SHARE

Muhammad Nazaruddin, siapa yang tidak kenal dia sekarang? Sebelum masuk dalam kancah dunia politik Indonesia, orang banyak yang tidak tahu siapa dia.

Pria kelahiran Simalungun, Sumatera Utara pada 26 Agustus 1978 tersebut adalah mantan Bendahara Partai Demokrat dan sekaligus mantan Anggota DPR RI yang sedang menjadi whistle blower kasus E-KTP Kemendagri.

Status saksi dalam kasus E-KTP Kemendagri disandangnya bersamaan dengan status terdakwa dari kasus yang lain. Sebuah hal yang dimungkinkan dalam sebuah proses peradilan.

Sebagai terdakwa, politisi sekaligus pengusaha yang menurut data Laporan Harta Kejayaan Penyelenggara Negara Komisi Pemberantasan Korupsi (LHKPN KPK) pada tahun 2010 mempunyai kekayaan 150 milyar rupiah itu, tersandung dua kasus.

Pertama, kasus korupsi wisma atlet Hambalang, yang melibatkan dirinya, Neneng Sri Wahyuni (istrinya), Andi Mallarangeng (mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga), Anas Urbaningrum (mantan Ketua Umum Partai Demokrat), Angelina Sondakh (mantan Anggota DPR RI dari Partai Demokrat), Wafid Muharam (mantan Sekretaris Menpora), Mohammad El Idris (pejabat perusahaan rekanan, PT Duta Graha Indah), dan Mindo Rosalina Manulang (Sekretaris Nazaruddin).

Pada 20 April 2012, Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan pidana 4 tahun 10 bulan dan denda Rp 200 juta kepada Nazaruddin.

Nazaruddin alami stres kronis karena dua kasus, Hambalang dan pencucian uang, sehingga terganggu dalam mengingat nama atau arah. (Foto: Istimewa)
Nazaruddin alami stres kronis karena dua kasus, Hambalang dan pencucian uang, sehingga terganggu dalam mengingat nama atau arah. (Foto: Istimewa)

Kemudian Mahkamah Agung memperberat hukuman Nazaruddin, dari 4 tahun 10 bulan menjadi 7 tahun penjara. MA juga menambah hukuman denda untuk Nazaruddin dari Rp 200 juta menjadi Rp 300 juta.

Kedua, kasus gratifikasi dan pencucian uang, dimana pada 15 Juni 2016, Majelis Hakim pada Pengadilan Tipikor Jakarta menjatuhkan vonis 6 tahun penjara terhadap Nazaruddin. Nazarrudin juga diwajibkan membayar denda sebesar Rp 1 miliar subsider 1 tahun kurungan.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Muhammad Nazaruddin terbukti sah dan meyakinkan melakukan korupsi dan pencucian uang, sebagaimana dakwaan kesatu primer, dakwaan kedua, dan ketiga,” ujar Ketua Majelis Hakim Ibnu Basuki di Pengadilan Tipikor Jakarta.

Baca Juga  Ini Kata KPK Soal Kebocoran BAP Dll

Dari dua kasus tersebut di atas, Nazaruddin harus menjalani hukuman secara akumulatif, seperti yang dikatakan oleh Jaksa KPK Kresno Anto Wibowo.

Dengan demikian, setelah Nazaruddin selesai menjalani 7 tahun penjara, ia akan melanjutkan menjalani pidana penjara selama 6 tahun berikutnya. Diperkirakan dia bebas pada tahun 2025.

Melihat akumulasi hukuman yang harus dijalaninya, pesakitan yang tertangkap di Cartagena de Indias, Kolombia tersebut, bukan tidak mungkin mengalami stres kronis yang sedemikian berat, selain juga dikarenakan adanya faktor merasa dibiarkan dan ditinggalkan oleh Partai Demokrat yang menaunginya.

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa stres kronis dapat membuat seseorang menjadi mudah lupa. Hal ini terjadi seperti yang diungkapkan oleh Bruce McEwen, PhD, Kepala Laboratorium Neuro-Endocrinology Rockefeller University di New York, yang mengatakan bahwa stres kronis dapat mengubah struktur sel saraf yang terhubung dengan otak, sehingga menyebabkan seseorang menjadi sering lupa atau gangguan dalam mengingat nama atau arah.

Kembali kepada kasus E-KTP Kemendagri, keputusan KPK yang menjadikan Nazaruddin sebagai justice collaborator sepertinya perlu ditinjau ulang, atau seandainya secara legal administratif hal tersebut tidak bisa dimungkinkan, minimal yang bersangkutan selalu didampingi psikolog untuk membantu dan memandu dalam setiap kesaksiannya.

Bukan tidak mungkin nama-nama yang disebutkan Nazaruddin dalam kasus E-KTP Kemendagri merupakan nama yang asal sebut. Yang bersangkutan menganggap apa yang diucapkan adalah sebuah kebenaran, padahal semua hanya efek dari gangguan dalam mengingat nama.

Apa jadinya bila terbukti bahwa di Indonesia pernah terjadi sebuah proses peradilan yang ternyata hanya berdasarkan atas laporan dan kesaksian seseorang yang mengalami stres kronis?