Berita  

KKN MAHESA UPGRIS 2026 Edukasi Pengelolaan Sampah di Desa Wonodadi, Gandeng BEM dan Pemdes

Avatar photo

NASIONALISME.NET, Kendal — Melalui Kelompok 4 KKN Mahesa yang ditempatkan di Desa Wonodadi mahasiswa menyoroti fenomena sosial dan lingkungan yang cukup pelik di desa dataran tinggi tersebut, yakni maraknya aktivitas pembuangan sampah ke area sungai.

Akar Masalah: Sungai Jadi Jalan Pintas Akibat Tiadanya TPS

Koordinator Kecamatan Desa Wonodadi Anggit Yuga Kusuma dan Kordinator Desa Wonodadi yaitu Desvia Nur Afifah KKN MAHESA UPGRIS menjelaskan bahwa masalah utama di Desa Wonodadi bukan sekadar kurangnya kesadaran, melainkan tidak adanya fasilitas Tempat Pembuangan Sampah (TPS) resmi.

“Kami melakukan studi komparatif dengan metodologi penelitian di Kota Semarang. Di Semarang, warga tertib menyediakan tong sampah di setiap rumah karena mereka tidak punya alternatif lain. Berbeda dengan di Desa Wonodadi yang berada di kawasan pegunungan; keberadaan sungai justru menjadi ‘solusi alternatif yang negatif’ atau jalan pintas bagi warga,” ujarnya Anggit Yuga Kusuma.

Tanpa adanya aturan legalitas yang tegas, kebiasaan membuang sampah ke sungai ini lama-kelamaan bergeser menjadi sebuah “adat” atau kebiasaan kolektif yang dianggap lumrah oleh masyarakat setempat.

Penyerahan Surat Mandat Pemdes Wonodadi.

Langkah Strategis: Bergerak Lewat Mandat Kedinasan

Melihat dampak buruk yang nyata mulai dari pencemaran air, rusaknya ekosistem makhluk hidup sungai, hingga potensi bencana alam akibat penumpukan sampah Kelompok 4 KKN Mahesa UPGRIS tidak tinggal diam.

Mengantongi mandat langsung dari Kepala Desa Wonodadi, Peserta KKN MAHESA 2026 Desa Wonodadi bersama media partner BEM UPGRIS yang diwakili oleh Mochammad Afriano selaku Presiden Mahasiswa BEM UPGRIS 2026 mengambil langkah birokrasi yang konkret. Mereka melayangkan surat permohonan resmi kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kendal. Surat mandat tersebut berisi permohonan fasilitas dan pembuatan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) resmi agar warga memiliki tempat pembuangan yang layak dan berhenti mencemari sungai.

Edukasi Kreatif dan Sentuhan Hidroponik untuk Generasi Muda

Selain bergerak di ranah birokrasi, Peserta KKN MAHESA UPGRIS juga turun ke masyarakat untuk menciptakan agen perubahan (agent of change) dari kalangan remaja dan anak-anak sekolah.

Mahasiswa menggelar edukasi interaktif mengenai masa urai sampah seperti memberikan pemahaman berapa puluh tahun sampah plastik baru bisa hancur dibandingkan dengan sampah organik. Guna memantik ketertarikan, para remaja diajak langsung dalam pelatihan upcycling (daur ulang kreatif), antara lain:

  1. Materi Edukasi Pemilahan Sampah yang akan disampaikan oleh Aninda Julieta Ariyanto
  2. Workshop Hidroponik Wick System dari Botol dan Gelas Bekas yang berjudul “HydroCycle: Transformasi botol bekas menjadi media hidroponik sebagai mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan” yang akan disampaikan oleh Ana Rohmah
  3. Workshop Pembuatan Gantungan Kunci dari Tutup Botol yang disampaikan oleh Anggi Apriliasari
Edukasi Pemanfaatan Sampah.

Edukasi Pemilahan dan Manajemen Sampah Sejak dari Rumah

Tidak sekadar bergerak di ranah birokrasi, KKN Mahesa UPGRIS juga terjun langsung ke masyarakat untuk mencetak agen perubahan (agent of change) dari kalangan generasi muda. Edukasi dimulai oleh Aninda Julieta Ariyanto yang memberikan pemahaman krusial mengenai manajemen pemilahan sampah langsung dari rumah. Dalam narasinya, Aninda membuka mata para peserta mengenai bahaya laten sampah plastik yang membutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk terurai. Ia menegaskan bahwa sungai bukanlah tempat sampah raksasa, dan mengajak warga memutus rantai kebiasaan buruk tersebut dengan memisahkan sampah organik yang dapat membusuk menjadi pupuk serta sampah anorganik yang berpotensi untuk didaur ulang.

Inovasi Pertanian Vertikal Lewat Workshop “HydroCycle”

Guna memberikan solusi nyata terhadap sampah anorganik yang telah terpilah, Ana Rohmah kemudian memimpin sebuah workshop intensif bertajuk “HydroCycle: Transformasi Botol Bekas Menjadi Media Hidroponik sebagai Mewujudkan Lingkungan yang Berkelanjutan”. Dalam sesi ini, Ana mengajak para remaja desa membuktikan bahwa botol dan gelas plastik bekas yang kerap mengotori lingkungan dapat disulap menjadi sistem pertanian vertikal portabel menggunakan Wick System (sistem sumbu). Melalui pemanfaatan kain flanel untuk mengalirkan nutrisi, inovasi HydroCycle ini dirancang tidak hanya untuk menyelamatkan lingkungan Desa Wonodadi dari penumpukan limbah plastik, tetapi juga untuk mendukung kemandirian pangan skala rumah tangga secara murah dan efisien.

Mengasah Kreativitas Pemuda Melalui Upcycling Tutup Botol

Melengkapi rangkaian program taktis tersebut, Anggi Apriliasari hadir memimpin pelatihan edukasi kreatif (upcycling) berupa pembuatan gantungan kunci estetis dengan memanfaatkan limbah tutup botol plastik. Di hadapan para remaja dan anak-anak sekolah, Anggi memberi semangat peserta dengan menunjukkan bahwa barang yang dianggap tidak berharga dan mengotori lingkungan, dapat diubah menjadi karya seni yang memiliki nilai kemanfaatan tinggi jika diolah dengan kreativitas. Melalui sinergi antara advokasi birokrasi ke dinas terkait dan edukasi taktis yang menyentuh akar rumput ini, KKN Mahesa UPGRIS 2026 optimistis dapat mengubah pola pikir masyarakat, menghentikan adat buang sampah di sungai, serta mewujudkan masa depan lingkungan Desa Wonodadi yang bersih, jernih, dan berkelanjutan.

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net