Mentari menyinari bumi dengan indahnya, sinarnya yang indah membuat semua nampak bahagia. Angin menghembuskan rambut yang tergulung tak rapi di atas kepala tuannya. Sweater berwarna pink menjadi penghias tubuhnya yang lesu.
Anindya berjalan pelan seolah mencoba menenangkan tubuhnya, walaupun ia ingin segera sampai ke rumah. Pagi ini adalah hari yang telah di tunggu-tunggu Anindya, pagi yang penuh ketenangan dan merefresh semua beban yang ada.
Anindya adalah seorang perawat yang bekerja di rumah sakit swasta terbesar yang ada di kota ini. Anindya merupakan seorang perawat baru yang mencoba untuk menyesuaikan dirinya ke dalam lingkup yang sejak kecil ia idam-idamkan, walaupun ekspetasi masa kecilnya runtuh akibat realita tak seindah kenyataan.
Sampai di depan rumahnya, ia membuka pintu rumah dan disambut oleh bau harum masakan sang ibu. Senyumnya mulai merekah kala ia tahu bahwa sang ibu tengah memasak apa.
Langkah kakinya berjalan dengan cepat dan mulai mengintip apakah benar dengan apa yang telah ia tebak tadi. Dan betul, ibu tengah memasak udang balado dengan tahu di dalamnya. Warna merah dan oranye itu tercampur menjadi satu kesatuan yang nikmat.
“Loh? Sudah pulang?” tanya ibu yang sadar jika Anindya sudah berdiri di belakangnya sedari tadi.
“Iya.. sudah bu, hari ini aku libur.” Ucap Anindya dengan suara lemahnya.
Ibu mematikan kompornya dan mulai memindahkan lauk itu ke dalam wadah kaca besar. Anindya duduk di atas kursi makan, sambil menunggu ibu menyiapkannya. Duduk di kursi ini membuat Anindya tenang dan damai, di kursi ini Anindya merasa bahwa dirinya bukan lagi perawat yang cekatan, tapi dirinya kembali menjadi sosok Anindya kecil yang masih ingin di gendong.
Lauk, nasi, dan peralatan makannya sudah tersedia rapi di hadapannya. Ibu juga sudah duduk di depannya sambil menyiapkan nasi di piring.
“Bagaimana pekerjaanmu di rumah sakit? Apakah semuanya lancar?” tanya ibu sambil memberikan piring berisi nasi itu.
Anindya mengangguk, “Ya.. mencoba untuk semuanya baik-baik saja bu. Dunia perawat cukup membuatku lelah bu.” Keluh Anindya dengan nada yang tak semangat lagi.
Ibu tersenyum dan berkata, “Perawat adalah pekerjaan yang mulia, kamu adalah pahlawan mereka. Mereka akan tenang jika kamu ada.” Anindya mengkerung tak mengerti kalimat yang telah ibunya ucapkan, sangking capeknya ia tak lagi mampu mengolah kalimat yang telah ibunya ucapkan.
Anindya tengah menonton televisi sambil menyantap seblak yang telah ia pesan lewat aplikasi ojek online. Sudah lama ia tidak menyantap seblak sambil menonton drama Korea. Sejak ia menempuk pendidikan perawat ini, ia jadi jarang menikmati sebuah seblak.
Di sela-sela itu, tiba-tiba berbunyi dering ponselnya. Suara di seberang sana nampak panik dan kalut.
“Anin… kamu bisa ke sini sekarang tidak? Pasien bangsal 9 atas nama Harum tengah pingsan. Dia belum sadar dan selalu nyebut nama kamu. Bisa tolong ke sini nin? Aku minta tolong ya?”
Seketikan Anindya terdiam, pikirannya kacau, hari masih sore dan liburannya masih belum tenang. Ibu datang setelah mendengar suara telefon itu, ibu memegang pundak Anindya dan menganggukkan kepalanya mengisyaratkan bahwa Anindya harus benar-benar segera datang.
Mau tidak mau Anindya mengiyakan permintaan tersebut dan segera bergegas menuju ke rumah sakit.
Sampainya di rumah sakit, ia menghampiri bangsal nomor 9, di ruangan itu terdapat anak kecil berusia 6 tahun yang mengidap penyakit kanker. Saat Anindya sampai gadis kecil itu sudah siuman, matanya bengkak dan merah seperti telah menangis.
“Kak Anin.. kakak dari mana saja? Aku takut sekali jika di sini sendirian.” Anindya tersenyum dan menghampirinya, di peluknya gadis itu dan ditenangkannya.
Harum selama di rumah sakit ini selalu sendirian, kedua orang tuanya datang hanya saat malam selepas pulang kerja. Harum sangat dekat dengan Anindya, tak jarang Anindya datang untuk mengajaknya bermain.
Di mata Harum, Anindya bukan hanya sekedar perawat, namun juga seorang kakak, sahabat, dan juga tempat paling nyaman di tengah rasa sakit yang tak kunjung pergi.
Anindya mengusap rambut Harum yang mulai rontok akibat kemoterapi. Senyum kecil itu ia paksakan, meski dadanya terasa sesak melihat badan kecil itu harus menanggung beratnya perjuangan.
“Eumm.. kak Anin gak akan pergi kan?” ucap Harum dengan mata yang berkaca-kaca.
Anindya menggelengkan kepalanya, “Enggak, kakak di sini.”
“Aku tadi gambar kak Anin loh.” Ucapnya yang kemudian meraih laci dan mengambil secarik kertas. Anin melihat sebuah gambar sosok berseragam putih yang memiliki sayap putih di belakangnya, sosok itu tersenyum dengan pelangi di langitnya. Gambaran khas sekali anak kecil dengan krayon yang belepotan.
“Ini adalah kak Anin, kak Anin adalah malaikat Harum.” Kalimat itu mampu membuat Anindya tercekik. Untuk pertama kalinya sekian bulan selama menjadi perawat, ia merasa benar-benar berarti.
Pada malam ini Anindya menemani Harum tidur. Ia menyanyikan lagu yang biasa ibu nyanyikan kala ia masih kecil. Lagu yang selalu membuatnya mengantuk hingga terlelap.
Wajah sendu Harum membuat Anindya terenyuh. Sebab tubuh sekecil ini harus menanggung ratusan obat yang mencoba untuk menyelamatkan nyawanya. Anindya tak tahu harus bagaimana jika semua itu sia-sia, Anindya paham bahwa rasa sakit penyakit itu tidak nyaman.
Waktu berlalu sampai pada dini hari. Dini hari itu mendadak seluruh ruangan panik. Suara alarm monitor memecah keheningan.
“Harum drop!”
Teriakan itu membuat jantung Anindya terhenti, seakan-akan sebuah paku tertancap di dalamnya.
Anindya yang belum sempat pulang itu langsung sigap menyiapkan segalanya.
Mulai dari menyiapkan alat, memberi tahu dokter jaga, membantu prosedur darurat. Semua yang ia rasakan begitu cepat.
Di atas ranjang itu Harum nampak begitu kecil. Tubuh itu penuh perjuangan.
“Harum… ayo sayang… kamu pasti kuat.” Bisik Anindya yang memperhatikan dokter menyelamatkan Harum.
Tim medis berjuang sekuat tenaga. Keringat mereka bercucuran.
Tapi.. takdir berjalan terkadang berjalan di luar kuasa manusia.
TITT…
Garis monitor itu memanjang.
Ruangan mendadak sunyi.
Anindya membeku.
Anindya merasa bahwa ada sesuatu di dalam tubuhnya ikut runtuh. Tangannya gemetar kala memegang tangan Harum yang dingin. Dan, untuk pertama kalinya ia menangis di dalam kamar perawatan.
Bukan sebagai perawat, tapi sebagai manusia.
Tak lama kemudian orang tua Harum datang. Tangis mereka terpecah kala memasuki ruangan. Ibunda Harum menangis memeluk tubuh mungil Harum, tangisnya sungguh menyakitkan, tubuhnya masih mengenakan baju formal khas orang yang baru saja pulang bekerja.
Hari-hari setelah kepergian Harum semua terasa berbeda. Bangsal 9 kini kosong. Tanpa ada suara celoteh yang menghiasi rumah sakit ini, tumpukan kertas yang berisi gambarannya sudah kosong, boneka yang selalu berada di bangsal juga sudah diangkut oleh kedua orang tua Harum.
Pada hari ini pukul 10 pagi ibunda Harum datang dengan wajah yang lesu dan nampak lelah. Ia menghampiri Anindya dengan senyum yang berusaha kuat. Beliau menggengam tangan Anindya. Bisa Anindya rasakan bahwa tangan ibu Harum sangat dingin.
“Anin.. makasih ya sudah mau menemani Harum.” Ucap ibu Harum dengan leher yang tercekat, ia melanjutkan “Terima kasih sudah menjadi bagian dari keluarga Harum.” Ucapnya lagi dengan air mata yang menetes.
“Ibu.. itu sudah bagian dari tugas kami. Harum sudah saya anggap sebagai adik saya.” Jawab Anindya menenangkan.
“Aku.. mungkin terlalu sibuk untuk mengurus Harum di hari terakhirnya.” Tangisnya pecah. Anindya memeluk ibu Harum menenangkan. Hatinya ikut hancur, ia tahu apa yang telah di rasakan beliau. Sama seperti yang ia rasakan tahun lalu saat sang ayah pergi meninggalkannya.
Kini Anindya memahami apa yang telah ibunya ucapkan: perawat adalah pahlawan mereka.
Bukan karena selalu berhasil merawatnya, tapi juga memilih tetap tinggal, menemani, dan memberi harapan bahkan di ambang kehilangan.
Profesionalisme adalah ketika hati tetap lembut di tengah kerasnya realita. Ketika tangan tetap sigap meski jiwanya lelah. Dan ketika kehilangan tidak akan menghentikan seseorang untuk terus peduli.
Anindya benar-benar mengerti, bahwa menjadi perawat berarti menjadi secercah harapan bagi mereka yang hampir kehilangan cahaya.


