NASIONALISME.NET, Jakarta — Perkembangan teknologi digital telah mengubah wajah pendidikan secara drastis, mulai dari metode mengajar guru, pola belajar siswa, hingga sistem manajemen sekolah. Transformasi ini tidak hanya menghadirkan peluang besar, tetapi juga menuntut kesiapan kompetensi guru dan kapasitas manajemen pendidikan yang lebih adaptif.
Data yang dirilis oleh Kemendikbudristek tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 62% guru di Indonesia masih berada pada level dasar literasi digital, sementara UNESCO (2023) mencatat hanya 40% guru di Asia Tenggara yang merasa siap memanfaatkan teknologi digital dalam proses pembelajaran. Kondisi ini memperlihatkan jarak yang cukup besar antara tuntutan era digital dengan kompetensi yang dimiliki sebagian besar guru, sehingga peran manajemen pendidikan menjadi semakin krusial.
Di Indonesia, tantangan utama tidak hanya terletak pada kompetensi guru, tetapi juga pada kesiapan infrastruktur. Laporan APJII (2023) menunjukkan bahwa koneksi internet stabil hanya tersedia pada sekitar 48% sekolah di wilayah 3T, yang secara langsung menghambat implementasi pembelajaran digital.
Di sisi lain, penelitian World Bank (2023) menemukan bahwa sekolah yang menerapkan Learning Management System (LMS) secara teratur mengalami peningkatan efektivitas pembelajaran sebesar 28%, menandakan bahwa digitalisasi sebenarnya menawarkan potensi signifikan jika dikelola dengan baik.
Contoh nyata dapat dilihat pada beberapa sekolah yang telah menjalankan transformasi digital secara komprehensif. Sebagai ilustrasi, sebuah sekolah menengah di Jakarta Selatan menerapkan LMS sebagai pusat aktivitas belajar. Guru tidak hanya mengunggah materi, tetapi juga memberikan umpan balik langsung, melakukan penilaian berbasis data, serta memanfaatkan fitur analitik untuk memantau perkembangan siswa.
Hasilnya, keterlibatan siswa meningkat hingga 35% dan guru menjadi lebih terarah dalam melakukan evaluasi pembelajaran. Kasus ini membuktikan bahwa digitalisasi yang dikelola dengan baik dapat memperkuat efektivitas manajemen kelas.
Konsep Manajemen Pendidikan.
Manajemen pendidikan adalah cara mengatur dan mengelola sumber daya pendidikan seperti manusia, teknologi, dan kebijakan agar bisa mencapai tujuan pendidikan dengan baik dan hemat (Mulyasa, 2012). Kepala sekolah bertindak sebagai manajer yang mengatur kurikulum, guru, teknologi, dan budaya sekolah agar semua bisa bekerja sama dan lancar.
Kinerja guru adalah kemampuan guru dalam melakukan tugasnya sebagai pendidik. Kemampuan ini mencakup pedagogi, profesional, sosial, dan kepribadian (Permendiknas No. 16/2007). Berbagai hal seperti kompetensi, semangat kerja, kepemimpinan kepala sekolah, fasilitas, dan pelatihan berpengaruh terhadap kinerja guru (Sagala, 2020).
Era digital adalah masa di mana terjadi perubahan besar terhadap cara belajar dan mengajar. Perubahan ini mencakup penggunaan data, pembelajaran jarak jauh, teknologi informasi, dan komunikasi virtual. Guru diharapkan bisa menggunakan teknologi seperti Google Classroom, Moodle, video conference, dan aplikasi kecerdasan buatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran (World Bank, 2023). Meski digitalisasi memberi peluang besar, tetapi juga menyebabkan tantangan seperti kurangnya kemampuan digital, ketimpangan akses teknologi, dan kesulitan menerima perubahan.
Pendekatan dan Jenis Penelitian.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menggambarkan cara sekolah membangun strategi manajemen pendidikan dalam proses transformasi digital. Pendekatan ini diambil berdasarkan referensi Creswell (2014). Subjek yang diteliti adalah sekolah-sekolah yang sudah menerapkan sistem manajemen pembelajaran online (LMS) dan memberikan pelatihan keterampilan digital bagi para guru.
Cara mengumpulkan data meliputi pengamatan langsung di lapangan, wawancara dengan kepala sekolah dan guru, pengumpulan dokumen program sekolah, serta kuesioner untuk menilai kemampuan digital guru. Data dianalisis dengan metode yang dikembangkan oleh Miles & Huberman (1994), yaitu melalui proses reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil dan Pembahasan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah yang memiliki perencanaan pengembangan SDM yang terstruktur, seperti pelatihan literasi digital, workshop LMS, dan bantuan teknis, lebih siap menghadapi perubahan. Hal ini sesuai dengan rekomendasi UNESCO (2023) bahwa pengembangan kapasitas guru adalah pilar utama dalam transformasi pendidikan digital.
Pelatihan yang berkelanjutan terbukti meningkatkan kemampuan guru dalam membuat materi digital, menggunakan video pembelajaran, memberi umpan balik melalui LMS, serta melakukan penilaian teknologi. Menurut World Bank (2023), model pelatihan yang berbasis coaching dan komunitas praktisi lebih efektif dibandingkan pelatihan yang hanya sekali dilakukan.
Guru mulai menggunakan media interaktif, video, dan metode blended learning. Selain itu, kolaborasi melalui komunitas belajar digital (PLC) meningkatkan pembagian pengalaman dan praktik baik di antara para guru (Hapsari, 2021).
Peningkatan kompetensi digital: Guru mampu menggunakan teknologi sebagai bagian dari cara mengajar, bukan sekadar alat tambahan. Peningkatan kreativitas dan efektivitas pembelajaran: Siswa lebih aktif dengan metode interaktif, kuis digital, dan multimedia. Budaya kerja adaptif dan kolaboratif: Guru lebih terbuka terhadap perubahan dan inovasi.
Simpulan dan Rekomendasi.
Manajemen pendidikan sangat penting dalam meningkatkan kemampuan guru di era digital. Strategi yang baik meliputi pembelajaran berbasis teknologi, pengembangan keterampilan digital guru, serta peningkatan sistem manajemen sekolah yang fleksibel. Ketika manajemen pendidikan mampu menggabungkan teknologi dalam seluruh proses pembelajaran, kinerja guru meningkat, dan kualitas pembelajaran menjadi lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di abad ke-21.
Sekolah harus memperkuat penggunaan teknologi dalam manajemen pendidikan, mulai dari perencanaan hingga penilaian. Pemerintah dan lembaga terkait perlu memperluas pelatihan digital bagi guru secara terus-menerus.
Tantangan dan Permasalahan
Namun, tidak semua guru mampu beradaptasi dengan cepat. Banyak guru senior yang kesulitan menggunakan perangkat digital, sehingga muncul resistensi internal. Ketidakmampuan tersebut bukan semata-mata karena kurangnya kemauan, tetapi karena beberapa faktor, seperti kurangnya pelatihan berkelanjutan, minimnya pendampingan teknis, dan tidak adanya budaya digital yang kuat. Manajemen pendidikan harus bekerja lebih keras untuk menciptakan lingkungan yang mendukung perubahan tersebut. Misalnya, program pelatihan satu kali jelas tidak cukup. Guru membutuhkan proses pendampingan yang berkelanjutan, berbasis coaching, komunitas praktisi, serta supervisi akademik yang humanis.
Di banyak sekolah, program digitalisasi seringkali hanya terpusat pada penyediaan perangkat, tanpa adanya rencana keberlanjutan yang menyeluruh. Padahal penelitian World Bank (2023) menegaskan bahwa teknologi tanpa strategi manajemen yang matang hanya akan menjadi alat yang tidak digunakan. Dalam konteks ini, manajemen pendidikan memainkan peran sebagai penggerak perubahan, bukan sekadar penyedia fasilitas. Kepala sekolah harus mampu memimpin proses transformasi digital dengan melibatkan guru, tenaga kependidikan, dan siswa dalam satu visi yang sama.
Argumentasi penting lainnya adalah bahwa digitalisasi bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan nyata dalam sistem pendidikan abad ke-21. Dunia kerja kini menuntut literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kolaborasi virtual, dan pemanfaatan data. Jika guru tidak mampu mengikuti perkembangan ini, maka siswa akan tertinggal. Dengan demikian, manajemen pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai pengatur, tetapi sebagai fasilitator pengembangan kompetensi yang relevan. Tanpa kemampuan manajemen yang responsif, guru akan kesulitan mengintegrasikan teknologi ke dalam pedagogi, yang pada akhirnya menghambat kualitas pembelajaran.
Solusi dan Inovasi Manajemen Pendidikan
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan inovasi manajemen pendidikan yang lebih progresif. Salah satu solusi adalah menciptakan digital learning ecosystem di sekolah. Ekosistem ini mencakup pelatihan berkelanjutan, penyediaan perangkat dan jaringan stabil, dukungan teknis harian, serta sistem evaluasi berbasis teknologi. Dengan adanya ekosistem seperti ini, guru tidak merasa sendirian dalam menghadapi perubahan teknologi.
Selain itu, sekolah dapat menerapkan AI-assisted teaching tools seperti aplikasi koreksi otomatis, analisis nilai, hingga chatbot edukasi sebagai pendamping siswa. Inovasi ini telah digunakan di berbagai negara dan terbukti mampu meningkatkan efisiensi kerja guru sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih personal bagi siswa.
Solusi lain yang dapat diterapkan adalah menciptakan Digital Peer Coaching, yaitu program mentoring antar guru dalam penggunaan teknologi digital. Guru yang lebih mahir dapat membimbing rekan sejawatnya sehingga proses peningkatan kompetensi menjadi lebih cepat dan tidak kaku. Pendekatan ini efektif karena bersifat kolaboratif dan lebih mudah diterima oleh guru senior yang sering kali merasa sungkan mengikuti pelatihan formal.
Manajemen pendidikan juga perlu mengembangkan sistem penilaian kinerja guru berbasis teknologi. Misalnya, penggunaan dashboard monitoring yang mencatat aktivitas pembelajaran guru, frekuensi penggunaan LMS, kualitas materi digital, serta keterlibatan siswa dalam kelas. Data ini kemudian dapat menjadi acuan dalam program pembinaan atau penghargaan. Sekolah yang berhasil menerapkan sistem seperti ini biasanya mengalami peningkatan disiplin, kreativitas, dan profesionalitas guru.
Selain itu, perlu dukungan pemerintah dan lembaga terkait untuk meningkatkan literasi digital melalui program nasional yang terstruktur. Kebijakan penguatan infrastruktur digital harus menjadi prioritas utama, terutama di daerah terpencil. Tanpa akses internet yang memadai, seluruh strategi digitalisasi tidak akan berjalan efektif.
Penutup
Berdasarkan berbagai data, fakta, dan analisis di atas, jelas bahwa manajemen pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam meningkatkan kinerja guru di era digital. Tantangan besar memang ada, mulai dari kompetensi guru yang tidak merata, infrastruktur yang belum memadai, hingga resistensi terhadap perubahan. Namun, dengan strategi manajemen yang tepat, berbasis inovasi, kolaborasi, dan penguatan kapasitas digital, pendidikan Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih adaptif, efektif, dan relevan.
Pada akhirnya, transformasi digital bukan sekadar penggunaan teknologi, tetapi perubahan budaya kerja, cara berpikir, dan sistem manajemen yang lebih terbuka terhadap inovasi. Jika guru dibina, difasilitasi, dan didukung dengan baik, maka kinerja mereka akan meningkat secara signifikan. Dengan demikian, pendidikan Indonesia akan mampu bersaing di tengah percepatan perubahan global yang semakin kompleks.

Penulis: Muhammad Raihan Pasha, Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Prodi Manajemen Pendidikan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta











