SHARE

” Bukanlah Saya, namun Indonesia ” berikut sebagai topik acara Srawung Anak Bangsa DIY 2017.

Acara Srawung Anak Bangsa ini dikemas berbentuk pentas serta kerjasama seni lintas iman, suku serta budaya.

Uniknya, dalam acara Srawung Anak Bangsa ini juga akan ada kerjasama beberapa tokoh agama lintas iman menyanyikan lagu berjudul ” Damai dalam Cinta “. Lagu yang di ciptakan oleh Yunan Helmi ini sekalian juga akan di luncurkan pada acara Srawung Anak Bangsa.

” Acara Srawung Anak Bangsa DIY 2017 ini juga akan dikerjakan di Plaza Ngasem pada 23 Juli 2017, ” tutur Romo Aloys Budi Purnomo Pr, penggagas Acara Srawung Anak Bangsa DIY 2017, Selasa (18/7/2017).

Kata Srawung datang dari bhs Jawa yang berarti bergaul. Anak bangsa yaitu masyarakat negeri, penerus serta keinginan bangsa yang juga akan melanjutkan perjuangan bangsa, melindungi kesatuan serta persatuan NKRI.

Beberapa anak bangsa yang datang dari beragam latar belakang Suku, agama, serta budaya yang berlainan menyatu dalam atap Indonesia.

” Srawung dari kata bergaul, bersua tanpa ada pandang ketidaksamaan. Kita terima keduanya dengan tangan terbuka serta riang senang, jadi ekspresinya budaya dan kesenian, ” katanya.

Srawung Anak Bangsa adalah arena pertemuan, anak-anak bangsa dari beragam latar belakang. Arena ini untuk buka dialog, mengikis ketidaksamaan, merajut persaudaraan serta perdamaian.

” Warna budaya, warna seni jadi media bergaul dalam cinta serta persaudaraan. Jadi bukanlah sekedar hanya diskusikan, bukanlah teori yang dibicarakan namun tetapi jadi praksis keberagaman, ” tegasnya.

Bangsa Indonesia, lanjut dia, tengah diwarnai ujaran-ujaran kebencian yang demikian masif serta gampang dibuka di sosial media. Akan tetapi, ujaran itu tidaklah perlu dibalas dengan hal yang sama.

” Kami tidak ingin membalas ujaran kebencian dengan ujaran kebencian. Prinsip kita tambah baik menyalakan lilin sekecil apa pun di dalam kegelapan daripada mengutuki kegelapan tersebut, jadi kami ekspresikan dengan Srawung, ” tegasnya.

Dia menerangkan, persatuan serta perdamaian dapat diraih dengan langkah awal ingin sama-sama mengetahui. Tetapi perubahan zaman sering membuat gagap serta manusia relatif terikut arus hingga manusia jadi sosok yang individualis.

Budaya serta kultur Indonesia yang berbentuk komunal makin tergerus karna banyak sikap individualis.

” Dalam konteks ke Indonesiaan, telah semestinya singkirkan ego, nafsu juga akan saya, saya, saya. Namun mesti melampaui itu saya, kamu serta kita jadi Indonesia, hingga topik yang di ambil Bukanlah Saya, namun Indonesia, ” katanya.

Lagu ” Damai dalam Cinta ” dinyanyikan 7 pemuka lintas Iman.

Srawung Anak Bangsa tunjukkan keberagaman lewat beragam pertunjukan serta kerjasama musik dan seni budaya. Semua ketidaksamaan yang ada diharmonisasikan lewat musik. Sebab musik adalah bhs universal.

” Musik jadi bentuk mengemukakan perasaan, kondisi serta kondisi yang digambarkan dengan imajinatif dengan satu kesesuaian serta perekat satu kesatuan dan kebersamaan, ” ucap Yunan Helmi, Ketua Srawung Anak Bangsa DIY 2017.

Menurutnya, paling tidak ada 20 tampilan, baik group ataupun individu dari beragam latar belakang yang juga akan berperan serta dalam acara ” Srawung Anak Bangsa ” di Plaza Ngasem, Kota Yogyakarta.

Beberapa tampilan yang telah tercatat yaitu Kerjasama Artis Lintas Agama, Jogja Voice United, Rockstar Ideology, Tari Sufi, Tari Jawa, Tari Dayak, Tari Papua, Tari Manggarai, Tari Dero serta Gaza, Jathilan, Karawitan, Gabungan Nada Papua, Suara Bicara, Pujakustik, Musik Akustik PMHD Banguntapan, Siter Seruling Kecapi, Allsize (group vokal), Lagu serta Puisi Kebangsaan.

Helmi mengemukakan, di acara ” Srawung Anak Bangsa ” akan di luncurkan audio-video lagu berjudul ” Damai dalam Cinta ” yang diciptakannya.

” Lagu Damai dalam Cinta ini mengangkat topik pluralisme, perdamian serta kebangsaan, ” katanya.

Jadi mengagumkan serta unik, lagu ” Damai dalam Cinta ” ini dinyanyikan oleh beberapa tokoh lintas agama. Beberapa tokoh agama lintas iman yang bekerjasama menyanyikan lagu ” Damai dalam Cinta ” yaitu Cucu dari Konghucu, Totok dari Agama Budha, Bib Chirzin dari Agama Islam, Ki Demang dari Sunda Wiwitan, Romo Aloys Budi Purnomo Pr dari Agama Katolik, Indrianto dari Agama Kristen serta Bagus Kusuma dari Agama Hindu.