SHARE

JAKARTA — Jumlah masyarakat umur muda yang jauh semakin banyak di banding ‘usia mapan’ nyatanya memberi imbas pada daya beli orang-orang. Aktor usaha ritel berasumsi, fenomena bonus demografi yang selekasnya dihadapi Indonesia pada 2020 nyatanya memberi sedikit dampak pada lesunya daya beli, terlebih yang mengarah ke grup ritel.

Presiden Jokowi pernah mewanti-wanti kalau Indonesia juga akan mendapat barokah dengan adanya banyak populasi umur produktif yaitu 15 sampai 64 th. yang menjangkau 70 % dari keseluruhan masyarakat Indonesia. Keadaan ini dipercaya juga akan mulai dirasa pada 2020 sampai 2030 yang akan datang. Ketua Umum Asosiasi Entrepreneur Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, dalam 2, 5 th. terakhir merasa perlemahan daya beli yang mengarah ritel. Kelompok entrepreneur ritel rasakan makin sepinya pelanggan ritel.

Analisa sederhana yang ia berikan, hal semacam ini karena makin banyak customer umur muda yang sebenarnya belum juga mempunyai pendapatan tetaplah. Berarti, makin banyak customer di umur yang belum juga ‘mapan’ ini membuat daya beli merasa alami penurunan, karena pemasukan customer kelompok muda yang belum juga memenuhi. Gaji yang masih tetap minim ini membuat customer kelompok muda serta belum juga mapan ini masih tetap mengerem berbelanja.

” Satu diantara pemicunya. Umur produktif yang makin besar. Namun belum juga semua terserap pekerjaan resmi. Hingga belum juga bisa gaji layak, ” tutur Roy di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Senin (10/7).

Cuma saja, walau menyumbangkan dampak atas daya beli, Roy yakini imbasnya tidak penting. Ada sebagian argumen beda yang turut menghimpit daya beli orang-orang termasuk juga kebijakan pemerintah atas administered prices atau harga yang ditetapkan pemerintah termasuk juga Bahan Bakar Minyak (BBM) serta tarif listrik. ” Penurunan (ritel) dapat sampai 40-50 % dari perkembangan th. kemarin. Itu perkembangan bln. ke bln. dari penjualan, ” tutur Roy.

Lesunya daya beli orang-orang memanglah kembali jadi percakapan hangat mulai sejak satu diantara raksasa ritel Indonesia, yaitu 7-Eleven, menyebutkan tutup operasi mulai sejak akhir Juni 2017 kemarin. Roy lihat kalau masalah 7-Eleven memanglah ada hubungannya dengan anjloknya daya beli orang-orang yang merasa dalam 2, 5 th. terakhir. Ditambah sekali lagi, tutur Roy, 7-Eleven bukanlah seperti waralaba ritel yang lain yang memanglah konsentrasi pada penjualan product ritel. Seperti di ketahui, 7-Eleven mengarah grup muda atau anak nongkrong yang membuat cost operasional perusahaan turut bengkak.

” Penyewa menambah harga serta pendapatan berbeda dengan cost, nah ini sesuai sama keterbukaan info mereka yang menyebutkan terbatasnya sumber daya, ” tutur Roy.