MUTIHAN – Pengendalian hama tikus di area persawahan tidak melulu soal penggunaan pestisida, tetapi juga bisa didekati melalui pembangunan infrastruktur pendukung ekosistem. Membawa semangat tersebut, Ahmadyoso Adinegoro, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Diponegoro (Undip), menginisiasi pembangunan “Smart Owl House” atau Rumah Burung Hantu (RUBUHA) di Desa Mutihan.
Program kerja multidisiplin ini lahir dari observasi lapangan yang menunjukkan minimnya infrastruktur pengendali hama alami di desa tersebut. Meskipun potensi burung hantu (Tyto alba) sebagai predator alami tikus cukup besar, tantangan utama yang dihadapi adalah kondisi tanah persawahan yang lunak dan terbuka. Tanpa perhitungan struktur yang tepat, tiang penyangga rumah burung hantu rentan miring atau roboh akibat beban angin dan ketidakstabilan tanah.
Sebagai seorang mahasiswa teknik sipil, Ahmadyoso tidak hanya sekadar mendirikan tiang. Ia menerapkan prinsip structural engineering dalam perancangannya. “Fokus utamanya adalah stabilitas. Kami merancang struktur sederhana namun kokoh yang mampu mentransfer beban vertikal (berat rumah burung) dan menahan gaya lateral (angin kencang) di tengah kondisi tanah sawah yang memiliki daya dukung rendah,” jelas Ahmadyoso dalam laporannya.
Proses eksekusi di lapangan melibatkan kolaborasi aktif antara mahasiswa KKN dengan kelompok tani setempat. Dalam dokumentasi kegiatan, terlihat proses ereksi (pendirian) tiang penyangga yang dilakukan secara gotong royong. Tiang yang dipilih memiliki rasio kelangsingan yang telah diperhitungkan agar tetap kaku namun efisien, menopang unit rumah burung hantu berwarna putih di puncaknya yang telah didesain tahan cuaca.
Keberadaan Smart Owl House ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang. Secara teknis, struktur ini menjamin keamanan bagi burung hantu untuk bersarang dan memantau mangsa. Secara ekologis, ini adalah langkah konkret memutus rantai perkembangbiakan tikus tanpa merusak lingkungan.
“Luaran dari program ini bukan hanya fisik bangunan, tetapi juga monitoring berkala untuk memastikan struktur tetap tegak dan berfungsi optimal sebagai pos jaga alami bagi para petani Desa Mutihan,” tambah Ahmadyoso.













