NASIONALISME.NET, Jakarta — Gerakan Pramuka mempunyai tugas pokok menyelenggarakan pendidikan kepramukaan bagi kaum muda, guna menumbuhkan tunas bangsa yang berkarakter agar menjadi generasi yang lebih baik, bertanggung jawab, mampu membina, dan mengisi kemerdekaan nasional serta membangun dunia yang lebih baik.
Pendidikan karakter menjadi salah satu hal yang krusial dalam membentuk generasi muda yang berkualitas. Di tengah dinamika perkembangan zaman dan Teknologi , penting bagi generasi muda memiliki pondasi karakter yang kokoh. Salah satu lembaga yang telah lama berperan dalam pembentukan karakter adalah Gerakan Pramuka.
Pramuka adalah wadah pendidikan karakter dan moral. Para anggotanya diikat oleh janji untuk menjadi warga negara teladan yang beriman kepada Tuhan, bertanggung jawab, dan berguna bagi masyarakat. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, kerja sama, cinta tanah air, dan kepedulian sosial menjadi fondasi penting di tengah krisis identitas dan tekanan sosial media yang dihadapi generasi muda.
Perwujudan dan implementasi pendidikan karakter melalui kegiatan kepramukaan dapat dilakukan dengan dua hal, yaitu: mendidik peserta didik untuk menjalankan Tri Satya pramuka sebagai janji moral seorang pramuka dan mendidik peserta didik untuk menjalankan Dasa Dharma Pramuka sebagai moral seorang pramuka.
Pertama yaitu Tri Satya. “Janji Moral Pramuka” Tri Satya merupakan janji seorang Pramuka untuk berbakti kepada Tuhan, Negara, sesama, serta memegang teguh Dasa Dharma. Nilai-nilai ini menanamkan Nasionalisme,Integritas,Kepedulian sosial, dan tanggung jawab pribadi. Tri Satya menjadi dasar pendidikan karakter yang sejalan dengan nilai Pancasila dan Profil Pelajar Pancasila (Kemendikbud, 2021).
Kedua yaitu Dasa Dharma, “pedoman perilaku sehari-hari” Sepuluh nilai di dalam Dasa Dharma seperti disiplin, rela menolong, cinta alam, bertanggung jawab, dan suci dalam pikiran,perkataan,perbuatan, menjadi fondasi moral yang dibutuhkan generasi muda. Nilai- nilai Dasa Dharma sejalan dengan 18 nilai pendidikan karakter versi Kemendikbud (2010), seperti religius, nasionalis, peduli sosial, mandiri, dan disiplin. Serta penelitian oleh Kwartir Nasional tahun 2020 menunjukkan bahwa 70% peserta didik yang rutin mengikuti Pramuka mengalami peningkatan disiplin, kemampuan kerja sama, dan kepedulian sosial.
Tantangan Pramuka di Era Digital
Gerakan Pramuka Indonesia tengah menghadapi tantangan besar, bagaimana agar tetap relevan di mata Generasi Z yang tumbuh di era digital, serba cepat, dan penuh distraksi. Survei UNESCO (2023) menunjukkan bahwa generasi muda menghabiskan rata-rata 6–8 jam per hari di dunia digital. Penelitian Kemenkominfo (2022) menyebutkan bahwa 70% remaja Indonesia lebih memilih aktivitas berbasis gadget dibanding kegiatan luar ruang. Hal ini membuat
kegiatan Pramuka yang tidak inovatif dianggap “kuno”. Namun banyak anak muda mulai mempertanyakan relevansi Pramuka, terutama jika kegiatan yang ditawarkan masih terjebak pada pola lama seperti tali-temali, yel-yel, dan seremonial. Banyak juga yang bertanya, buat apa belajar semafor dan morse kalau komunikasi bisa dilakukan dengan telepon genggam.
Tentu saja, masih banyak anak muda yang antusias mengikuti kegiatan Pramuka, apalagi setelah mereka mengalami sendiri keseruan dalam setiap aktivitas kepanduan. Siti Rohmah, salah satu generasi muda yang mengabdikan dirinya sebagai Pembina Pramuka, memandang Pramuka sebagai wadah untuk pendidikan karakter dan tempat belajar. “Di Pramuka ada Tri Satya dan Dasa Darma yang kalau diterapkan dengan benar akan ada banyak hal yang bisa dipelajari,” jelas Rohma (21), mahasiswa Universitas Padjadjaran.
Ketertarikannya di dunia pramuka dimulai saat dirinya masuk ke dalam regu inti pada saat kelas 4 SD. Tidak seperti kegiatan pramuka wajib yang didominasi oleh penyampaian materi, regu inti adalah ekstrakurikuler yang lebih menekankan pada metode belajar sambil praktik atau learning by doing. Kecintaannya pada dunia kepanduan makin mendalam setelah di SMP ia juga dibekali pengetahuan seputar kesehatan atau P3K, dan mulai memenangkan berbagai perlombaan. Hingga akhirnya, saat memasuki dunia perkuliahan, ia memutuskan untuk melamar menjadi Pembina Pramuka. Seperti Laporan Kementerian Pendidikan (2021) menyebut bahwa 80% sekolah tidak memiliki Pembina Pramuka yang tersertifikasi.
Rohma mengaku selama mengabdi di dunia Pramuka, memperoleh banyak hal positif serta melatih ketangguhan mental dan fisik. Pengalaman serupa dikemukan Aldilla (19 ), mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, yang mengaitkan kegiatan Pramuka dengan praktik membuat simpul, belajar semapur dan morse, serta berkemah. Meski awalnya tidak terlalu menyukai Pramuka karena kegiatan yang menurutnya monoton, yakni hanya diisi oleh pematerian dan baris berbaris saja, pandangan Aldilla berubah semenjak ia bergabung dengan regu inti dan memiliki berbagai pengalaman perlombaan. Survei Kwarda DKI (2022) menyatakan 40% siswa merasa kegiatan Pramuka kurang menarik jika hanya didominasi pematerian atau baris berbaris.
Shafira (21), mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran memiliki pandangan berbeda. Ia mengatakan bahwa dirinya hanya pernah mengikuti kegiatan Pramuka saat masih di sekolah dasar dan saat kelas 1 SMA saja. “Aku bener-bener lost pramuka pas SMP, kaya karena aku ga suka sama Pramuka ya ga memilih untuk masuk ekskul Pramuka itu,” tuturnya, seraya menambahkan bahwa menarik tidaknya kegiatan bergantung pada kreativitas Pembina. Penelitian Musfah (2013) menunjukkan bahwa keberhasilan pembinaan Pramuka sangat dipengaruhi oleh peran aktif pembina, dukungan sekolah, dan inovasi kegiatan.
Kemudian ada data yang menyatakan banyak hambatan yang dihadapi para pembina pramuka di MAN 1 Yogyakarta dalam rangka pembinaan karakter siswa sehingga dibutuhkan perjuangan dan usaha yang lebih keras lagi untuk bisa mencapai tujuan dari pendidikan kepramukaan itusendiri. Menurut pemaparan Ilham Musfah, S.E., hambatan yang pertama adalah kurangnya dukungan dari pihak sekolah dalam menyelenggarakan kegiatan kepramukaan Kedua, Pandangan negatif bahwa kegiatan Pramuka membuang waktu. Ketiga, Minimnya minat siswa, terutama jika metode pembinaan terlalu monoton. Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta (UNY, 2020) menemukan bahwa dukungan sekolah sangat menentukan keberhasilan pembinaan karakter melalui Pramuka.
Solusi Untuk Menghadapinya
Pada era yang serba digital ini, pendekatan yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman menjadi kunci untuk membangkitkan semangat Gerakan Pramuka di kalangan generasi muda. Berbagai pihak dapat berperan dalam meningkatkan minat generasi muda terhadap Pramuka. Pembina Pramuka memiliki peran penting dalam menciptakan suasana kegiatan yang menarik dan inovatif ini.
Hal-hal yang dapat dilakukan antara lain melaksanakan latihan atau kemah gabungan dengan satuan lain, menyelenggarakan kompetisi membuat kreativitas berbasis media sosial, dan mengadakan aktivitas yang memadukan nilai-nilai pramuka dengan unsur teknologi atau seni. Program Scout Goes Digital (WOSM, 2022) terbukti meningkatkan minat anggota muda hingga 35% di beberapa negara Asia.
Tak hanya itu, sesekali melibatkan para anggota dengan menanyakan ide-ide kegiatan yang mereka miliki juga penting. Bisa jadi, ide yang muncul dari mereka justru mampu menciptakan kegiatan yang dapat meningkatkan antusiasme baik anggota maupun Pembina. Sekolah dengan Pembina tersertifikasi menunjukkan peningkatan kedisiplinan siswa hingga 25% (Data Kemdikbud 2020).
Pemerintah tentunya diharapkan dapat berperan pula dalam mengangkat citra Pramuka. Salah satunya dengan menyelenggarakan perayaan Hari Pramuka yang meriah, lengkap dengan atraksi dan pertunjukan menarik, serta pameran yang menampilkan kreativitas anggota pramuka. Sejak 2017, Pramuka ditetapkan sebagai komponen penting Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Kegiatan semacam ini dapat menjadi sarana promosi yang efektif sekaligus memperkenalkan Gerakan Pramuka kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.
Pramuka bukan hanya tentang seremoni dan tali-temali. Ia adalah wadah pembentukan karakter dan moral. Dengan pendekatan yang adaptif dan komunikasi yang relevan, Pramuka bisa menjadi gerakan yang membentuk pemimpin masa depan, yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan peduli terhadap sesama.
Terkait dengan adanya hambatan hambatan di atas telah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasinya. Upaya yang dilakukan dalam kegiatan kepramukaan di MAN 1 Yogyakarta adalah dengan mendasari pembinaan kepramukaan dengan niat yang ikhlas, tidak pantang menyerah dan patah semangat. Karena jika yang menghambat secara pribadi maupun organisasi dapat diatasi maka proses penanaman nilai-nilai karakter juga dapat lebih maksimal.
Upaya lain yaitu agar para siswa antusias dalam mengikuti kegiatan kepramukaan adalah dengandilakukan pendekatan khusus/personal,terutama kepada para siswi. Permasalahan- permasalahan yang muncul diselesaikan dengan jalan musyawarah mufakat. Berbagai upaya yang dilakukan tetap harus disesuaikan dengan kondisi yang ada.
Simpulan dan Rekomendasi
Dari pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan kepramukaan memainkan peran yang penting dalam pembentukan karakter siswa. Program kepramukaan tidak hanya memberikan pengetahuan praktis di alam terbuka, tetapi juga mengajarkan nilai-nilai moral, etika, dan kepemimpinan yang fundamental bagi perkembangan pribadi siswa.
Melalui kegiatan seperti perkemahan, pelatihan kepemimpinan, dan pelayanan masyarakat, siswa tidak hanya belajar untuk bertanggung jawab terhadap diri sendiri, tetapi juga terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Selain itu, kepramukaan juga menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan sosial, kerjasama tim, dan kemampuan komunikasi yang esensial dalam kehidupan sosial mereka. Kemampuan ini tidak hanya relevan dalam konteks kepramukaan, tetapi juga dapat diterapkan dalam situasi sehari-hari di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dengan demikian, kepramukaan tidak hanya berperan dalam pembentukan karakter individu, tetapi juga dalam pengembangan kepemimpinan dan kesiapan siswa menghadapi berbagai tantangan di masa depan.
Kemudian hambatan yang muncul dalam pembinaan karakter siswa MAN 1 Yogyakarta melalui kegiatan kepramukaan antara lain adalahkurangnya perhatian sekolah, terutama para gurunya, terhadap masalah pramuka, dan banyaknya siswa yang tidak suka mengikuti kegiatan kepramukaan.
Upaya pembina pramuka dalam 156 Pembentukan Karakter Siswa melalui Kegiatan Kepramukaan di MAN 1 Yogyakarta menghadapi hambatan yang ditemui di MAN 1 Yogyakarta adalah mengajak para guru untuk mendukung kegiatan pramuka dengan niat yang ikhlas, lalu menciptakan kegiatan yang menarik dan menantang siswa.

Penulis: Azis Al Farizi, Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah











