SHARE

Kematian Riyan Hardiyansyah korban penganiayaan awak bus di Cirebon, membawa duka dalam untuk ke-2 orangtua dan Ita Warna Asih, calon istri korban. Pernikahan yang telah mereka sediakan juga urung dikerjakan.

Ita yang barusan kehilangan ibu kandungnya, mesti mengikhlaskan kepergian calon pendampingnya.

Duka itu terlihat di wajah Ita waktu didapati beberapa mass media dirumah Riyan, Desa Kasugengan Kidul, Kecamatan Depok, Cirebon, Jumat (21/7/2017).

Dia tampak sedih serta murung walau beberapa saudara, rekan, serta rekanan sejawatnya datang untuk temani serta menenangkannya. Mereka juga mengemukakan rasa ikut prihatin serta bela sungkawa.

“Baru ditinggal ibu kandung sendiri, saat ini calon suami. Perasaan saya begitu terpukul, namun ya ingin berbuat terlebih, hanya dapat belajar ikhlas, terima lega dada, ” kata Ita.

Riyan sendiri tewas sesudah dianiaya beberapa awak bus Bhineka jadi buntut adu salip di jalur pantura. (Baca : Buntut Adu Salip, Seseorang Pemuda Tewas Dianiaya Awak Bus)

Ita mengakui telah dipandang jadi anak sendiri oleh orang-tua serta keluarga korban. Berita kematian Riyan juga didengarnya dari adik korban, Selasa siang.

Waktu itu, Ita segera ke ruman sakit, serta dokter mengemukakan, supaya berupaya mengikhlaskan calon suaminya karna alami luka kronis dibagian leher serta kepala.

Ita menceritakan, dia dengan Riyan telah merajut jalinan sepanjang tujuh th., mulai sejak duduk di bangku kelas tiga Sekolah Menengah Atas di th. 2010.

Riyan di kenal jadi pemuda baik, rajin, mandiri, tidak sempat mencari problem, serta senantiasa berupaya memberi yang paling baik.

“Saya sama Riyan mulai sejak duduk di kelas tiga. Dia rajin, baik, serta mandiri. Tiap-tiap sore hingga malam dia berdagang ketoprak mulai sejak 2010 masih tetap berdagang hingga sebelumnya wafat. Semua keperluan hidupnya, dia penuhi dari jerih payah sendiri, termasuk juga beli motor, dan cost keperluan pernikahan, ” kenang Ita.

Ita serta Riyan telah siap menikah yang juga akan di gelar pada 28 Agustus dirumah Riyan, serta 3 September yang akan datang dirumah Ita.

Keduanya telah menyiapkan semua keperluan pernikahan mulai sejak mahar, seserahan, sampai telah cetak sekitaran 1. 500 lembar undangan.

Tetapi, semua usaha untuk peristiwa bahagia di hidup keduanya batal.

Kepergian Riyan seakan pukulan rasa sedih ke-2 sesudah, Nasiah, ibu kandungnya wafat dunia karna sakit dua minggu terlebih dulu.

Dia selalu terasa begitu terpukul serta tidak paham mesti berbuat apa. Bahkan juga pekerjaan akhir kuliahnya, skripsi serta beda sebagainya, sangat terpaksa dilupakannya sesaat ini.

“Pastinya (pelaksanaan skripsi) terganggu mas. Ibu saya wafat, saat ini calon suami, ” ucap Ita yang disebut mahasiswi Fakultas Keguruan, Pendidikan Bhs Indonesia, Kampus Swadaya Gunung Jati (Unswagati).

Walau Riyan telah tak ada, Ita tetap masih serta selalu menjadlin jalinan dengan keluarganya. Dia menolong semua keperluan dirumah termasuk juga tahlilan, serta yang lain.

Disamping itu, Zakaria, ayah kandung Riyan juga terasa begitu kehilangan anak pertamanya. Dia memperbandingkan photo Riyan yang masih tetap fresh bugar, sehat, dengan photo yang barusan pulang saat penganiayaan. Dia terasa begitu tidak terima dengan perlakuan yang dihadapi Riyan.

“Dia ingin menikah, telah siap semuanya, serta nyatanya begini nasibnya. Saya begitu terpukul sekali, bahkan juga bila disebut gak terima, ya tidak terima, hanya ya …, ” ucap Zakaria.

Diakuinya tidak kuasa lihat anaknya hingga tempat tinggal dalam keadaan luka kronis, ibunya juga mulai sejak wafat sampai skarang masih tetap selalu menangis, tuturnya waktu didapati Kamis, (20/7/2017).

Zakaria menuntut keadilan untuk Riyan Hardiyansyah, walau berupaya sudah mengihklaskan kepergian Riyan. “Kalau masalah dunia mesti digerakkan sesuai sama hukum dunia. Bila kematian itu masalah akhirat, ” kata Zakaria.