SHARE

Bandung – Bukanlah hal yang baru bila banyak warga yang mengeluhkan service taksi Bandara Husein Sastranegara Bandung. Mahalnya tarif ditambah buruknya service jadi sorotan. Satu diantaranya seperti yang dihadapi Irvan Kurniawan.

Lewat akun Facebooknya, Ivan Kurniawan mencurahkan pengalamannya itu. Dia menyoroti mengenai buruknya service yang didapatkan taksi bandara. Praktek monopoli berlangsung. Karna cuma taksi Primkop-AU yang cuma bisa masuk serta ambil penumpang di sekitaran ruang bandara.

Sesaat taksi dari perusahaan beda tidak diijinkan ambil penumpang bahkan juga masuk kedalam ruang bandara. Hal semacam ini pastinya tidak jadi masalah apabila service yang didapatkan baik serta memuaskan. Tetapi apa yang dihadapi Irvan tidak mencerminkan hal tersebut.

Waktu itu, Irvan mengakui baru pulang dari luar kota. Dengan bawaan yang cukup banyak dia memerlukan taksi atau kendaraan yang dapat mengantarnya pulang ke tempat tinggalnya di daerah Padasuka, Kota Bandung. Pernah terbersit dibenaknya untuk pesan taksi onilne.

Dia ajukan pertanyaan ke satu diantara petugas keamanan bandara bertanya apakah bisa taksi on-line masuk ke ruang bandara. Namun, tuturnya, tidak bisa tanpa ada menerangkan argumennya.

” Dengan jingjingan delapan buah kelihatannya mustahil digeret jalan keluar, the only option ya itu (gunakan taksi bandara), ” tulisnya, Senin (3/7) kemarin.

Dia segera mendatangi counter pemesanan taksi. Lalu dia memperoleh ticket. Didalam ticket itu tercantum maksud serta tarif yang perlu dibayarkan. Dari Bandara Husein ke Padasuka dikenai tarif Rp100 ribu. Angka itu dinilai Irvan cukup mahal.

Walau sebenarnya apabila memakai layanan taksi on-line tarifnya tidak menjangkau Rp 100 ribu. Untuk Uber dengan rute yang sama Rp 50. 500, Grab Rp 55. 000, Go-car Rp 55. 000.
” Bila pakai Blue Bird juga saya percaya gak juga akan Rp100 ribu, ” katanya.

Baca Juga  Demi Persib Endeh Nekat Bawa Dua Anaknya Naik Motor Dari Purwakarta Ke Bandung

Dengan sangat terpaksa dia tetaplah pilih taksi bandara. Kemudian dia segera mendatangi tempat berkumpulnya taksi untuk memperoleh nomor antrean serta sopir taksi yang juga akan mengantarnya. Dia lalu memohon taksinya itu untuk menjemput dimuka ruang pintu kehadiran.

Tetapi bebrapa sekali lagi dia dikecewakan, karna sopir taksinya menampik. Bahkan juga dia disuruh untuk membawa barang bawaannya tersebut. ” Kirain dapat atau ditawarin bantu angkatin. Yowis saya bulak balik nyebrang mindahin barang-barangnya (sendiri), ” ucapnya.

Dia meneruskan, diperjalanan dari pintu keluar kehadiran sampai ruang drop off ada lima orang yang tawarkan layanan taksi. Irvan tidak ketahui apakah beberapa orang itu adalah sopir taksi bandara atau bukanlah.

” Selalu bila non taksi bandara tidak bisa ambillah penumpang selalu mereka siapa? Jelas-jelas nongkrong nawarin taksi dari depan pintu kehadiran, ” katanya.

Lepas dari semuanya, Irvan terasa tidak memperoleh service yang memuaskan. Mahalnya tarif ditambah service yang kurang baik pasti juga akan beresiko pada usaha yang mereka lakukan.

” So pemilihan tarif yang memukau tetapi tidak dibarengi support service yang setara, telah pasti ini begitu merugikan customer. Di masa kek gini, tinggal tunggulah saat saja apakah juga akan survive atau tidak, ” tandasnya.

Irvan bukanlah hanya satu orang yang mengeluhkan tarif taksi bandara yang berada di Jalan Padjadjaran itu. Th. 2016 lantas, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil juga telah banyak terima yang dirasakan dari warga. Ia juga berjanji juga akan mencari jalan keluar. Tetapi sampai sekarang ini monopoli taksi di Bandara Husein Sastranegara masih tetap berlangsung.

” Saya telah baca (yang dirasakan warga), kan satu-satu yah. Bandaranya telah. Nah selanjutnya, itu telah dirapatkan sesungguhnya. Telah rapat pada Dishub, Angkasa Pura serta TNI AU, ” tutur Emil, sapaan karib Ridwan Kamil di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Senin (11/4/2016) kemarin.