SHARE

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Pol Fadil Imran mulai bicara masalah permintaan praperadilan oleh CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo.

Hary menuntut penetapan dianya jadi tersangka.

Fadil meyakinkan penetapan itu telah sesuai sama ketetapan undang-undang yang berlaku.

” Penyidikan telah sesuai sama KUHAP, ” tutur Fadil pada Kompas. com, Senin (10/7/2017).

Fadil meyakinkan, pihaknya tidak asal-asalan dalam mengambil keputusan tersangka.

Dalam masalah Haru, minimum dua alat bukti sudah dikantongi penyidik.

” Penetapan tersangka dengan minimum dua alat bukti telah dipunyai penyidik, ” kata Fadil.

Hary adalah tersangka dalam masalah sangkaan ancaman lewat pesan singkat pada Kepala Subdirektorat Penyidik Jaksa Agung Muda Pidana Spesial Yulianto.

Ia dijerat Pasal 29 Undang-Undang Nomor 11 Th. 2008 mengenai Info Transaksi Elektronik (ITE) tentang ancaman lewat media elektronik.

Dalam masalah ini, Yulianto 3x terima pesan singkat dari Hary Tanoe pada 5, 7, serta 9 Januari 2016. Berisi yakni, ” Mas Yulianto, kita tunjukkan siapa yang salah serta siapa yang benar. Siapa yang profesional serta siapa yang preman. Anda mesti ingat kekuasaan itu akan tidak abadi. Saya masuk ke politik diantaranya satu diantara pemicunya ingin memberantas oknum-oknum penegak hukum yang semena-mena, yang transaksional yang menyukai abuse of power. Tulis kalimat saya disini, saya tentu jadi pimpinan negeri ini. Di situlah waktunya Indonesia dibikin bersih. ”

Atas penetapannya jadi tersangka, Hary meniti jalur praperadilan.

Ia berasumsi status tersangka tidak pas diarahkan kepadanya karna isi SMS itu bukanlah ancaman.