SHARE

Diputuskannya PT Offistarindo Adhiprima jadi tersangka adalah pertama kali Bareskrim Polri menjerat korporasi dalam tindak pidana korupsi di. Perusahaan itu dijerat dalam masalah korupsi pengadaan uninterruptible power suplai (UPS) di 25 sekolah SMA/SMKN pada Suku Dinas Pendidikan Menengah Kota Administrasi Jakarta Barat pada APBD Perubahan Th. 2014.

Kepala Sisi Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul menyebutkan, perusahaan itu adalah pemenang tender dalam pengadaan UPS di beberapa sekolah.

” Ini baru pertama kalinya dikerjakan penyidik Bareskrim serta hanya satu penyidikan tindak pidana korupsi (di Bareskrim) yang mentersangkakan korporasinya, ” tutur Martinus di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Martinus menyebutkan, umumnya korporasi jadikan tersangka dalam beberapa masalah yang berkaotan dengan lingkungan hidup, seperti kebakaran rimba. Tetapi, baru kesempatan ini perusahaan jadi tersangka dalam masalah korupsi.

Penetapan korporasi jadi tersangka ditata dalam Ketentuan Mahkamah Agung Nomor 13 Th. 2016 mengenai Tata Langkah Perlakuan Tindak Pidana oleh Korporasi.

” Itu basic kita tentukan PT Offistarindo Adhiprima jadi tersangka masalah pengadaan UPS, ” kata Martinus.

Penyidik sudah menyelesaikan penyidikan atas perusahaan itu. Berkasnya sudah dinyatakan komplit oleh kejaksaan serta tinggal menyerahkan tanda bukti dan tersangka korporasi ke penuntut umum.

Penetapan korporasi jadi tersangka terlebih dulu dikerjakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada PT Duta Graha Indah (saat ini beralih jadi PT Nusa Konstruksi Engineering) dalam masalah korupsi dalam project pembangunan Tempat tinggal Sakit Pendidikan Spesial Penyakit Infeksi serta Pariwisata Kampus Udayana Th. Biaya 2009-2010.

Menurut Kasubdit V Direktorat Tipikor Bareskrim Polri Kombes Indarto, penyidik menjerat PT Offistarindo Adhiprima karna beberapa hasil korupso UPS mengalir ke perusahaan itu. Penetapan terdangka juga akan mempemudah sistem pemulihan aset dalam pengadilan.

” Korporasi jadi tersangka karna kita saksikan korporasi ambillah faedah atas perbuatan korupsi ini. Dalam rencana asset recovery, kita tentukan tersangka, ” kata Indarto.

Dalam masalah ini, terlebih dulu penyidik mengambil keputusan lima tersangka. Dua salah satunya adalah anggota DPRD DKI Jakarta, yaitu Muhammad Firmanysah serta Fahmi Zulfikar.

Sesaat tiga tersangka yang lain yakni Direktur Paling utama PT Offistarindo Adhiprima, Harry Lo, Kepala Seksi Fasilitas serta Prasarana Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat Alex Usman, dan Kepala Seksi Fasilitas serta Prasarana Suku Dinas Pendidikan Jakarta Menengah Jakarta Pusat Zaenal Soleman.