Mahasiswa UNTAG Surabaya Ajak Anak-Anak RW 4 Bubutan Tinggalkan Gadget, Pilih Bermain Dakon dan Gobak Sodor Lewat Aplikasi Dolaboyo

Avatar photo

NASIONALISME.NET, SURABAYA — Tawa riang dan sorak-sorai anak-anak memenuhi area terbuka RW 4 Kelurahan Bubutan, Surabaya, pada Minggu sore, 7 Juni 2026. Bukan suara notifikasi gim di ponsel yang terdengar, melainkan derap kaki kecil yang berlari di lapangan gobak sodor dan suara biji-biji dakon yang dijatuhkan ke dalam lubang dengan penuh semangat. Pemandangan langka di era digital ini bukan kebetulan, melainkan buah dari program terstruktur yang dirancang oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) NR05 Kelompok Pilar Sosial Budaya Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya bersama warga setempat.

Jauh sebelum kegiatan berlangsung, kondisi di RW 4 Bubutan telah menjadi perhatian serius. Berdasarkan hasil observasi lapangan dan diskusi terpumpun bersama pengurus RT serta Kader Surabaya Hebat (KSH), anak-anak usia 6–7 tahun di kawasan RT 1, 2, dan 5 diketahui menghabiskan sebagian besar waktu luang mereka dengan bermain gim komersial di ponsel atau menonton konten televisi.

Dampaknya tidak hanya terasa pada berkurangnya aktivitas fisik, tetapi juga merambat ke ranah sosial dan emosional. Anak-anak menjadi lebih egosentris, sulit berbagi, dan mudah meledak emosinya ketika gawai diambil. Interaksi sosial langsung dengan teman sebaya pun kian menipis. Para orang tua mengaku kebingungan mencari cara yang efektif namun tidak menimbulkan konflik untuk membatasi penggunaan gawai.

Kelompok Pilar Sosial Budaya KKN NR05 Untag Surabaya menjadi penggerak utama program ini. Salah satu anggota tim, Cone Aqshal Maulidio, mahasiswa Fakultas Psikologi Untag Surabaya, menegaskan bahwa pendekatan yang dipilih sengaja menghindari pola larangan yang bersifat konfrontatif.

“Anak-anak tidak perlu dipaksa melepas gadget — mereka hanya perlu diberi alasan yang cukup kuat untuk mau melepasnya sendiri.”

— Cone Aqshal Maulidio, Mahasiswa Psikologi Untag Surabaya

Tim membawa solusi kreatif berupa aplikasi Dolaboyo, sebuah platform digital edukatif yang dirancang khusus untuk mengenalkan ragam permainan tradisional secara interaktif. Aplikasi ini cukup mudah diakses — warga cukup mengunduh file instalasi yang telah disediakan langsung oleh mahasiswa KKN NR05, khususnya oleh penanggungjawab program dari Pilar Sosial Budaya. Pendekatan ini dibingkai dalam gerakan bernama “SRAWUNG Tanpa Gadget” — sebuah ajakan kolektif untuk kembali bermain bersama di ruang terbuka.

Selain mahasiswa, warga RW 4 Bubutan, para pengurus RT, dan Kader Surabaya Hebat turut berperan aktif menyukseskan program ini. Ibu Vika, istri dari Ketua RT 02, menjadi salah satu tokoh warga yang terlibat langsung dan memberikan semangat bagi para orang tua lain untuk ikut serta mendampingi anak-anak mereka.

Kegiatan utama digelar di area lingkungan terbuka RW 4 Kelurahan Bubutan, Surabaya, pada Minggu, 7 Juni 2026, mulai pukul 15.00 WIB. Suasana sore yang cerah menjadi latar sempurna bagi 37 anak beserta orang tua mereka yang hadir memadati lokasi.

Mengapa Harus Aplikasi Dolaboyo?

Dari sudut pandang psikologi, pemilihan Dolaboyo sebagai media transisi bukan tanpa dasar ilmiah. Cone menjelaskan bahwa memotong akses anak terhadap teknologi secara paksa justru berpotensi memperkuat resistensi dan memperburuk respons emosional.

“Otak anak yang sedang berkembang sangat responsif terhadap stimulasi yang familiar. Daripada melawan ketertarikan mereka terhadap layar, kami memilih menggunakannya sebagai pintu masuk. Dolaboyo membuat anak penasaran lewat visualisasi digital, lalu rasa penasaran itu yang kami arahkan ke lapangan.”

— Cone Aqshal Maulidio

Melalui modul interaktif Dolaboyo, anak-anak terlebih dahulu diperlihatkan cara bermain permainan tradisional secara visual di layar. Keingintahuan yang tumbuh kemudian menjadi bahan bakar untuk mengajak mereka turun langsung ke lapangan dan mempraktikkannya bersama teman-teman. Teknologi tidak disingkirkan — ia justru dijadikan alat perantara yang cerdas menuju aktivitas yang jauh lebih kaya secara sosial dan emosional.

Kegiatan dibuka dengan sesi edukasi digital parenting bagi para orang tua. Dalam sesi ini, orang tua mendapat pemahaman terstruktur mengenai pentingnya pengawasan penggunaan gawai, cara mengatur screen time yang sehat, serta strategi menyediakan aktivitas alternatif yang menarik bagi anak di rumah. Ibu Vika, istri Ketua RT 02, turut aktif dalam sesi diskusi dan menjadi jembatan komunikasi antara tim mahasiswa dan para orang tua di lingkungan RT 02.

Sementara itu di lapangan, anak-anak diperkenalkan pada aplikasi Dolaboyo. Dengan mata berbinar, mereka menyimak panduan permainan tradisional yang disajikan secara visual dan interaktif. Tidak butuh waktu lama sebelum antusiasme itu berubah menjadi aksi nyata.

Sesi permainan pun dimulai. Kelompok-kelompok kecil terbentuk secara alami. Di satu sudut lapangan, bunyi biji dakon mengalun ritmis. Di sudut lain, seruan dan tawa lepas mengiringi sesi gobak sodor yang sengit. Sementara lompat tali mengundang antrean panjang anak-anak yang tak sabar menunggu giliran.

“Kami menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak yang tadinya lebih memilih layar ponsel, dalam hitungan menit sudah berlarian dan tertawa lepas bersama teman-temannya. Itulah yang dari awal ingin kami hadirkan kembali.”

— Cone Aqshal Maulidio

Di balik kesenangan yang tampak di permukaan, sesuatu yang lebih bermakna sedang berlangsung. Anak-anak belajar menunggu giliran dengan sabar, bernegosiasi soal aturan, bekerja sama dalam tim, dan mengelola perasaan ketika kalah — keterampilan sosio-emosional yang hampir mustahil diasah melalui permainan digital individual.

Evaluasi yang dilakukan tim pelaksana menunjukkan perubahan nyata dan terukur. Ketertarikan anak terhadap permainan tradisional yang sebelumnya rendah melonjak drastis menjadi tinggi. Interaksi sosial antara anak meningkat signifikan selama sesi berlangsung. Aktivitas fisik yang nyaris nihil berganti dengan gerakan aktif penuh energi. Dan yang paling mencolok: penggunaan gawai selama kegiatan berhasil ditekan secara signifikan.

Di sisi orang tua, partisipasi yang sebelumnya pasif berubah menjadi keterlibatan aktif dalam mendampingi anak. Beberapa orang tua bahkan melaporkan bahwa seusai kegiatan, anak-anak mereka secara spontan meminta kembali bermain permainan tradisional — sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ketua RW 4 Bubutan, Bapak Amir, menyambut program ini dengan antusias. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut secara berkala. Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa dan warga seperti ini adalah bentuk nyata kepedulian bersama terhadap tumbuh kembang generasi muda di lingkungan mereka.

“Kami sadar durasi kegiatan masih singkat dan belum bisa mengukur perubahan jangka panjang. Tapi setidaknya hari itu kami membuktikan satu hal — ketika anak diberi pilihan yang menarik dan ruang untuk merasakannya langsung, mereka tidak butuh paksaan untuk meninggalkan layar mereka. Mereka meninggalkannya dengan senang hati.”

— Cone Aqshal Maulidio

Melalui kolaborasi antara mahasiswa KKN NR05 Kelompok Pilar Sosial Budaya Untag Surabaya dan warga RW 4 Kelurahan Bubutan, sebuah pesan sederhana namun kuat telah disampaikan: melindungi anak dari dampak negatif gawai tidak harus dilakukan dengan konfrontasi. Cukup hadirkan dunia yang lebih menarik di luar layar — dan biarkan mereka yang memilih.

Catatan Redaksi

Berita ini ditulis berdasarkan laporan program pengabdian masyarakat KKN NR05 Kelompok Pilar Sosial Budaya Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya di RW 4 Kelurahan Bubutan, Surabaya, 7 Juni 2026.

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net