SHARE
Teguh Juwarno, membantah menerima uang saat menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi II DPR RI.

Meledaknya kasus korupsi e-KTP, membuat banyak pihak gusar. Nama-nama tokoh politisi terseret dalam dakwaan kasus ini. Beberapa nama bahkan sudah mengadukan ke Polisi saat ikut disebut menerima uang haram.

Salah satu adalah Teguh Juwarno. Anggota DPR dari Fraksi PAN (Partai Amanat Nasional) ini juga sudah mengadukan ke polisi saat namanya disebut menerima uang. Namun anehnya, Teguh juga berusaha untuk melempar tanggung jawab. Ia seperti ingin cari selamat sendiri dalam menghadapi kasus ini.

Mantan Wakil Ketua Komisi II DPR RI Teguh Juwarno memang sudah membantah menerima uang terkait proyek e-KTP. Teguh menampik penerimaan uang sebesar 167.000 dollar AS sebagaimana tertera dalam dakwaan.

Padahal salah satu pemberian uang itu dilakukan di ruang kerja anggota Komisi II DPR RI Mustokoweni pada September atau Oktober 2010. Uang itu berasal dari Andi Narogong.

Pemberian uang dilakukan setelah adanya kesepakatan pembagian anggaran e-KTP sebesar Rp 5,9 triliun yang diperuntukan belanja modal atau belanja riil pembiayaan proyek e-KTP sebesar 51 persen atau Rp 2,662 triliun, sementara sisanya dibagi-bagi ke sejumlah pihak, termasuk anggota Komisi II DPR RI dan Badan Anggaran DPR RI.

Pemberian uang itu dimaksudkan agar Komisi II DPR RI dan Banggar menyetujui anggaran untuk proyek pengadaan dan penerapan e-KTP. Namun, ternyata dalam kurun waktu tersebut, Mustokoweni telah meninggal dunia.

“Faktanya, Mustokoweni meninggal 18 Juni 2010. Jadi tidak masuk akal ada pembagian uang di ruangan beliau,” ujar Teguh. “Kami tidak pernah menerimanya yang mulia,”

Lagi-lagi kesaksian Andi Narogong di persidangan nanti akan membuktikan siapa yang lebih benar dan akurat dalam memberikan kesaksian. Jika Andi Narogong seperti halnya saksi lain membantah keterangan itu, bias dikatakan gugatan itu akan gugur.