Menjembatani Kesenjangan Budaya dan Pendidikan Melalui Pengajaran Kontekstual

Avatar photo
Seorang anak laki-laki dengan pakaian rapi tampak berdiri di depan papan tulis.

NASIONALISME.NET, Yogyakarta — Di tengah dinamika globalisasi dan pluralisme budaya, dunia pendidikan menghadapi tantangan baru: bagaimana menyatukan beragam latar budaya siswa tanpa mengabaikan identitas masing-masing. Perubahan sosial dan mobilitas yang semakin tinggi nyatanya menempatkan sistem pendidikan kita pada persimpangan antara standar kurikulum nasional dengan kebutuhan kontekstual masyarakat lokal.

Kesenjangan antara budaya dan Pendidikan formal merupakan tantangan signifikan dalam system Pendidikan, terutama di negara multicultural seperti Indonesia. Ketika materi pelajaran terasa asing atau tidak relevan dengan realitas kehidupan siswa, motivasi belajar mereka cenderung menurun, dan kesenjangan pembelajaran pun melebar.

Pengajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah pendekatan yang meghubungkan materi pelajaran dengan dunia nyata siswa, membantu mereka menemukan makna dan menerapkannya secara aktif. Oleh karena itu, pengajaran yang kontekstual sangat penting sebagai jembatan yang menghubungkan dunia sekolah dengan dunia nyata siswa, memastikan Pendidikan menjadi bermakna dan inklusif bagi semua kalangan.

Kesenjangan ini tudak hanya ekonomi tapi juga kognitif, dimana siswa dari latar budaya berbeda gagal menyerap kurikulum standar karena kurangnya relevansi, sehingga memperburuk stigma pada ABK. Pendidik sering gagal mengakui keragaman etnis sebagai asset, malah menjadikan hambatan, yang bertentangan dengan prinsip keadilan islam dalam Pendidikan.

Realitas Kesenjangan Budaya dalam Pendidikan: Sistem Pendidikan sering kali didominasi oleh kurikulum standar yang mungkin lebih mencerminkan budaya mayoritas atau konteks perkotaan. Hal ini berdampak negative bagi siswa dari latar belakang budaya yang berbeda, terutama di daerah pedesaan atau. Beberapa isu utama meliputi:

  1. Keterasingan materi: Siswa mungkin terasing karena sontoh atau referensi dalam buku pelajaran tidak sesuai dengan pengalaman hidup atau nilai-nilai budaya mereka.
  2. Hambatan Bahasa: Kesenjangan Bahasa terjadi Ketika Bahasa pengantar di sekolah berbeda signifikan dengan Bahasa ibu siswa, menghambat pemahaman topik dan komunikasi guru-siswa.
  3. Ketidaksetaraan akses dan kualitas: Daerah dengan infrastruktur minim sering kali kekurangan fasilitas dan tenaga pendidik berkualitas, memperparah kesenjangan yang ada.

Pengajaran Kontekstual sebagai solusi: Pengajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL) adalah pendekatan intruksional yang membantu guru mengaitkan materi akademik dengan situasi dan pengalaman nyata siswa dalam kehidupan sehari-hari mereka. Pendekatan ini bukan sekedar metode mengajar, melainkan filosofi yang mengakui pentingnya latar belakang budaya siswa dalam proses belajar mengajar. Pentingnya pengajaran kontekstual terletak pada beberapa aspek diantaranya:

  1. Meningkatkan relevansi dan motivasi: Ketika siswa melihat hubungan antara apa yang dipelajari di kelas dengan kehidupan nyata mereka, mereka menjadi lebih termotivasi dan terlibat dalam pembelajaran.
  2. Memfasilitasi pemahaman mendalam: CTL membantu siswa mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan yang sudah mereka miliki (kontruktivisme), memungkinkan pemahaman konsep yang lebih mendalam dan bertahan lebih lama.
  3. Menghargai keragaman budaya: Dengan mengintregasikan budaya local, tradisi, dan pengalam siswa ke dalam kurikulum pengajaran kontekstual memvalidasi identitas budaya mereka dan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif.
  4. Mengembangkann keterampilan berpikir kritis: CTL mendorong siswa untuk menganalisis masalah nyata di lingkungan sekitar mereka dan mencari solusi, yang sangat penting untuk keterampilan abad ke-21

Pendekatan ini tidak hanya membantu siswa memahami materi secara lebih baik, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap identitas budaya mereka sendiri. Pendidikan tidak lagi menjadi alat yang “menyeragamkan”, melainkan ruang yang menghargai perbedaan dan menjadikannya sebagai kekuatan dalam pembelajaran.

Meski demikian, penerapan pengajaran kontekstual tentu bukan tanpa tantangan. Guru dituntut lebih peka, kreatif, dan terbuka terhadap keberagaman siswa. Di sisi lain, sistem pendidikan juga perlu memberi ruang fleksibilitas agar guru tidak terjebak pada tuntutan kurikulum yang terlalu kaku dan berorientasi pada angka semata.

Dukungan pelatihan bagi guru, kebijakan yang adaptif, serta kesadaran bahwa setiap siswa membawa latar budaya yang berbeda menjadi kunci keberhasilan pendekatan ini. Pendidikan yang baik bukan hanya soal capaian akademik, tetapi juga tentang bagaimana siswa merasa diterima, dipahami, dan mampu mengaitkan ilmu dengan kehidupannya sendiri.

Pada akhirnya, pengajaran kontekstual bukan sekadar metode, melainkan sikap dalam memandang pendidikan. Dengan memahami konteks budaya peserta didik, pendidikan dapat benar-benar menjadi jembatan bukan sekat antara pengetahuan dan kehidupan nyata.

Penulis: Umu Lailatussyarifah
Mahasiswa Institut Ilmu Al-Qur’an An-Nur Yogyakarta, Kelas PAI B

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net