SHARE
Yusril Ihza Mahendra, pencekalan Setya Novanto oleh KPK bisa digugat ke PTUN.

Pencekalan Setya Novanto oleh Ditjen Imigrasi seperti yang diajukan oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), Senin (10/4/2017) memiliki celah hukum. Pasalnya pencekalan ke luar negeri, sebenarnya hanya berlaku bagi seseorang yang sudah menyandang status sebagai terangka.

Menurut Pakar Hukum Tata Negara, Yusril Ihza Mahendra, sikap DPR yang melayangkan nota protes kepada Presiden Joko Widodo atas status pencegahan Ketua DPR selaku saksi dalam kasus korupsi e-KTP, akan lengkap jika dibarengi gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Yusril menyatakan permintaan pencegahan seorang saksi oleh KPK dibenarkan oleh undang-undang yang dibuat oleh DPR dengan Presiden. Perihal pencekalan itu tercantum pada pasal 13 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang KPK.

Namun Yusril juga mengatakan, pasal pencegahan seorang saksi menurut Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 telah dibatalkan Mahkamah Konstitusi melalui amar putusan Nomor nomor 64/PUU-IX/2011. Dengan demikian, hanya orang yang berstatus tersangka saja yang baru bisa dicekal.

“Masalahnya, Undang-undang KPK yang membolehkan mereka mencekal saksi, masih berlaku dan belum pernah diubah atau dibatalkan oleh MK,” kata Yusril.

“Jadi kalau Novanto keberatan dicekal oleh KPK sedangkan statusnya baru sebagai saksi, maka dia bisa mengajukan uji materi ke MK untuk membatalkan pasal dalam Undang-undang KPK yang membolehkan mencekal seseorang yang baru berstatus saksi,” lanjut dia.

Selain itu, Novanto bisa menempuh langkah hukum lain yakni dengan menggugat KPK ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Hal ini juga berarti untuk menguji apakah keputusan cekal itu beralasan secara hukum atau tidak. Sebabnya, pencegahan itu diminta KPK dengan sebuah Surat Keputusan.

“Sebagai Ketua DPR, Novanto sebaiknya melakukan perlawanan secara sah dan konstitusional dengan menempuh jalur hukum, bukan DPR melakukan protes ke Presiden. Apalagi semua tahu bahwa KPK adalah lembaga independen ,” ucap Yusril.

Baca Juga  Kasus e-KTP Hingga KPK Tetapkan Lima Tersangka, Ini Perjalanannya

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai pencegahan Ketua DPR Setya Novanto ke Luar Negeri oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi melanggar putusan Mahkamah Konstitusi nomor 64/PUU-IX/2011.

Putusan ini membatalkan Pasal 97 ayat 1 Undang-undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian yang memperbolehkan penegak hukum meminta pencegahan kepada Ditjen Imigrasi untuk mencegah seseorang ke luar negeri meski masih dalam proses penyelidikan.

“Dalam Undang-undang imigrasi yang menyatakan dalam penyelidikan boleh dicekal kan dibatalkan MK. Saya kan saksi waktu itu digugat sama Yusril (Ihza Mahendra). Pada saat undang-undang imigrasi dibuat tak boleh ada diskresi yang tak masuk akal,” kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (12/4/2017).

Fahri menambahkan, dengan adanya putusan MK tersebut selaku pertimbangan hukum yang kuat, DPR akan mengirim nota keberatan tersebut kepada Presiden Joko Widodo selaku atasan Menteri Hukum dan HAM yang membawahi Ditjem Imigrasi.

Nota keberatan tersebut saat ini masih dirampungkan oleh Sekretariat Jenderal (Setjen) dan Badan Keahlian (BK) DPR untuk dikaji lebih dalam.