MARHABAN YA MELAWAN; Di negeri yang selalu sering menutup luka dengan Seremoni, Lebaran menjadi Ironi.

Avatar photo
  • Salah satu simbol perjuangan hak asasi manusia di Indonesia Adalah Munir Said Thalib. Ia dikenal sebagai aktivis HAM yang vokal mengkritik berbagai praktik kekerasan negara, termasuk penculikan aktivis pada masa transisi Reformasi 1998. Munir meninggal dunia pada 7 September 2004 dalam penerbangan menuju Amsterdam setelah diracuni arsenik di dalam pesawat. Kasus ini menjadi perhatian internasional karena diduga melibatkan jaringan yang kompleks dan berkaitan dengan institusi negara. Hingga hari ini, berbagai organisasi masyarakat sipil menilai bahwa pengungkapan dalang utama pembunuhan Munir masih belum tuntas.

Kasus Munir kemudian menjadi simbol dari persoalan yang lebih besar, yaitu budaya impunitas, ketika pelaku pelanggaran HAM tidak sepenuhnya dimintai pertanggungjawaban secara hukum. 

Reformasi 1998 menjadi titik penting dalam sejarah politik Indonesia. Gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil berhasil menumbangkan rezim otoriter yang telah berkuasa lebih dari tiga dekade. Reformasi membawa harapan akan hadirnya sistem politik yang lebih demokratis dan menghormati hak asasi manusia.

Namun perjalanan demokrasi Indonesia tidak selalu berjalan mulus. Sejumlah kasus masa lalu, seperti penculikan aktivis pada tahun 1998, masih menjadi perdebatan publik hingga saat ini. Dalam diskursus tersebut, nama beberapa perwira militer termasuk “Prabowo Subianto” sering disebut dalam berbagai laporan dan perdebatan politik terkait peristiwa tersebut.

Bagi sebagian kalangan aktivis, penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu menjadi syarat penting bagi konsolidasi demokrasi di Indonesia. Tanpa penyelesaian yang transparan dan adil, luka sejarah dianggap akan terus membayangi perjalanan bangsa.

Dalam konteks perjuangan keadilan tersebut, berbagai aktivis dan organisasi masyarakat sipil terus menyuarakan tuntutan penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Tokoh seperti Andrie Yunus, yang dikenal aktif dalam organisasi KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), merupakan bagian dari generasi yang melanjutkan perjuangan tersebut.

Melalui aksi demonstrasi, diskusi publik, serta advokasi hukum, gerakan masyarakat sipil berupaya menjaga agar isu-isu keadilan tidak hilang dari ruang publik. Dalam berbagai momentum nasional, termasuk hari besar keagamaan atau peringatan sejarah, mereka sering mengangkat kembali tuntutan agar negara lebih serius menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM.

Nama-nama lain seperti Affan Kurniawan dan Arianto Tawakal juga sering muncul dalam narasi gerakan pemuda yang menekankan pentingnya kesadaran kritis terhadap kondisi sosial dan politik di Indonesia. 

Dalam perspektif gerakan pemuda, Lebaran tidak hanya dimaknai sebagai perayaan religius, tetapi juga sebagai momentum refleksi moral dan sosial. Nilai-nilai Idulfitri seperti kejujuran, keadilan, dan keberanian melawan ketidakbenaran memiliki relevansi kuat dengan perjuangan menegakkan keadilan di tengah masyarakat.

Karena itu, slogan “Marhaban Ya Lebaran – Melawan” bukan dimaksudkan sebagai penolakan terhadap makna religius Lebaran, melainkan sebagai pengingat bahwa kemenangan spiritual seharusnya juga diiringi dengan komitmen untuk melawan ketidakadilan.

Dalam konteks ini, takbir yang dikumandangkan pada malam Lebaran dapat dipandang sebagai simbol bahwa nilai-nilai kebenaran dan keadilan harus selalu berada di atas kepentingan kekuasaan. Lebaran memang identik dengan kemenangan dan saling memaafkan. Namun, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kemenangan sejati tidak hanya diukur dari keberhasilan menjalankan ibadah, tetapi juga dari kemampuan masyarakat dan negara dalam menegakkan keadilan.

Kasus seperti pembunuhan terhadap Munir, serta berbagai peristiwa pelanggaran HAM lainnya, menunjukkan bahwa perjalanan demokrasi Indonesia masih menghadapi banyak tantangan. Oleh karena itu, kesadaran kritis dari generasi muda dan masyarakat sipil menjadi faktor penting dalam menjaga agar nilai-nilai keadilan tetap hidup.

Dengan demikian, makna Lebaran tidak hanya berhenti pada perayaan spiritual, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen terhadap keadilan, kebenaran, serta keberanian untuk terus mengingat dan merawat sejarah.

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net