SHARE

Jakarta – Pemerintah tunda gagasan import gas yang juga akan dikerjakan pada 2019. Hal itu dikarenakan ada penambahan supply dari lapangan minyak serta gas (migas) Jangkrik, sisi dari Blok Muara Bakau, Selat Makasar.

‎Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM I Gusti Nyoman Wiratmaja menyebutkan, lapangan migas Jangkrik awalannya diprediksikan bisa menghasilkan gas sebesar 400-450 juta kaki kubik /hari (MMSCFD). tetapi realisasi produksi lapangan yang resmi beroperasi Mei 2017 itu menjangkau 600 MMSCFD.

” Dengan berhasilnya ini nyatanya bagus. Semula di desain 400-450 MMSCFD, cocok di tes dapat 600‎ MMSCFD, ” kata Wiratmaja, dalam komunitas Gas Indonesia Summit & Exhibition 2017, di Jakarta Convention Center (JCC), Rabu (12/11/2017).

Wiratmaja menjelaskan, gagasan import gas yang juga akan dikerjakan pada 2019 dipending dengan ada penambahan produksi gas dari lapangan Jangkrik. Gagasan import gas keluar, karna ada perkiraan produksi gas nasional lebih rendah dari mengkonsumsi.

” Jadi peluang besar 2019 tidak butuh import. Karna produksi kita bagus dari yang diprediksikan, ” tutur dia.

Di peluang yang sama, Deputi Pengendalian serta Pengadaan Unit Kerja Spesial Pelaksana Aktivitas Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto mengungkap, produksi gas dari lapangan Jangkrik‎ juga akan naik dengan bertahap, sekarang ini produksinya telah jadi 500 MMSCFD. ‎ ” Saat ini telah di tes hingga 500, ” ucap Djoko.

Seperti di ketahui, project Pengembangan Kompleks Jangkrik di terlepas pantai laut dalam Indonesia, mencakup Lapangan Jangkrik serta Lapangan Jangkrik North East sudah mulai produksinya (first gas) pada Mei 2017 lantas, lebih cepat daripada tujuan yang terdaftar didalam gagasan strategis Kementerian ESDM 2015-2019 yakni th. 2018. Produksi dari ke-2 lapangan disalurkan lewat 10 sumur bawah laut yang tersambung dengan FPU Jangkrik.

Sesudah diolah diatas FPU, gas juga akan dialirkan lewat pipa spesial selama 79 km ke Sarana Penerima di Darat atau on shore Receiving Facility yang keduanya baru dibuat oleh Eni, lewat System Transportasi Kalimantan Timur, sampai tiba di kilang LNG Badak di Bontang. Produksi gas dari Jangkrik juga akan memasok LNG ke pasar domestik dan pasar export.