SHARE

Tidak keliru jika publik menilai banyak kejanggalan dari pengunduran diri Marsda TNI AU (Purn) Maroef Syamsoeddin dari jabatannya sebagai Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PT FI). Mantan Wakil Ketua Badan Intelijen Negara (BIN) tersebut antara lain dinilai telah gagal membawa misi khusus Freeport McMoRan, Inc, yang berbasis di Arizona, AS.

Maroef Syamsoeddin resmi mengundurkan diri sejak Senin, 18 Januari 2016. Dalam surat yang ditujukannya kepada CEO Freeport McMoRan, Inc, adik kandung mantan Menhankam Sjafrie Syamsuddin itu menyebut alasan pribadi sebagai pertimbangan resign-nya.

Freeport Mc.Moran Inc sendiri langsung menyetujui pengunduran diri Maroef Syamsoeddin. CEO McMoRan Inc Richard Adkerson mengatakan, pihaknya  saat ini sedang melakukan seleksi untuk mencari pengganti tetap dari Maroef Syamsoeddin. Untuk sementara ini, Robert Schroeder (Director and Executive Vice President Freeport Indonesia) akan menjalankan tugas-tugas dan tanggung jawab manajemen dari Maroef Syamsoeddin.

Robert Schroeder akan dibantu oleh Clementino Lamury, Director and Executive Vice President Freeport Indonesia. Clementino Lamury, akan terus bertindak sebagai head of external affairs dan juga perwakilan PT FI dengan pemerintah Indonesia.

Misi khusus apa yang gagal diusung oleh Maroef Syamsoeddin? Mantan Waka BIN ini sebelumnya getol melobi pemerintah Indonesia agar melakukan pembahasan mengenai upaya perpanjangan kontrak karya PT FI. Perpanjangan kontrak, sesuai UU, mestinya baru bisa dilakukan tahun 2019, atau dua tahun sebelum kontrak berakhir, tahun 2021. Untuk itu, Maroef Syamsoeddin diketahui melakukan pendekatan khusus kepada menteri ESDM Sudirman Said.

Maroef Syamsoeddin juga mencoba melobi Ketua DPR Setya Novanto. Untuk itu segala cara dilakukannaya, termasuk dengan memerangkap Setya Novanto. Presider PT FI itu dengan sengja melakukan penyadapan atau perekaman ilegal pada pembicaraan dari pertemuan ketiganya dengan Setya Novanto, yakni pada 8 Juni 2015 di Pasific Place, SCBD. Pertemuan itu juga dihadiri pengusaha perminyakan Mohammad Riza Chalid.

Sebagian dari hasil perekaman ilegal itu kemudian dilaporkan oleh menteri ESDM Sudirman Said ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR, pada 16 November 2015. Sudirman Said melalorkan Ketua DPR Setya Novanto dengan tuduhan melakukan pelanggaran etik, diduga meminta saham Freeport.

Uniknya, Maroef Syamsoeddin sendiri justru memberikan hasil penyadapan atau perekaman ilegalnya kepada pihak kejaksaan agung. Jaksa Agung HM Prasetyo menyatakan, Ketua DPR Setya Novanto bisa dijerat dengan Pasal Pemufakatan Jahat. Demikian juga dengan pengusaha perminyakan Mohammad Riza Chalid.

Setya Novanto, yang menjadi korban dari penyadapan ilegal Maroef Syamsoeddin itu, telah mundur dari Ketua DPR. Maroef Syamsoeddin menyusul. Tetapi, publik masih mempertanyakan, apa alasan sebenarnya dari pengunduran diri Presdir PT FI tersebut.