SHARE
Berikut adalah pendapat hukum (legal opinion) dari DR Chairul Huda, SH, MM, Ahli Hukum Pidana/Hukum Acara Pidana Universitas Muhammadiyah Jakarta
“Selama ini sudah terbentuk opini bahwa sudah benar ada kesepakatan antara saudara Muhammad Riza Chalid dengan  saudara Setya Novanto yang menjurus pada perbuatan “memaksa” saudara Maroef Syamsoeddin  “memberikan sesuatu”, maka tidak terdapat
kesalahan sama sekali  (van alle schuld) terhadap yang bersangkutan, dengan alasan sebagai berikut:
a/Bahwa rekaman pembicaraan antara saudara Maroef Syamsoeddin , saudara Muhammad Riza Chalid dan saudara Setya Novanto  yang dilakukan pada tanggal 8 Juni 2015, dibuat oleh saudara Maroef Syamsoeddin  tanpa sepengetahuan atau tanpa izin saudara
Muhammad Riza Chalid dan saudara Setya Novanto.
Perekaman yang demikian itu, merupakan perbuatan  yang bertentang dengan hak saudara Muhammad Riza Chalid  dan saudara Setya Novanto, sehingga dapat  dipandang melawan hukum (unlawfully), yang jika menimbulkan kerugian dapat dipandang sebagai
onrechtmatigedaad, yang dapat digugat secara keperdataan melalui Pengadilan Negeri setempat, sebagaiamana dimaksud dalam Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijke Wetboek).
Intinya, bahwa setiap orang yang melakukan perbuatan karena perbuatan melawan hukum pihak lain, tidak dapat dipersalahkan karena perbuatannya itu.
 
Rekaman pembicaraan antara saudara Maroef Syamsoeddin, sauadara Muhammad Riza Chalid dan saudara Setya Novanto yang dilakukan pada tanggal 8 Juni 2015, dibuat oleh saudara Maroef Syamsoeddin tanpa sepengetahuan atau tanpa izin saudara Mohammad Riza Chalid dan saudara Setya Novanto. Oleh karena itu, perbuatan saudara Maroef Syamsoeddin  merekam secara diam-diam pembicaraannya dengan saudara Mohammad Riza Chalid dan saudara Setya Novanto, merupakan bentuk “penjebakan” atau perangkap (entrapment), sehingga kalaupun dikatakan terjadi kesepakatan-kesepakatan dalam pembicaraan ini, maka hal itu harus dipandang “gugur”, karena tidak ada kesengajaan yang disadari oleh saudara Muhammad Riza Chalid dan saudara Setya Novanto atas hal itu.”