SHARE

Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri akan dilanjutkan kembali Rabu (26/4) mendatang.

KPK sudah melakukan pemanggilan kepada beberapa saksi, antaranya tiga mantan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR, yakni Olly Dondokambey, Marwan Amir dan Tamsil Linrung.

Olly Dondokambey sudah pernah dipanggil sebagai saksi, namun politisi PDIP ini mangkir, tidak datang ke PN Tipikor Jakarta.

Marwan Amir (Demokrat) dan Tamsil Linrung (PKS), baru sekali ini dipanggil.

Dalam persidangan untuk terdakwa Irman dan Sugiharto ini jaksa penuntut umum KPK menuding Olly dan Marwan Amir sama-sama menerima aliran dana proyek e-KTP masing-masing sebesar 1,2 juta dolar AS, sedangkan Tamsil Linrung 700.000 dolar AS.

Kesaksian Olly, Marwan dan Tamsil Linrung diperlukan untuk pendalam aspek pengadaan e-KTP.

tanjaya
Johannes Richard Tanjaya, mengaku sudah mengundurkan diri dari PT Java Trade Utama ketika ikut pertemuan tim teknis pengadaan e-KTP

Sehubungan dengan pendalaman dari aspek pengadaan itu, tim jaksa penuntut umum KPK dan majelis hakim PN Tipikor Jakarta yang diketuai Jhon Halasan Butar Butar pada beberapa persidangan sebelumnya telah menghadirkan saksi-saksi dari tim teknis pengadaan proyek itu, baik dari Kemendari, BPPT, LKPP, mau pun kalangan swasta.

Pada persidangan Kamis (20/4) lalu, saksi-saksi dari pihak swasta antara lain Johannes Richard Tanjaya, dari PT Java Trade Utama, dan Jimmy Iskandar Tedjasusila yang mantan anak buahnya.

Dalam kesaksiannya Johannes Richard Tanjaya mengakui bahwa ia memang mengenal Irman, Dirjen Pendudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri, bahkan sebelum proyek e-KTP digulirkan. PT Java Trade Utama pernah mengerjakan proyek Sistem Informasi Administrasi Kependudukan(SIAK) di Kemendagri Tahun Anggaran(TA)2009.

Melalui Irman pula Johannes Richard Tanjaya diperkenalkan dengan Andi Agustinus alias Andi Narogong, yang lalu mengajaknya bergabung untuk mengerejakan proyek e-KTP.

Johannes Richard Tanjaya kemudian memang mengikuti beberapa pertemuan yang diadakan oleh Andi Narogong. Namun, ia hadir atas nama pribadi, bukan wakil dari PT Java Trade Utama.

Baca Juga  KPK tak Mampu Terapkan Hukum yang Berkeadilan

Johannes Richard Tanjaya sudah mengundurkan diri dari PT Java Trade Utama setelah ia memutuskan bergabung dengan Andi Narogong. Dalam pertemuan-pertemuan untuk pembentukan konsorsium tender e-KTP, Johannes Richard Tanjaya diperkenalkan oleh Andi Narogong sebagai “orangnya Irman”. Belakangan, Johannes mundur karena sudah merasa tak cocok dengan Irman.

gogok
Andi Narogong, memperkenalkan Johannes sebagai “orangnya Irman”.

Dalam pemberitaan terkait teknis pengadaan proyek e-KTP selama ini disebut-sebut adanya tiga konsorsium untuk pengadaan e-KTP, yakni konsorsium PNRI, konsorsium Astragraphia, dan konsorsium Murakabi Sejahtera.

Konsorsium PNRI terdiri dari Perum PNRI, PT Len Industri, PT Quadra Solution, PT Sucofindo, PT Sandipala Artha Putra. Konsorsium Astragraphia terdiri dari PT Astra Graphia IT, PT Sumber Cakung, PT Trisakti Mustika Graphika, PT Kwarsa Hexagonal. Sementara, Konsorsium Murakabi Sejahtera terdiri dari PT Murakabi, PT Aria Multi Graphia, dan PT Stacopa.

Dari penelusuran Nasionalisme.net diketahui jika PT Java Trade Utama tidak masuk di konsorsium Murakabi Sejahtera, atau terlibat di konsorsium mana pun.

Ini juga terbukti dari daftar perusahaan pemerintah dan swasta yang mengikuti lelang pengadaan e-KTP tersebut. Dari 26 perusahaan peserta lelang tidak ada nama PT Java Trade Utama.

Hal ini bisa diketahui dari daftar peserta lelang yang diterakan dalam laman resmi Kemendagri, www.lpse.kemendagri.go.id mengenai daftar rekanan dan peserta lelang.