NASIONALISME.NET, Tangerang — Dalam bait-bait Sajak Tafsir, Sapardi Djoko Damono menuliskan gugatan yang sangat tajam terhadap kecenderungan manusia yang suka menghakimi sesamanya secara sepihak. Beliau menulis,
“Siapa gerangan berani menafsirkanku sebagai awan yang menjadi merah ketika senja? Aku batu.” Pada bagian lain, beliau kembali menggugat, “Aku sungai, biar saja. Siapa kau yang merasa berhak menafsirkanku sebagai batu?”
Baris-baris pemberontakan yang lahir sekitar dua dekade lalu itu kini bertransformasi menjadi kritik yang sangat akurat bagi realitas jagat digital kita hari ini. Di era ketika informasi bergerak secepat kedipan mata, kita telah berubah menjadi masyarakat yang sangat gemar memaksakan label kepada orang lain. Cukup dengan melihat potongan video berdurasi belasan detik atau membaca sepotong teks di lini masa, kita langsung merasa memiliki hak penuh untuk merumuskan seluruh kepribadian dan moralitas seseorang, tanpa pernah peduli apakah tafsiran instan kita itu benar atau justru melesat jauh dari kenyataan.
Lini masa telah menghapus jarak yang dibutuhkan manusia untuk mengendapkan pikiran sebelum melahirkan sebuah penilaian. Media sosial memaksa segala hal untuk tampil telanjang, gamblang, dan hitam-putih tanpa menyisakan ruang sedikit pun bagi ambiguitas atau ketidaktahuan. Setiap foto estetis harus didikte maknanya lewat untaian kata penjelas yang panjang, setiap video harus dikurasi dengan teks pemandu agar penonton tidak salah menangkap emosi, dan setiap peristiwa harus segera dicarikan siapa yang salah dan siapa yang benar. Kita kehilangan kemampuan esensial untuk menerima bahwa ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa dipahami hanya dengan sekali lihat. Kita menjadi ketakutan pada ketidakpastian rasa, sehingga kita memilih untuk menghakimi secara terburu-buru daripada harus meluangkan waktu untuk memahami sebuah konteks yang rumit.
Kondisi ini perlahan-lahan melahirkan sebuah budaya baru yang sangat berisiko bagi masa depan diskusi publik, yaitu tirani pemaksaan tafsir tunggal. Ketika ruang publik kita dipenuhi oleh jutaan orang yang merasa telah mengenali sesamanya hanya dari sekilas potongan konten di layar gawai, perdebatan yang muncul tidak lagi murni untuk mencari kebenaran. Diskusi bergeser menjadi ajang saling menjatuhkan dengan menggunakan potongan bukti yang dangkal sebagai senjata utama. Manusia tidak lagi dihargai sebagai makhluk kompleks yang memiliki banyak lapisan emosi dan latar belakang, melainkan diringkas menjadi sekadar komoditas digital yang siap disembelih secara massal di kolom komentar kapan saja mereka melakukan kesalahan kecil yang tidak sesuai dengan selera kebanyakan.

Ketidakmampuan kita untuk menjeda penilaian ini sebenarnya berakar dari bagaimana cara lini masa mendikte perhatian kita setiap hari. Jagat digital tidak pernah dibangun untuk merawat kedalaman sebuah gagasan, melainkan untuk merayakan permukaan yang bisa dikunyah dan ditelan dalam hitungan detik. Kita terus-menerus disodori oleh arus informasi yang meluap tanpa henti, yang secara perlahan memaksa otak kita untuk selalu mengambil kesimpulan paling cepat demi bisa berpindah ke menu berikutnya. Proses membaca manusia yang membutuhkan waktu, kesabaran untuk mendengarkan, serta kerelaan untuk memahami latar belakang yang rumit, kini dianggap sebagai kegagalan sistemik yang membuang waktu. Kita menjadi sangat malas untuk meneliti sebuah peristiwa secara mandiri karena platform sudah menyediakan sentimen massal yang siap kita adopsi tanpa perlu bersusah payah berpikir lagi.
Ironinya, ketika kita merasa paling lantang menegakkan moralitas di kolom komentar, kita sebenarnya sedang melakukan kekerasan tafsir yang paling purba. Kita dengan sangat angkuh merasa tahu apa yang paling benar bagi hidup orang lain hanya dari sepotong gambar atau sebaris kalimat yang melintas di layar gawai. Persis seperti protes yang disuarakan dalam sajak Sapardi, kita memaksa sungai menjadi batu dan menuntut sawah menjelma menjadi kota hanya karena kita enggan melihat mereka apa adanya. Manusia di internet tidak lagi dihargai sebagai mahluk yang utuh dan memiliki ruang abu-abu di dalam dirinya, melainkan diringkas menjadi sekadar objek dekoratif yang harus selalu tunduk pada selera penonton yang haus akan drama baru setiap pagi.
Kecenderungan untuk menyederhanakan realitas ini lama-kelamaan mengubah kita menjadi masyarakat yang sangat rapuh dan mudah meledak. Kita kehilangan daya tahan untuk menghadapi perbedaan sudut pandang karena kita sudah terbiasa dengan menu lini masa yang selalu menyuapi ego kita dengan hal-hal yang seragam. Ketika ada sebuah narasi yang sedikit saja melenceng dari apa yang kita percayai, kita tidak lagi memiliki ruang di dalam kepala untuk berdialog secara sehat melainkan langsung menyalakan api penghakiman massal. Kita melupakan fakta mendasar bahwa hidup di dunia nyata selalu bergerak di antara ketidakpastian yang membutuhkan ketabahan hati untuk merenungkannya, bukan ruang hitam-putih yang bisa diputuskan secara sepihak hanya lewat sekali ketukan jari yang dingin.

Melihat segala riuh rendah di jagat digital hari ini, kita mungkin perlu kembali menengok bait terakhir dari Sajak Tafsir yang ditulis oleh Sapardi. Beliau menutup rangkaian sajak tersebut dengan sebuah kepasrahan sekaligus perlawanan yang sunyi nan abadi,
“Jangan tafsirkan aku sebagai apa pun sebab aku tidak pernah ada dan tidak akan ada. Aku tidak memerlukan bahasa.”
Larik ini seolah menjadi sebuah tamparan lembut bagi kita semua yang selalu merasa berhak mendefinisikan mahluk lain. Sapardi mengingatkan bahwa ada bagian paling sakral dari diri manusia yang tidak akan pernah bisa ditangkap oleh bahasa, apalagi oleh sepotong teks singkat atau potongan video belasan detik yang melintas di layar gawai kita setiap hari. Kesadaran untuk berhenti melabeli dan berani mengambil jarak dari kegilaan lini masa adalah langkah awal untuk menyelamatkan kemanusiaan kita yang perlahan mulai terkikis.
Tanggung jawab untuk mengembalikan martabat ruang tafsir ini kini berada di tangan kita, terutama sebagai generasi yang setiap hari mengonsumsi dan memproduksi narasi di ruang publik. Kita harus mulai memiliki keberanian untuk menjadi tidak tahu, sebuah keberanian untuk tidak ikut bersuara dalam setiap isu yang sedang ramai dibicarakan jika kita memang belum memahami konteksnya secara utuh.
Berhenti menghakimi secara terburu-buru bukan berarti kita kalah atau tertinggal oleh zaman, melainkan sebuah bentuk penghormatan tertinggi terhadap kompleksitas hidup manusia itu sendiri. Mari kembali belajar untuk melihat sesama bukan sebagai angka atau komoditas digital yang siap diberi label, melainkan sebagai mahluk yang utuh, yang memiliki ruang sunyinya sendiri, dan yang berhak untuk tidak ditafsirkan secara sembarangan oleh kedangkalan isi kepala kita.












