang penuh keakraban bahkan santai. Menurut Chairul Huda, dari kondisi itu bisa disimpulkan tidak mungkin adanya paksaan fisik, psikis yang terjadi, karena perbuatan melawan hukum atau penyalahgunaan kewenangan dari Setya Novanto.