SHARE

KPK (komisi Pemberantasan Korupsi) kembali mengada-ada. Komisi antirasuah itu menuduh anggota DPR RI mempengaruhi anggota DPR lainnya agar mencabut keterangannya di pengadilan Tindak Pindana Korupsi (tipikor), Jakarta, Kamis (23/3/2017).

Mereka menuding sejumlah anggota dewan telah menekan Miryam S.Haryani agar politisi dari Partai Hanura itu mencabut semua keterangannya dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Tuduhan KPK itu sama sekali tidak disertai bukti apa pun yang memperkuat tudingan mereka alias mengada-ada.

Lebih heboh lagi, KPK langsung menggunakan kewenangannya untuk menuduh anggota DPR menghambat penyelidikan. Hal ini jelas ramai-ramai dibantah oleh anggota DPR lainnya.

Pimpinan KPK, berharap bisa menjerat pasal pidana pihak-pihak yang menekan saksi agar memberikan pengakuan berbeda di persidangan. Menurut Wakil Ketua KPK,  Alexander Marwata, seseorang yang menekan atau mengancam Miryam dianggap menghalangi penyidikan.

alexis
Alexander Marwata

“Sangat bisa (dianggap menghalangi penyidikan). Yang memerintahkan dengan ancaman kepada saksi untuk memberikan keterangan tidak benar terancam pasal menghalangi, merintangi penyidikan, penuntutan, dan persidangan,” kata Alex.

Menurut pimpinan KPK, Miryam S. Haryani ditekan sejumlah anggota dewan agar mantan anggota Komisi II DPR  membantah semua tuduhan aliran uang korupsi e-KTP ke Senayan.

 Miryam disebut-sebut sempat dipanggil beberapa koleganya sebelum pemeriksaan pada saat penyidikan.
yani
Miryam S Haryani, dalam persidangan KPK

Saat bersaksi dalam sidang korupsi e-KTP Kamis lalu, Miryam memang mencabut semua keterangannya dalam berita acara pemeriksaan. Di persidangan, Miryam mengaku mendapat tekanan dan ancaman selama diperiksa oleh penyidik KPK.

Sebaliknya KPK menilai alasan Miryam mencabut BAP-nya tidak logis. Sebab, dalam tiga kali pemeriksaan, Miryam sama sekali tak mengubah keterangan. Bahkan, Miryam sempat menambahkan keterangan lebih detail.

Apa yang terjadi di persidangan inilah yang seharusnya diterima oleh para hakim, karena keterangan di pengadilan adalah di bawah sumpah, sementara keterangan yang dilakukan saat diperiksa KPK, seseorang secara psikologis telah ditekan sehingga lebih banyak mengikuti kemauan para pihak yang menekan tersebut.

Baca Juga  Farhat Abbas Diperiksa Besok di KPK Untuk Tersangka Miryam S Haryani