NASIONALISME.NET, Malang — Pendidikan berperan krusial dalam membentuk kualitas sumber daya manusia secara menyeluruh, namun praktik saat ini masih didominasi pencapaian akademik sehingga aspek emosional yang menentukan keberhasilan hidup sering terabaikan.
Padahal, pendidikan emosional sangat penting bagi Gen Alpha untuk mengelola perasaan dan membangun hubungan sosial yang sehat, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan AI yang cenderung menurunkan kualitas empati serta komunikasi interpersonal akibat berkurangnya interaksi langsung.
Jika tidak diimbangi dengan pendidikan emosional yang sistematis, Gen Alpha berisiko menjadi generasi yang unggul secara teknis namun lemah secara karakter, sehingga penguatan aspek ini sangat diperlukan sebagai penyeimbang agar mereka mampu memanfaatkan teknologi secara bijak tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Pentingnya Kecerdasan Emosional sebagai Penyeimbang Kemajuan Teknologi
Kecerdasan emosional (EI) merupakan kemampuan mengelola emosi dan hubungan sosial yang berfungsi sebagai penyeimbang strategis antara kecakapan kognitif dengan kemajuan teknologi, guna memastikan Gen Alpha tetap empatik dan bijak di era digital. Secara praktis, EI diwujudkan melalui lima indikatorkesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati, dan keterampilan sosial yang berperan penting dalam mengendalikan perilaku impulsif serta membangun kerja sama efektif.
Oleh karena itu, di era disrupsi ini, pendidikan modern harus mengintegrasikan inovasi digital dengan penguatan kecerdasan emosional untuk mengatasi tantangan individualisme, sehingga tercipta generasi yang cakap teknologi sekaligus stabil secara emosional dan bertanggung jawab sosial.
Dampak Dominasi Kecerdasan Buatan terhadap Perkembangan Emosional Gen Alpha
Dominasi teknologi dan AI berdampak signifikan pada perkembangan emosional Gen Alpha karena ketergantungan digital mengurangi interaksi sosial langsung, sehingga anak kurang terlatih memahami isyarat emosional non-verbal dan cenderung menjadi impulsif akibat konten serba cepat.
Penggunaan media sosial yang berlebihan memperburuk kondisi ini melalui perbandingan sosial tidak realistis yang merusak self-esteem dan memicu kecemasan. Selain itu, tren AI sebagai teman virtual berisiko mengikis empati serta kualitas komunikasi di dunia nyata, sehingga pendampingan orang tua dan pendidik menjadi krusial agar teknologi tetap berfungsi sebagai pendukung tanpa menghambat perkembangan sosial-emosional anak.
Strategi Pendidikan Emosional untuk Mendorong Empati dan Kolaborasi pada Gen Alpha di Era Kecerdasan Buatan
Strategi pendidikan emosional bagi Gen Alpha di era kecerdasan buatan difokuskan pada penguatan empati dan kolaborasi melalui tiga pendekatan integratif.
- Pertama, pembelajaran kolaboratif diterapkan untuk melibatkan anak dalam kerja kelompok, sehingga mereka terbiasa berinteraksi, berbagi peran, dan menghargai perbedaan pendapat sebagai persiapan menghadapi dinamika sosial digital.
- Kedua, implementasi pembelajaran sosial-emosional (SEL) secara konsisten menjadi fondasi penting untuk mengembangkan pengendalian diri, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola emosi di tengah dominasi teknologi.
- Terakhir, pembelajaran berbasis pengalaman melalui aktivitas nyata dan refleksi memungkinkan anak belajar menyelesaikan konflik secara konstruktif serta membangun kepekaan sosial.
Secara keseluruhan, kombinasi ketiga strategi ini bertujuan mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik dan digital, tetapi juga memiliki ketahanan emosional serta mampu berinteraksi secara positif di berbagai konteks kehidupan.
Pendidikan emosional merupakan kunci utama dalam membentuk karakter Gen Alpha di tengah dominasi teknologi dan kecerdasan buatan. Meskipun teknologi bermanfaat, penggunaan yang tidak terkendali berisiko melemahkan empati dan kualitas interaksi sosial.
Melalui strategi pembelajaran sosial emosional, kolaboratif, dan berbasis pengalaman, sekolah dapat mengembangkan kecerdasan emosional yang seimbang agar anak mampu memahami diri sendiri serta membangun hubungan sosial yang sehat. Dengan demikian, Gen Alpha dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki karakter, empati, dan ketahanan emosional yang kuat dalam menghadapi tantangan masa depan.

Penulis: Nayli Akma Qatrunnada Zahwa (202510170110053)
S1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang











