Berita  

Berantas Speech Delay, Mahasiswa KKN UNS Melakukan Sosialisasi untuk Menyelamatkan Pendidikan di Masa Golden Ages Anak sebagai Upaya Meningkatkan Kemitraan Berkelanjutan

Avatar photo
Mahasiswa KKN Universitas Sebelas Maret bersama ibu-ibu PKK Desa Dibal usai pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Literasi Pemerolehan Bahasa sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan untuk Meningkatkan Kemitraan Berkelanjutan, sebagai bagian dari upaya pembimbingan masyarakat sejak dini dan dukungan terhadap pencapaian SDGs.

NASIONALISME.NET, BOYOLALI – Pada bulan Januari – Februari 2026, Universitas Sebelas Maret (UNS) mengadakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diikuti oleh 2014 mahasiswa dari berbagai program studi dan berbagai jenjang yang telah mencukupi kuota Satuan Kredit Semester (SKS) yang ditetapkan oleh universitas. Seluruh peserta yang telah mendaftar kemudian dibagi ke dalam setiap kelompok.

Kelompok 15 KKN UNS ditempatkan di Desa Dibal, Boyolali pada hari Selasa (20/01/2026) telah melakukan program kerja berupa “Sosialisasi Literasi Pemerolehan Bahasa sebagai Upaya Peningkatan Kualitas Pendidikan untuk Meningkatkan Kemitraan Berkelanjutan” di Kantor Desa Dibal.

Sosialisasi tersebut dilatarbelakangi karena adanya kekhawatiran di era digital saat ini. Banyaknya fenomena anak-anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di depan gawai, telah menimbulkan banyak kasus anak-anak dalam masa pertumbuhan (golden ages) yang mengalami keterlambatan berbicara (speech delay).

Maka dari itu penanggung jawab program kerja ini, Nihlah Izzati Nashatra Alya memutuskan untuk menyasar ibu-ibu dalam kelompok masyarakat Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) agar ibu-ibu sebagai orang tua dari buah hatinya lebih memahami pentingnya proses pemerolehan bahasa pada anak dan mampu mendampingi tumbuh kembang buah hatinya dengan menyenangkan.

Sosialisasi tersebut diawali dengan pengertian dari literasi bahasa, proses pemerolehan bahasa, manfaat dari literasi, bagaimana cara berpikir, fungsi otak, cara menstimulasi otak anak dengan permainan, baik permainan tradisional maupun modern seperti permainan kartu (card games) dan permainan papan (board games).

Sosialisasi tersebut diselingi dengan kuis dan terdapat sesi tanya jawab. Ibu-ibu tersebut memberikan respon positif dan aktif pada saat kuis berlangsung. Terdapat pula salah satu dari mereka, Bu Yamti menanyakan pertanyaan yang kritis mengenai permainan-permainan anak yang telah disosialisasikan.

“Saya tertarik dengan dakon, tapi anak-anak yang main sering menjadikan itu judi. Menurut mbaknya gimana pandangannya?”, tanyanya.

Pertanyaan tersebut terjawab dengan tanggapan dari Bu Suyamti, “Sebuah permainan itu netral, tergantung siapa yang memainkannya. Justru permainan itu bagus untuk melatih kognitif dan jiwa kompetitif anak”, ujarnya.

Ibu-ibu PKK yang berpartisipasi aktif selama sesi kuis dan tanya jawab mendapatkan doorprize dari penanggung jawab program kerja. Setelah itu, acara diakhiri dengan sesi dokumentasi bersama.

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net