SHARE

Kasus rekaman illegal yang sedang heboh saat ini, sebenarnya tak lebih dari pertarungan antar geng yang terjadi di Kabinet Kerja. Berbagai kepentingan yang melatarbelakangi persaingan itu tak lain ambisi poltik dan ekonomi, sosok tertentu di bawah Jokowi.

Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli enggan mengutarakan secara gamblang geng-geng yang ia maksud sedang berebut saham PT Freeport.  Sebaliknya, Rizal yakin bahwa masyarakat bisa melihat sendiri siapa oknum-oknum tersebut.

“Rakyat sudah tahu lah, siapa tikus-tikus ini. Siapa geng-geng yang brengsek ini. Rakyat akan menghukumnya secara sosial,” ucap Rizal. Meski geng-geng tersebut menggunakan kekuatan media seperti yang terjadi pada Metro TV, namun masyarakat alias rakyat Indonesia kini sudah paham. Upaya Metro TV terutama yang digalang dalam Mata Najwa, tak lebih dari sinetron murahan yang membuat Rizal Ramli tambah muak dengan kelakuan mereka.

Menurut Rizal, pengaduan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said ke MKD hanyalah sandiwara. “Buat saya enggak penting (sikap MKD). Ini hanya sandiwara, perkelahian angar geng, rebutan saham,” kata Rizal Ramli. Hal ini jelas sikap Rizal Ramli yang menunjuk Menteri ESDM, Sudirman said, sebagai salah satu wayang yang digerakkan oleh actor kuat di atasnya.

Soal Freeport, permintaan saham atau pelecehan petinggi negara seperti presiden, Ketua DPR dan lain-lain bukan sesuatu yang penting. Mereka dimunculkan karena ada sesuatu di balik Freeport yang melanggar undang-undangan lewat keinginannya untuk mempercepat kontrak karya yang seharusnya dibicarakan pada 2019.

“Buat saya yang penting rakyat Indonesia dapat apa. Bukan elit Indonesia dapat apa, pejabat dapat apa. Buat Rizal Ramli yang penting rakyat dapat apa,” kata Rozal Ramli.

Sebaliknya Rizal Ramli mulai mendapati kecurangan yang dilakukan Freeport. Namun begitu mereka ketahuan berbuat curang maka beberapa kasus yang tidak penting diledakkan sehingga menjadi isu yang meresahkan negara, politik dan pemerintahan.

“Secara khusus kita ingin Freeport membayar royalti 6-7 persen, karena selama ini hanya membayar royalti 1 persen, sangat murah. Kita ingin lebih tinggi sebagai kompensasi dari murahnya pembayaran royalti di masa lalu, dan sesuai dengan perbandingan internasional,” ucap Rizal.

Tak hanya itu saja, Rizal menyampaikan pemerintah Indonesia ingin Freeport memproses limbahnya, dan untuk tidak membuat limbah sembarangan yang merusak kehidupan dan lingkungan.  “Ketiga, kita ingin Freeport membangun smelter supaya diproses. Supaya kita tahu seberapa sebetulnya emas yang dihasilkan, berapa perak yang dihasilkan, dan berapa material mahal lainnya yang ada,” Kata Rizal Ramli.

Rizal juga menyampaikan bahwa pemerintah ingin Freeport melakukan divestasi saham kepada pemerintah Indonesia. Terakhir, Freeport diminta memperhatikan kesejahteraan rakyat di sekitarnya.