SHARE

Warga negara asing (WNA) asal Korea Selatan yang telah lama tinggal di Indonesia, terjaring operasi yustisi yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi di Terminal Induk Kota Bekasi pada Senin, (10/7/2017).

” Akhirnya (operasi) dari yustisi terjaring 66 warga kita serta 1 orang warga asing yakni warga negara Korea Selatan, yg tidak membawa KTP, ” tutur Kepala Bagian Service Pendaftaran Masyarakat, Dinas Kependudukan serta Catatan Sipil (Disdukcapil), Nardi waktu diwawancarai selesai operasi yustisi di Terminal Induk Kota Bekasi, Senin (10/7/2017).

Warga asal Korea Selatan bernama Maenc Rea Ko (68) mengakui berada tinggal di daerah Ciangsana, Cibubur, Kabupaten Bogor.

” Saya tinggal di Ciangsana, Cibubur. Saya telah lama tinggal di Indonesia, telah 25 th., serta 20 tahun-nya tinggal di Bekasi, ” tutur Maenc waktu didapati.

Sepanjang di Indonesia, Maenc mengakui turut tinggal dengan suaminya yang disebut Warga Negara Indonesia (WNI).

Waktu terjaring operasi yustisi, Maenc mengakui telah mempunyai Kartu Tanda Masyarakat (KTP), tetapi ia tidak membawa kartu jati diri atau bahkan juga dia juga tidak membawa Surat Info Pendaftaran Masyarakat Sesaat (SKPPS).

” Namun tidak dibawa hari ini, namun saya ada surat kuning serta saya miliki KTP Indonesia, ” kata Maenc.

Lantas, waktu Maenc di bawa ke posko oleh petugas, ia juga disuruh untuk menghubungi keluarga. Walau demikian, Maenc mengakui keluarganya jauh dari Terminal Induk Kota Bekasi.

Kemudian Maenc dipakai denda sebesar Rp 100. 000 karna tidak membawa kartu jati diri.

” Denda yang dipakai bila Warga Negara Indonesia (WNI) sebesar Rp 29. 000 serta Rp 1. 000 untuk cost perkara. Bila untuk Warga Negara Asing (WNA) dipakai denda sebesar Rp 100. 000, ” kata Nardi.

Menurut Nardi, tiap-tiap warga terutama warga Kota Bekasi diharuskan untuk membawa kartu jati diri atau Kartu Tanda Masyarakat (KTP) setiap saat meninggalkan tempat tinggal.