Mitos “Kuliah di Jurusan Favorit = Auto Sukses”: Lamunan Mahasiswa Semester 3 yang Mulai Kena Mental

Avatar photo
Gambar ilustrasi penulis dari Gemini.

NASIONALISME.NET, Tangerang Selatan — Dua tahun lalu, saat saya masih berseragam putih abu-abu, masyarakat dan keluarga menanamkan satu mitos besar di kepala saya: “Berjuanglah mati-matian masuk PTN/Jurusan Favorit, nanti hidupmu akan tenang dan sukses.”

Mitos ini begitu memabukkan. Ia membuat kita rela kurang tidur demi UTBK, bertarung memperebutkan satu kursi melawan ribuan orang, dan merasa seolah-olah diterima di kampus impian adalah garis finis dari segala perjuangan.

Sekarang, saya duduk di semester 3. Euforia jaket almamater sudah luntur, digantikan oleh tumpukan tugas, laporan praktikum, dan deadline yang tidak manusiawi. Dan di titik inilah, saya sadar, mitos itu bohong besar.

Honeymoon Phase yang Sudah Berakhir

Sebagai mahasiswa semester 3, saya merasa sedang berada di fase “krisis identitas” awal. Dibilang maba sudah bukan, dibilang senior juga belum pantas. Di fase tanggung ini, mata saya mulai terbuka melihat realita kampus yang sebenarnya.

Masyarakat sering bilang, “Kuliah itu tempat cari ilmu.” Tapi realitanya? Kuliah sering kali terasa hanya seperti arena bertahan hidup mengejar validasi akademik bernama IPK. Kita diajarkan untuk menghamba pada nilai A, tapi jarang diajarkan bagaimana ilmu itu terpakai di dunia nyata.

Saya melihat kakak tingkat (kating) yang lulus dengan predikat Cum Laude dari jurusan “favorit” ini, ternyata masih pontang-panting menyebar CV di LinkedIn dan situs-situs lainnya. Jika mitos masyarakat itu benar—

bahwa almamater dan jurusan adalah jaminan sukses—kenapa sarjana masih mendominasi angka pengangguran?

Jebakan “Zona Nyaman” Mahasiswa

Mitos ini berbahaya karena ia meninabobokan kita. Banyak teman seangkatan saya yang merasa “aman” hanya karena sudah berhasil masuk ke jurusan yang dianggap bergengsi oleh tetangga. Mereka menjalani kuliah dengan mode autopilot; Datang, duduk, diam, pulang (Kupu-Kupu).

Padahal, di semester 3 ini, harusnya kita sadar bahwa privilege nama kampus tidak akan menolong kita saat wawancara kerja nanti. Industri hari ini tidak peduli seberapa susah kita masuk ke jurusan ini; mereka hanya peduli skill apa yang bisa kita tawarkan.

Gelar Sarjana Bukan Jimat Anti-Miskin

Mungkin terdengar pesimistis, tapi ini adalah bentuk survival mechanism. Menyadari bahwa “Jurusan Favorit” bukanlah jimat anti-gagal membuat saya, dan mungkin mahasiswa semester 3 lainnya jadi lebih realistis.

Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan materi di kelas yang kadang tertinggal jauh dari perkembangan zaman. Kita harus mulai “mencuri” ilmu dari luar, seperti; ikut organisasi, magang, membangun jejaring, atau belajar skill digital yang tidak ada di SKS mata kuliah.

Sebuah Refleksi di Tengah Semester Ganjil

Tulisan ini bukan untuk menakut-nakuti teman-teman yang baru masuk, atau membuat kita yang sedang berjuang di semester pertengahan ini jadi putus asa. Justru sebaliknya.

Mari kita kubur mitos “Auto Sukses” itu dalam-dalam. Berhenti merasa aman hanya karena status “Mahasiswa”. Sukses tidak ditentukan saat pengumuman penerimaan mahasiswa baru, tapi ditentukan oleh apa yang kita lakukan dari semester 1 sampai skripsi nanti.

Jadi, untuk teman-teman seperjuangan semester 3 yang sedang pusing dengan tugas menumpuk: Semangat. Perjalanan kita masih panjang, dan nasib kita ada di tangan kita sendiri, bukan di tangan nama besar kampus atau jurusan.

Penulis: Zidane Asasani
Mahasiswa Semester 3, Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net