NASIONALISME.NET, Serang — Transformasi pemasaran dari pemasaran konvensional ke pemasaran digital memberikan keuntungan seperti jangkauan pasar yang lebih luas dan keterlibatan konsumen yang lebih tinggi, namun juga menghadapi tantangan seperti persaingan yang semakin ketat dan pembelajaran teknologi baru. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian mengidentifikasi strategi pemasaran, keuntungan, dan tantangan yang dihadapi oleh Alkha Craft dalam mengadopsi pemasaran digital.
Hasilnya menunjukkan perlunya inovasi dan integrasi antara konsep pemasaran konvensional dan digital untuk mempertahankan dan meningkatkan daya saing UMKM di pasar yang dinamis. Maka dari itu, pemahaman yang baik tentang implikasi strategis dari transformasi pemasaran ini penting bagi UMKM untuk berhasil di era digital.
Pemasaran konvensional adalah pendekatan pemasaran yang menggunakan metode dan media tradisional untuk mempromosikan produk dan jasa. Metode ini meliputi penggunaan media fisik seperti koran, majalah, billboard, brosur, serta iklan di radio dan televisi, juga mencakup strategi penjualan langsung seperti telemarketing dan penjualan tatap muka. Pemasaran konvensional umumnya bersifat satu arah, dimana perusahaan menyampaikan pesan pemasaran kepada calon konsumen tanpa adanya interaksi langsung yang signifikan.
Pemasaran di era itu dilandasi pada tiga pendekatan yang bersifat deskriptif, yaitu:
- Pendekatan komoditi yang melukiskan karakteristik berbagai produk, khususnya produk pertanian, dan perilaku pembeli produk itu
- Pendekatan institusional yang melukiskan bagaimana berbagai Lembaga pemasaran bekerja
- Pendekatan fungsional yang melukiskan kegiatan pemasaran melakukan kegiatan dipasar.
Pemasaran konvensional sudah ada sejak awal aktivitas perdagangan manusia, tetapi sebagai konsep bisnis formal, pemasaran konvensional mulai berkembang secara sistematis pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1900-an hingga 1920-an. Pada periode ini, perusahaan mulai menyadari pentingnya pemasaran sebagai fungsi bisnis yang terpisah. Konsep pemasaran konvensional modern yang lebih terstruktur muncul pada era 1950-an hingga 1960-an, ketika teori pemasaran formal mulai dikembangkan di institusi akademik dan bisnis.
Pada tahun 1960, E. Jerome McCarthy memperkenalkan konsep 4P Product, Price, Place, Promotion) yang menjadi dasar fundamental pemasaran konvensional hingga saat ini.
Pada tahap ini, pemasaran bergeser dari pendekatan berbasis produk ke pendekatan berbasis pelanggan, dengan penggunaan data dan segmentasi pasar untuk memahami kebutuhan konsumen. Internet mulai digunakan sebagai media pemasaran, memungkinkan komunikasi dua arah antara brand dan pelanggan. Pemasaran tidak hanya berfokus pada produk dan kebutuhan konsumen tetapi juga pada nilai dan emosi. Konsumen mulai mempertimbangkan visi dan misi perusahaan, sehingga brand yang memiliki kepedulian sosial, etika, dan keberlanjutan lebih diminati.
Perkembangan pemasaran digital juga telah mempengaruhi cara konsumen berbelanja. Dalam pemasaran tradisional, konsumen biasanya pergi ke toko fisik untuk membeli barang. Namun, dengan pemasaran digital, konsumen dapat membeli produk atau layanan dengan mudah melalui internet, bahkan tanpa harus meninggalkan rumah.
Secara keseluruhan, perkembangan pemasaran digital telah membawa banyak manfaat dan kesempatan bagi perusahaan dan konsumen. Namun, karena pemasaran digital terus berkembang, perusahaan harus terus mempelajari tren dan teknologi terbaru untuk tetap kompetitif. Perubahan ini sebagian besar didorong oleh transformasi digital yang mengubah lanskap pemasaran secara fundamental, dengan munculnya media sosial, e-commerce, dan teknologi digital lainnya yang mengubah cara pemasaran dilakukan.
Selain itu, terjadi pergeseran filosofis dalam orientasi nilai marketing. Jika sebelumnya fokus utama adalah pada keuntungan organisasi dan hubungan pelanggan, definisi baru memberikan penekanan yang lebih besar pada penciptaan nilai bagi seluruh ekosistem yang mencakup pelanggan, mitra bisnis, dan masyarakat luas. Hal ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran akan tanggung jawab sosial perusahaan dan pentingnya keberlanjutan dalam praktik bisnis. Marketing tidak lagi dipandang sebagai proses satu arah untuk “menyampaikan” nilai, tetapi sebagai pertukaran nilai yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Pemasaran digital terus berkembang dengan cepat seiring dengan kemajuan teknologi dan perubahan perilaku konsumen. Masa depan pemasaran digital menjanjikan inovasi yang lebih canggih, personalisasi yang lebih tinggi, dan pengalaman konsumen yang semakin interaktif. Dalam konteks ini, perusahaan harus beradaptasi dengan tren baru dan memanfaatkan teknologi mutakhir untuk tetap relevan di pasar yang kompetitif (Huang, 2024). Tren utama masa depan pemasaran digital diantaranya adalah dengan adanya beberapa metode pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) berikut ini:
-
Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence, AI)
AI akan menjadi pilar utama dalam pemasaran digital masa depan. Teknologi ini dapat digunakan untuk menganalisis data konsumen, memprediksi perilaku mereka, dan menciptakan pengalaman yang sangat personal. Contohnya termasuk chatbot cerdas, analitik prediktif, dan otomatisasi pemasaran. -
Personalisasi yang Lebih Tinggi
Konsumen semakin menginginkan konten yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Teknologi seperti AI dan machine learning memungkinkan perusahaan untuk menyediakan pesan yang disesuaikan dengan preferensi individu, menciptakan pengalaman yang unik untuk setiap pelanggan. -
Pemasaran Berbasis Data (Data-Driven Marketing)
Penggunaan data besar (big data) akan semakin penting dalam mengidentifikasi tren, memahami audiens, dan mengukur efektivitas kampanye. Platform analitik yang lebih canggih akan membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih baik. -
Pengalaman Immersif Dengan AR dan VR
Teknologi Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR) memungkinkan konsumen untuk mengalami produk atau layanan secara langsung sebelum membelinya. Contohnya termasuk mencoba pakaian secara virtual atau melihat desain interior rumah menggunakan AR. -
Video Interaktif dan Live Streaming
Konten video akan tetap menjadi format dominan dalam pemasaran digital. Live streaming dan video interaktif akan digunakan untuk menciptakan keterlibatan yang lebih dalam dengan audiens.
Daftar Pustaka
- Fadhilah, H., Robbiulsani, M., Resmiasari, Y., Nadila, D., & Sundari, A. (2024).
Rachbini, W. (2023). Transformasi Marketing Tradisional ke Digital. CV. AA Rizky. - Itasari, M., Nurfadhilah, A., Wiliyanti, V., Muhtar, M., Saputro, V. A., Arief, A. B., et al. (2025). Marketing 5.0: Transformasi Teori Marketing dari Konvensional ke Digital. PT Sonpedia Publishing Indonesia.
- Widiyawati, A. BAB 3 Evolusi Pemasaran Konvensional ke Digital. Dalam Strategi Pemasaran Digital, hlm. 40.
Penulis: Ibnu Syina
Mahasiswa Semester 3
Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam
Fakultas Dakwah
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten











