Cerpen  

Alena

Avatar photo
Gambar dibuat menggunakan AI dari chatgpt.com

Langit sore mendadak gelap. Hujan turun tanpa henti sejak siang hari. Warga di daerah lereng bukit masih menjalankan aktivitas seperti biasa sampai suara gemuruh besar terdengar dari kejauhan. Dalam hitungan detik, tanah dan bebatuan longsor menghantam rumah-rumah warga. Teriakan, tangisan, dan suara minta tolong bercampur menjadi satu. Sirene ambulans mulai terdengar memecah suasana panik. Di tengah keadaan itu, seorang perawat bernama Alena bergegas menuju lokasi bencana. Ia baru selesai dinas malam dan belum sempat beristirahat, tetapi kabar mengenai banyaknya korban membuatnya memilih kembali bertugas. Setibanya di lokasi, kondisi benar-benar kacau. Lumpur menutupi jalan. Banyak korban terjebak reruntuhan. Sebagian warga menangis mencari anggota keluarganya.

“Di sini ada anak kecil terluka!” teriak seorang relawan.

Alena langsung menghampiri sumber suara. Seorang anak laki-laki tampak lemah dalam pelukan ibunya. Wajahnya pucat dan napasnya tersengal. Dengan cepat Alena memeriksa kondisi anak tersebut. Tangannya tetap tenang walaupun suasana di sekeliling penuh kepanikan. Ia memasang infus darurat dan meminta relawan menyiapkan tandu.

“Tenang Bu, kami usahakan yang terbaik,” ucapnya pelan kepada ibu korban.

Satu pasien selesai ditangani, korban lain kembali datang. Ada yang mengalami patah tulang, luka berat, bahkan kesulitan bernapas. Tenda darurat yang berdiri seadanya mulai penuh. Malam tiba bersama udara dingin dan hujan yang belum berhenti. Kondisi tenaga medis mulai menurun. Banyak relawan terlihat kelelahan. Namun Alena masih terus berpindah dari satu korban ke korban lain.

Seorang anak perempuan memegang ujung bajunya. “Tante jangan pergi, aku takut…”

Alena menatap anak itu sambil tersenyum lembut. “Aku di sini. Kamu aman.”

Walaupun tubuhnya lelah, ia tetap berusaha memberi rasa tenang kepada para korban. Baginya, dukungan kecil bisa membantu pasien bertahan di tengah keadaan sulit. Tidak lama kemudian, angin kencang membuat salah satu sisi tenda roboh. Orang-orang langsung panik menyelamatkan diri. Melihat ada pasien yang hampir tertimpa tiang besi, Alena segera menarik tempat tidur pasien menjauh.

Brak!

Tiang tenda jatuh tepat beberapa detik setelah pasien berhasil dipindahkan. Seorang dokter yang melihat kejadian itu langsung menghampirinya.

“Kamu bisa terluka kalau terus memaksakan diri.”

Alena hanya mengangguk pelan sambil kembali memeriksa kondisi pasien.

“Kalau tenaga medis berhenti sekarang, banyak korban tidak tertolong,” jawabnya singkat.

Menjelang pagi, persediaan obat mulai menipis. Beberapa tenaga kesehatan bahkan sudah tumbang karena kelelahan. Namun Alena masih membantu membersihkan luka, mencatat kondisi pasien, hingga mengantar korban ke ambulans. Tidak ada yang tahu kalau sejak beberapa jam sebelumnya kakinya mengalami cedera ringan akibat terkena reruntuhan. Ia memilih tetap bekerja dan menahan sakit. Saat matahari mulai muncul, hujan akhirnya reda. Suasana perlahan lebih tenang dibanding malam sebelumnya. Banyak korban berhasil diselamatkan.

Di tengah kesibukan tenda medis, tubuh Alena tiba-tiba lemas lalu terjatuh. Ia pingsan karena kelelahan setelah bekerja hampir tanpa istirahat. Beberapa jam kemudian, saat sadar, seorang ibu datang menghampirinya sambil menangis haru.

“Terima kasih sudah menyelamatkan anak saya.”

Alena tersenyum kecil. Meski wajahnya tampak pucat, ada rasa lega karena banyak nyawa berhasil ditolong hari itu. Bencana memang membawa luka dan kehilangan. Namun di tengah keadaan paling sulit, masih ada orang-orang yang tetap berdiri membantu sesama tanpa memikirkan dirinya sendiri. Salah satunya adalah seorang perawat yang memilih tetap kuat demi keselamatan banyak orang.

Firman Setiawan

Penulis: Selvya Muqitasyari

Mahasiswa Universitas Indonesia

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net