SHARE

PHNOM PENH – KBRI Kamboja menggandeng usaha kecil serta menengah (UKM) untuk mempromosikan beberapa produk Indonesia dalam acara Indonesia Trade and Tourism Promotion (ITTP) ke-11 di Phnom Penh. Acara ini dibarengi 62 peserta, yakni 26 perusahaan Indonesia serta 36 importir Kamboja.

Duta Besar RI untuk Kamboja, Pitono Purnomo, menyebutkan pemberdayaan UKM adalah gagasan KBRI Kamboja untuk mengenalkan product yang lebih terjangkau pada orang-orang Kamboja. Daya beli orang-orang Kamboja yang masih tetap rendah jadi argumen paling utama dari pemberdayaan ini.

” Meskipun Kamboja masih tetap belum juga maju, tetaplah mesti dikerjakan sesuai sama kemampuan serta kekuatan ekonominya. Pastinya kita akan tidak mempromosikan beberapa produk yang nilainya tinggi serta harga nya tidak terjangkau oleh orang-orang Kamboja, ” tutur Pitono waktu didapati Republika. co. id di kantor KBRI Kamboja, di Phnom Penh, Senin (10/7).

ITTP yang diadakan di Koh Pich Exhibition Center, Phnom Penh, pada 7-9 Juli ini, adalah aktivitas pameran perdagangan, investasi, serta pariwisata Indonesia. Format aktivitas ini juga akan memadukan rencana direct selling, business matching, serta promosi budaya yang juga akan memakai potensi Kamboja jadi pasar alternatif untuk product Indonesia.

” ITTP ini yaitu pokok misi kita, yakni diplomasi ekonomi, yang sudah digalakkan oleh pemerintahan baru Indonesia, ” kata Pitono.

Ia menerangkan, perusahaan-perusahaan yang turut dan dalam ITTP salah satunya membawa product batik, spare part, bahan bangunan, tisu, obat-obatan, sampai kendaraan seperti merk Toyota, Fortuner, serta Avanza. Menurut sumber KBRI Kamboja, nilai transaksi ITTP kesempatan ini diprediksikan menjangkau 170 ribu dolar AS atau naik sekitaran 20 ribu dolar AS dari th. kemarin.

” Memanglah kita tidak dapat ambisius. Saya inginnya besar-besaran, namun kita mesti realistis dengan lihat kekuatan negara setempat. Kita memfasilitasi lewat pameran. Kita juga carikan mitra mereka di Indonesia, ataupun demikian sebaliknya, ” ungkap dia.

First Secretary KBRI Kamboja, Avi Dewani Sari Harahap, mengakui ada kecemasan tentang UKM-UKM Indonesia yg tidak tertarik dengan pasar Kamboja. Sampai kini, beberapa perusahaan Indonesia lebih pilih negara-negara ASEAN beda yang lebih prospektif seperti Singapura, serta Malaysia.

Yang diinginkan yaitu product kita di kenal serta ada kelajutan. Kita cemas tidaklah terlalu banyak entrepreneur Indonesia yg tidak tertarik dengan pasar Kamboja. Mereka tertarik ke singapura, malaysia, serta negara-negara asean yang lebih prospektif.

” Namun th. ini kita saksikan peminat yang mendaftar telah makin banyak. Ada kesadaran dari entrepreneur kita kalau kamboja dapat juga jadi pasar mungkin, ” kata Avi.