NASIONALISME.NET, Depok — Di era pelayanan kesehatan yang semakin berkembang, profesi keperawatan dituntut untuk menunjukkan profesionalisme melalui kompetensi, etika, kemampuan komunikasi, serta kualitas pelayanan kepada pasien. Namun, di tengah perkembangan tersebut, profesi perawat masih sering dipandang berdasarkan stereotip gender yang telah lama berkembang di masyarakat.
Laporan World Health Organization (2022) menunjukkan bahwa tenaga keperawatan di dunia masih didominasi oleh perempuan sehingga profesi ini kerap dikaitkan dengan karakter feminin, seperti lembut, penyayang, dan penuh perhatian. Ketika mendengar kata “perawat”, sebagian masyarakat masih secara spontan membayangkan sosok perempuan dibandingkan laki-laki. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa stigma gender dalam profesi keperawatan masih terus berkembang hingga saat ini.
Profesi perawat memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan. Perawat tidak hanya melakukan tindakan keperawatan, tetapi juga memberikan asuhan secara menyeluruh melalui pendekatan caring, komunikasi terapeutik, empati, serta tanggung jawab profesional dalam memenuhi kebutuhan pasien. Akan tetapi, profesi ini masih sering dianggap lebih sesuai dijalani oleh perempuan karena adanya konstruksi sosial yang menghubungkan sikap mengasuh dan kelembutan dengan perempuan. Akibatnya, laki-laki yang memilih profesi keperawatan sering dipandang kurang cocok berada dalam lingkungan profesi yang identik dengan karakter feminin. Padahal, kemampuan caring bukan ditentukan oleh jenis kelamin, melainkan kemampuan profesional yang dapat dipelajari dan dikembangkan melalui pendidikan maupun pengalaman praktik.
Pandangan masyarakat tersebut kemudian memunculkan bias gender dalam profesi keperawatan. Bias gender terjadi ketika seseorang memperoleh perlakuan atau penilaian yang berbeda berdasarkan jenis kelaminnya. Dalam praktiknya, perawat perempuan sering dianggap lebih telaten dan lebih mampu memberikan pelayanan kepada pasien dibandingkan perawat laki-laki.
Sebaliknya, perawat laki-laki masih sering memperoleh stereotip sebagai individu yang kurang lembut atau kurang memiliki kemampuan caring. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penilaian terhadap profesi keperawatan masih lebih banyak dipengaruhi oleh pandangan sosial dibandingkan kompetensi profesional yang dimiliki tenaga keperawatan. Jika kondisi ini terus berlangsung, profesionalisme perawat dikhawatirkan akan dinilai berdasarkan identitas gender, bukan kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien.
Jika dilihat dari sejarah perkembangan keperawatan, laki-laki sebenarnya telah lama terlibat dalam praktik keperawatan. Namun, perkembangan sosial dan budaya menyebabkan profesi keperawatan semakin didominasi oleh perempuan sehingga muncul anggapan bahwa profesi perawat merupakan pekerjaan perempuan. Dampak dari pandangan tersebut masih terlihat hingga sekarang, di mana jumlah perawat laki-laki di berbagai negara masih jauh lebih sedikit dibandingkan perempuan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stereotip gender masih menjadi hambatan bagi laki-laki dalam memilih profesi keperawatan. Penelitian Zamanzadeh et al. (2023) menjelaskan bahwa perawat laki-laki sering menghadapi stigma sosial, diskriminasi, dan keraguan masyarakat terhadap kemampuan mereka dalam memberikan asuhan keperawatan. Selain itu, penelitian Mohamed dan Mohamed (2022) menunjukkan bahwa mahasiswa laki-laki keperawatan masih mengalami tekanan sosial karena profesi perawat dianggap lebih identik dengan perempuan. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa stigma gender masih menjadi tantangan dalam pengembangan profesionalisme keperawatan di era modern.
Keadaan tersebut tentu bertentangan dengan nilai profesionalisme dalam keperawatan. Profesionalisme seharusnya menempatkan kompetensi, etika, kemampuan komunikasi, tanggung jawab, dan mutu pelayanan sebagai dasar utama dalam menilai seorang perawat, bukan berdasarkan jenis kelaminnya. Perawat laki-laki maupun perempuan memiliki tanggung jawab dan kesempatan yang sama dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada kebutuhan pasien. Sebagai mahasiswa keperawatan, penulis memandang bahwa kualitas seorang perawat seharusnya dinilai dari kemampuan, keterampilan, dan profesionalisme yang dimiliki dalam memberikan pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, stereotip gender dalam profesi keperawatan perlu diminimalkan agar profesi ini dapat berkembang secara lebih profesional dan inklusif.
Stigma gender tidak hanya berdampak pada individu perawat, tetapi juga memengaruhi perkembangan profesi keperawatan secara keseluruhan, termasuk keberagaman tenaga kesehatan dan kualitas kolaborasi dalam pelayanan kesehatan. Hingga saat ini, masih banyak laki-laki yang merasa ragu memilih profesi keperawatan karena khawatir terhadap stigma sosial yang berkembang di masyarakat, seperti anggapan bahwa profesi perawat kurang mencerminkan maskulinitas. Selain itu, minimnya representasi perawat laki-laki dalam lingkungan pendidikan maupun media turut memperkuat stereotip tersebut. Oleh sebab itu, diperlukan upaya yang berkelanjutan untuk membangun citra profesi keperawatan yang lebih terbuka bagi semua gender.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah meningkatkan edukasi mengenai kesetaraan gender sejak masa pendidikan. Institusi pendidikan keperawatan perlu menanamkan pemahaman bahwa profesi perawat merupakan profesi profesional yang dapat dijalani oleh siapa saja yang memiliki kompetensi dan komitmen dalam memberikan asuhan keperawatan. Selain itu, media massa dan organisasi profesi juga memiliki peran penting dalam membangun citra positif mengenai perawat laki-laki maupun perempuan secara seimbang. Kampanye mengenai profesionalisme keperawatan tanpa membedakan gender perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami bahwa kualitas pelayanan kesehatan ditentukan oleh kemampuan dan profesionalisme tenaga kesehatan, bukan oleh jenis kelaminnya. Upaya tersebut juga dapat menjadi langkah penting dalam meningkatkan penghargaan masyarakat terhadap profesi keperawatan secara lebih objektif.
Penelitian Alshammari et al. (2024) menunjukkan bahwa dukungan lingkungan pendidikan dan penerimaan sosial dapat meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa laki-laki dalam menjalani profesi keperawatan. Selain itu, laporan World Health Organization (2022) juga menegaskan bahwa kesetaraan gender dalam tenaga kesehatan merupakan bagian penting dalam menciptakan pelayanan kesehatan yang profesional dan inklusif. Dengan demikian, perubahan stigma masyarakat terhadap gender dalam profesi keperawatan perlu terus dilakukan melalui pendidikan, media, dan lingkungan kerja yang mendukung profesionalisme.
Profesionalisme keperawatan seharusnya dibangun berdasarkan kompetensi, etika, tanggung jawab, dan kualitas pelayanan kepada pasien, bukan berdasarkan stereotip gender. Selama pandangan bahwa profesi perawat identik dengan perempuan masih berkembang di masyarakat, maka kesetaraan dalam profesi keperawatan belum sepenuhnya tercapai. Perawat laki-laki maupun perempuan memiliki peran yang sama penting dalam sistem pelayanan kesehatan.
Oleh karena itu, seluruh pihak, baik institusi pendidikan, organisasi profesi, tenaga kesehatan, maupun masyarakat perlu bersama-sama membangun citra profesi keperawatan yang lebih profesional, inklusif, dan menghargai kompetensi tanpa membedakan jenis kelamin. Dengan terciptanya lingkungan yang lebih terbuka dan bebas dari diskriminasi gender, profesi keperawatan diharapkan dapat semakin dihargai berdasarkan kualitas pelayanan, integritas, dan dedikasi tenaga kesehatan dalam memberikan asuhan kepada pasien.
Daftar Pustaka
- Alshammari, M., Almutairi, N., & Alrashidi, F. (2024). Gender stereotypes and challenges among male nursing students in clinical practice. BMC Nursing, 23(1), 1–9. https://doi.org/10.1186/s12912-024-01852-1
- Mohamed, H. A., & Mohamed, S. S. (2022). Perception of male nursing students toward nursing profession and gender barriers. Egyptian Journal of Health Care, 13(2), 1120–1131.
- World Health Organization. (2022). Delivered by women, led by men: A gender and equity analysis of the global health and social workforce. World Health Organization. https://www.who.int/publications/i/item/9789240015467
- Zamanzadeh, V., Valizadeh, L., Negarandeh, R., & Ghahramanian, A. (2023). Challenges of male nurses in clinical settings: A qualitative study. Nursing Open, 10(4), 2156–2165. https://doi.org/10.1002/nop2.1480












