SHARE

Jakarta – Polisi merencanakan mempertemukan beberapa pihak dalam masalah order fiktif Go Food. Jalan ini ditempuh sesudah diliat bobot masalah serta kebutuhan hukum pidananya.

” Masalah di orang-orang kan varietasnya beberapa macam. Lantas kita saksikan bobotnya serta kebutuhan hukum pidananya. Seperti masalah Go Jek itu mereka sama-sama memaafkan kan tidak jadi masalah. Polisi juga buka ruangan itu, ” kata Kapolres Jakarta Timur Kombes Andry Wibowo, Senin (10/7/2017) malam.

Dia menyebutkan, dalam satu masalah juga diliat biaya pidananya. Menurut dia, masalah begini semakin besar cost pidananya dibanding kerugian yang terkena.

” Contoh, saya cubit kamu hingga biru kan itu penganiayaan juga. Namun saat saya sistem kamu, biayanya kan cukup besar juga dari pada menyembuhkan cubitan itu, ” katanya.

Tetapi, Andry belum juga memastikan saat pertemuan beberapa pihak itu. Dia menyebutkan, pihak kepolisian telah berupaya mencari titik jelas problem ini dengan memohoni info dari beberapa pihak itu yakni Sugiharti, Julianto Sudrajat serta Ahmad Maulana dengan kata lain Dafi.

Polisi belum juga bisa menyimpulkan motif teror order fiktif Go Food yang dihadapi oleh Julianto serta Dafi. Namun menurut dia, tidak layak apabila problem asmara jadikan masalah pidana.

” Kan semua telah dengan manual telah didapati nih. Di cari ceritanya seperti apa. Lantas keluar tanda-tanda, mungkin saja saja ini karna problem cinta. Bila karenanya saja motivasinya, kan tidak layak jadikan masalah pidana, ” ucap Andry.

” Orang jatuh cinta kan lumrah. Menampik juga lumrah. Hanya kelak juga akan kita nasehati tidak bisa sesuai sama itu sekali lagi. Karna merugikan anda, merugikan orang yang lain. Merugikan umum lebih luas, ” sambung Andry.

Baca Juga  Polisi Tangkap 9 Pemuda yang Bawa Senjata Tajam di Jakarta Timur

Oleh karenanya, polisi juga akan meyakinkan dahulu titik masalah ini supaya mediasi bisa berbuntut pada sama-sama memaafkan.

” Bila mereka ingin sama-sama memaafkan, serta ingin berdamai kan tambah baik juga, ” tutup Andry.