SHARE

Para pengemplang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) masih berkeliaran. Sebagian besar merasa aman-aman saja menghirup udara kebebasannya di tanah air. Sebagian lagi mendekam di sejumlah negara, seperti Singapura, diantaranya Syamsul Nursalim atau Liem Tjoen Ho.

Liem Tjoen Ho  ini termasuk pemangsa BLBI yang paling kebal hukum. Tak bisa disalahkan kalau masyarakat apatis kalau Komisi Pemberantasan Korupsi bisa memerangkapnya, mengingat tingkat kelicinannya mungkin melebihi belut.

Mengharapkan Liem Tjoen Ho bisa bersikap kooperatif dengan langsung pulang dan bahkan datang secara sukarela ke kantor KPK, mungkin ibarat mimpi di siang bolong. Atau fatamorgana.

salim3

Liem Tjoen Ho tentu tidak bodoh. Ia pasti berpikir KPK tidak sekadar akan memeriksanya, namun bisa jadi langsung menetapkannya sebagai tersangka besar kemungkinan segera menjebloskannya ke penjara, seperti nasib yang menimpa Syarifuddin Arsyad Tumenggung, mantan kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

KPK saat ini masih bersikap serius dalam membuka kembali kasus BLBI yang sudah berusia hampir 20 tahun, terhitung sejak BLBI dikucurkan pada 1997 pasca krisis moneter (krismon) di tanah air.

Pengungkapan kasus BLBI memang ditunggu-tunggu oleh masyarakat, melebihi ekspektasi pada kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri yang masih berproses di PN Tipikor Jakarta.

Penetapan tersangka untuk Syarifuddin Arsyad Tumenggung diharapkan menjadi pintu masuk untuk memerangkap pengemplang dana BLBI lainnya, termasuk Liem Tjoen Ho  ini.

Pengungkapan kasus BLBI sebenarnya sudah dilakukan jauh sebelum KPK dibentuk pada 2002. Masih ada elemen penegak yang memiliki hati nurani untuk menyeret pengemplang BLBI ke meja hijau.

Baharuddin Lopa adalah salah satunya. Lopa, yang pernah menjadi jaksa agung dan kemudian menteri kehakiman, menjadi musuh besar para koruptor. Lopa juga memburu para pengemplang BLBI. Lopa sangat faham, triliunan rupiah uang negara telah diloloskan oleh oknum-oknum penegak hukum, yang membantu para pengemplang BLBI seperti Sjamsul Nursalim, Prajogo Pangestu dan Marimutu Sinivasan.

Baca Juga  Agus Rahardjo Mulai Berani Tabrak PDIP

salim2

Banyak kemudian yang menyesalkan mengapa Presiden Gus Dur memberikan penangguhan pemeriksaan kepada ketiga taipan itu.

Di bulan April 16 tahun silam, tepatnya 16 April 2001, Sjamsul Nursalim sebenarnya sempat digelandang ke rumah tahanan Kejaksaan Agung. Liem Tjoen Ho ditahan karena dikhawatirkan melarikan diri.

Namun, berkat kelihaian Maqdir Ismail yang menjadi pengacaranya, penahanan Liem Tjoen Ho bisa ditangguhkan. Taipan pemilik BDNI dan Gajah Tunggal itu mengalasankan dirinya menderita sakit penyempitan pada pembuluh darah, sehingga Maqdir Ismail ngotot mengajukan pembantaran atau penangguhan tahanan tanpa mengurangi masa tahanan.

Liem Tjoen Ho adalah salah satu konglomerat yang dibesarkan oleh Soeharto. Hingga saat ini bagaimanapun juga ia tetap menjadi fenomena dalam konglomerasi di Indonesia, apalagi gurita bisnisnya masih solid.

gungli

Seperti kebanyakan konglomerat keturunan lainnya Liem Tjoen Ho juga dinilai sangat piawai bermain dengan pusat kekuasaan.

Mungkin oleh karena itu juga sampai sekarang ia bisa leyeh-leyeh di Singapura, seakan sama sekali tak terusik oleh upaya pengungkapan kembali kasus SKL BLBI oleh KPK.

Padahal, ketika pada 16 April 2001 itu digelandang ke rumah tahanan kejaksaan agung, tak sedikit dari lawan-lawan bisnisnya yang mensyukurinya dan menyebut Liem Tjoen Ho akan menghitung sisa hari-harinya di balik jeruji Rutan Kejagung. Selama ini, mungkin ia lupa bahwa roda kehidupan selalu berputar. Suka tak suka, mau tak mau, Liem Tjoen Ho kini harus berada di bawah.

Pada kenyataannya Liem Tjoen Ho tak pernah benar-benar berada di bawah. Dia memang licin, melebihi belut.