SHARE

Raihan Andi Putra Pratama (2), Bayu Samudera (5), dan Dina Ariyanti (13) dengan orang-tua mereka, Andi Sujianto (31) serta Supriati (30), nyaris sebulan ini tempati tenda darurat.

Mereka kehilangan tempat tinggal karena diterjang angin puting beliung pada 14 Juni 2017 yang lalu.

Tempat tinggal kayu di Desa Doreng, RT 01 RW 03, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Demak, Jateng, ini tidak dapat rubuh karena disapu angin puting beliung.

Bencana itu berlangsung pada Bln. Ramadhan. Waktu peristiwa, sang kepala rumah tangga, Andi Sujianto tengah ada di perantauan.

” Telah dua bln. suami tidak pulang. Satu bulan kirim uang ke tempat tinggal Rp. 800. 000 saja, ” keluh Supriati pada Kompas. com, Selasa (11/7/2017).

Cost hidup yang semakin naik membuat Suprihati mesti turut membanting tulang. Ia juga bekerja jadi buruh serabutan. Bila ada tetangga yang memerlukan tenaganya dengan gaji Rp 35. 000 satu hari, jadi dengan suka hati dia juga akan menerimanya.

Ibu muda dengan ke-3 anaknya ini mesti hidup dengan sarana yang serba minim dalam tenda plastik memiliki ukuran 3 x 5 mtr.. Tenda itu mereka dirikan diatas tanah orang yang lain jadi tempat berteduh sepanjang sebulan paling akhir ini.

” Ingin bangun tempat tinggal tidak miliki cost. Ya, sangat terpaksa tidur di tenda, ” tuturnya pasrah.

Di tenda plastik yang berlubang disana sini, Suprihati tinggal dengan anak-anaknya. Tempat untuk tidur berdempetan dengan almari baju, perlengkapan dapur ataupun peralatan rumah tangga seadanya.

Bila malam tiba serta cuaca tidak bersahabat, keadaan keluarga ini semakin tampak mengenaskan. Tidak ada sarana air bersih ataupun listrik. Kepentingan MCK memercayakan air sungai yang tidak jauh dari tenda mereka.

” Tak ada air pam. Masak serta minum ya dari air sungai itu. Airnya diendapkan, kelak baru buat minum serta masak, ” katanya.

Terkecuali minim air bersih, ia serta ke-3 anaknya juga mesti tidur di tenda beralasakan tanah. Bila hujan turun, air juga masuk ke tenda. Malam hari dingin serta siang hari panas membuat anaknya seringkali sakit-sakitan.

” Telah tiga hari ini anak-anak flu serta batuk, ” tutur Supriati.

Untuk penerangan belajar, Dina, si anak sulung menyalakan lilin. Namun gadis manis ini tetaplah ikhlas terima nasibnya.

” Ndak nuntut apa apa, pasrah saja, ” kata siswi kelas VIII MTs ini.

” Tidur di tenda tidak enak. Bila siang panas. Bila hujan airnya masuk kedalam tenda. Malam hari dingin. Bila kedinginan sikepan (mendekap) sama adik serta ibu, ” ucap Dina lemah.

Penderitaan keluarga Supriati jadi bertambah karna tenda yang dihuninya berdiri diatas tanah orang yang lain. Bila diusir, ia bingung mesti geser ke mana.

” Ini tanah orang. Ingin geser ke mana juga bingung. Kelak bila diusir sama yang miliki tanah, tidak paham mesti ke mana, ” keluhnya.