SHARE

JAKARTA – Kebijakan sekolah lima hari dalam satu minggu serta delapan jam dalam satu hari yang di keluarkan Kementerian Pendidikan serta Kebudayaan sekian waktu lalu memperoleh pertentangan dari sebagian instansi Islam.

Mereka memiliki pendapat kebijakan itu dapat mematikan aktivitas siswa dalam pelajari Islam lewat Madrasah Diniyah.

Mebdikbud Muhadjir Effendy menerangkan kalau kebijakan sekolah lima hari cuma juga akan menaikkan jam belajar sejumlah 1 jam 20 menit.

” Untuk sekolah basic jam usai belajar mundur sejumlah itu dari yang awalannya jam 12. 10 WIB, sesaat SMP awalannya 13. 20. Itu masih tetap begitu mungkin saja untuk ikuti Madrasah Diniyah, ” tuturnya di Jakarta, Senin (10/7/2017).

Tetapi Muhadjir menyebutkan belumlah ada keharusan untuk sekolah yang terkait dengan Madrasah Diniyah untuk melakukan kebijakan itu.

” Bila sekolah sesuai sama itu masih tetap kita tahan hingga ada perjanjian dengan Kementerian Agama serta kami masih tetap mencari jenis hubungan kerja sekolah dengan madrasah. Ini jangan pernah terwujud sebelumnya terang polanya, ” tegas Muhadjir.

Muhadjir juga menerangkan sekolah yang mempunyai kaitan dengan Madrasah Diniyah cuma sebesar 20 % dari keseluruhnya sekolah di Indonesia.

” Berarti yang 80 % masih tetap dapat jalan. Dasarnya tidak dipaksakan th. ini, kami selalu kerjakan sosialisasi-sosialisasi serta kelak kita saksikan perubahannya, ” ujarnya.

Baca Juga  Di Hari Pertama Masuk Sekolah Siswa Basuh Kedua Kaki Orang Tua