SHARE

Jakarta – Pengacara Hary Tanoesoedibjo mendatangkan empat pakar dalam sidang kelanjutan praperadilan masalah sangkaan SMS ancaman. Pengacara hari ini akan memasukkan bukti penambahan atas tuntutan yang diserahkan.

” Untuk hari ini yang telah stand by ada empat ditambah Abdul Chair Ramadhan jadi pakar pidana, ” kata pengacara Hary Tanoe, Munathsir Mustaman, pada wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jl Ampera Raya, Jaksel, Rabu (12/7/2017).

Beberapa saksi yang telah bersiap untuk mengemukakan analisisnya salah satunya pakar bhs Syahrial, pakar komunikasi Lely Andriani, Ratna Komala (Dewan Pers), serta pakar hukum pidana Abdul Chair Ramadhan.

” Kami lihat kalau SOP perlakuan perkara ini diluar SOP yang telah ditata. Umpamanya penyampaian SPDP pada Ayah Hary Tanoe selang saatnya ada sekitaran 47 hari. Ini jauh dari ketetapan KUHAP Pasal 109, ” sambung Munathsir.

Dalam praperadilan ini, pihak pengacara juga memohon dikerjakan kontrol digital forensik pada handphone berkaitan sangkaan SMS ancaman pada jaksa Yulianto.

” Kata termohon (Polri) ada rangkaian SMS, (sedang) pernyataan HT dia hanya kirim dua SMS itu. Nah, ini kan mesti dibuktikan dari digital forensik SMS-SMS sebelumnya tanggal 5 (Januari 2016) serta setelah tanggal 7 (Januari 2016), itu dari siapa pengirimnya. Karenanya, hingga saat ini HT belum juga sempat mengaku dalam BAP dalam tiap-tiap kontrol itu yaitu SMS dari dia, ” sambung Munathsir.

Hary Tanoe lewat kuasa hukumnya memajukan permintaan praperadilan untuk menggugurkan status tersangkanya. Dia memohon majelis hakim terima permintaannya karna penyidikan yang dikerjakan Polri disangka menyalahi ketentuan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Hary Tanoe jadi tersangka karna SMS yang di kirim ke jaksa Yulianto didugakan memiliki kandungan unsur ancaman. Polisi menjerat Hary Tanoe dengan Pasal 29 UU Nomor 11/2008 mengenai ITE juncto Pasal 45B UU Nomor 19/2016 mengenai Perubahan atas UU ITE Nomor 11/2008. Ancaman pidana penjaranya 4 th..