SHARE

Ketua DPR Setya Novanto mengalami “trial by the press” atau yang dikenal dengan penghakiman melalui opini yang dimuat dalam media massa. Jangan takut membela Setya Novanto yang sedang mengalami penghakiman media itu.
Dari rekaman hasil sadapan yang dilakukan oleh Dirut Freeport Maroef Syamsuddin, tidak terbukti adanya kesalahan dari Setya Novanto. Dalam dua hari persidangan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), pada Rabu dan Kamis, rekaman dari flashdisc diperdengarkan kepada 17 anggota MKD. Hasil sadapan yang diperdengarkan ini berbeda dengan bukti rekaman yang diserahkan oleh Sudirman Said kepada MKD dua pekan sebelumnya.

Pada persidangan hari Rabu, Sudirman Said diminta keterangannya dalam persidangan MKD selama hampir tujuh jam. Persidangan terhadap Maroef Syamsuddin berlangsung jauh lebih lama, hampir sepuluh jam. Berbeda dengan Sudirman Said yang tampak lelah dan bersikap emosional, Maroef Syamsuddin terkesan lebih tenang dan berusaha keras menahan gejolak perasaannya. Namun, kentara sekali jika perwira tinggi TNI AU ini seperti tertekan dan nervous.

Dari rekaman dan keterangan-keterangan yang disampaikan baik oleh Sudirman Said dan Maroef Syamsuddin, tidak terlihat peranan untuk mendominasi pembicaraan oleh Setya Novanto. Tidak ada pernyataan ‘catut mencatut saham’. Istilah ‘papah minta saham’ juga bukan dari Setya Novanto. Ketua DPR ini hanya menjadi korban dari pemerangkapan yang dilakukan oleh Maroef Syamsuddin untuk kepentingan Freeport. Ketua DPR kemudian menjadi korban dari opini media dan publik.

Dari bukti-bukti yang ada, tidak ada yang menyatakan bahwa Ketua DPR salah. Terkait banyaknya nama yang disebut dalam rekaman yang diperdengarkan dalam sidang MKD, baik saat memeriksa Sudirman Said pada Rabu dan Maroef Syamsuddin di hari Kamis, hal itu tidak perlu dipersoalkan. Penyebutan banyak nama wajar terjadi dalam sebuah obrolan “warung kopi”.

Orang ‘nyebut’, biarin saja orang ‘nyebut’ lah. Nggak ada masalah. Baru ‘nyebut’ begitu di ‘warung kopi’, apa susahnya?