Mahasiswa Magister Agribisnis UNSOED Dorong Kebijakan Diversifikasi Pemanfaatan Pangan Lokal yang Lebih Inklusif di Jawa Tengah

Avatar photo

NASIONALISME.NET, Purwokerto — Di tengah maraknya ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, perubahan iklim, dan fluktuasi perdagangan internasional, isu ketahanan pangan menjadi perhatian penting bagi setiap daerah, termasuk di Jawa Tengah. Ketergantungan masyarakat terhadap beras sebagai pangan utama membuat sistem pangan rentan ketika terjadi gangguan distribusi, kenaikan harga energi, maupun inflasi pangan global. Oleh karena itu, diversifikasi pangan lokal menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah.

Salah satu bentuk nyata diversifikasi pangan di Jawa Tengah terlihat melalui berkembangnya penjualan dan konsumsi beras porang serta mi mocaf. Kedua produk ini mulai mendapat perhatian masyarakat karena tidak hanya mendukung ketahanan pangan, tetapi juga membuka peluang agribisnis lokal berbasis sumber daya daerah.

Beras porang merupakan produk olahan dari tanaman porang yang banyak dibudidayakan di beberapa wilayah Jawa Tengah. Produk ini dikenal memiliki kandungan serat tinggi dan indeks glikemik rendah sehingga diminati sebagai alternatif pangan sehat. Di sisi lain, mi mocaf yang berbahan dasar Modified Cassava Flour (tepung singkong fermentasi) menjadi inovasi pangan lokal yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap tepung terigu impor.

Pengembangan produk mocaf memiliki nilai strategis karena Indonesia masih bergantung pada impor gandum sebagai bahan baku tepung terigu. Ketika konflik global menyebabkan gangguan perdagangan internasional dan kenaikan harga komoditas, ketergantungan impor dapat menjadi ancaman bagi stabilitas pangan nasional maupun daerah. Kehadiran mi mocaf menjadi solusi lokal yang memanfaatkan potensi singkong sebagai komoditas unggulan pedesaan.

Dalam perspektif agribisnis internasional, diversifikasi pangan lokal bukan hanya soal variasi konsumsi, tetapi juga strategi menghadapi risiko global supply chain. Krisis internasional seperti perang Amerika–Iran dapat memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada biaya logistik, distribusi pangan, dan harga bahan baku impor. Kondisi tersebut dapat memengaruhi harga pangan di tingkat daerah.

Selain itu, tren konsumsi pangan sehat juga menjadi peluang pasar yang besar. Beras porang banyak diminati konsumen yang menjalani pola hidup sehat maupun penderita diabetes, sedangkan mi mocaf mulai diterima sebagai alternatif pangan bebas gluten dan berbasis lokal. Hal ini menunjukkan bahwa diversifikasi pangan tidak hanya berfungsi sebagai strategi ketahanan pangan, tetapi juga sebagai peluang pengembangan ekonomi agribisnis.

”Dalam dinamika rantai pasok dan ekonomi pangan internasional, saya melihat bahwa kebijakan diversifikasi pangan lokal di Jawa Tengah saat ini masih terjebak dalam zona ”elite” atau sekedar komoditas pameran semata. Kebijakan diversifikasi pangan ini hanya akan menjadi jargon politik tanpa adanya dampak ekonomi yang nyata bagi petani kecil maupun konsumen kelas menengah ke bawah bila tidak diimbangi dengan inklusivitas pelaksanaan program.”- Faizah Noviani

Faizah sebagai mahasiswa magister agribisnis Universitas Jenderal Soedirman, turut menyoroti bahwa realita kebijakan diversifikasi pangan di lapangan cukup menculik perhatian. Hal ini dikarenakan pemberlakuan harga pangan beras porang maupun mi mocaf per kilogramnya jauh lebih mahal daripada beras premium sekalipun.

”Seharusnya diversifikasi pangan itu harus berpotensi membangun kedaulatan pangan yang bisa diakses semua lini masyarakat, mulai dari tukang becak, buruh pabrik, hingga masyarakat yang jauh dari pusat kota.” – Kiki Puspita

Menurut Kiki, mahasiswa magister agribisnis UNSOED, ada tiga langkah strategis yang bisa Pemerintah lakukan dari kacamata akademis agribisnis untuk mendorong kebijakan diversifikasi pangan yang lebih inklusif di Jawa Tengah, yaitu dengan cara : Pemberian subsidi; Mengintegrasikan sistem pengadaan pangan daerah; dan Pendampingan yang terintegrasi.

Adanya anomali pasar dan kebijakan ini sejalan dengan apa yang dipelajari di ruang kuliah. Ketidakmampuan pangan lokal bersaing di pasar domestik bukan karena kualitasnya kalah, melainkan juga dikarenakan kegalalan kita dalam membangun efisiensi rantai nilai global.

Irene Kartika Eka Wijayanti selaku dosen pengampu mata kuliah Agribisnis Internasional, menyebut bahwa secara makro kita tidak bisa mengisolasi diri dari perdagangan internasional, namun kita bisa mengatur strategi pertahanan domestik. Komoditas seperti porang dan mocaf selama ini gagal menjadi pangan pokok alternatif karena struktur pasarnya terfragmentasi. Selama biaya logistik domestik dari desa ke pabrik pengolahan di Jawa Tengah masih lebih mahal daripada biaya menghadirkan gandum dari luar negeri, pangan lokal akan selalu kalah saing secara harga.

Intervensi pemerintah tidak boleh hanya menyentuh aspek promosi atau hilirisasi setengah matang. Harus ada kebijakan substitusi impor yang tegas dan terukur. Jika pemerintah daerah mampu menciptakan ekosistem di mana skala ekonomi pengolahan pangan lokal ini tercapai, maka ‘hambatan non-tarif’ secara alami akan terbentuk untuk melindungi ekonomi peternak dan petani kita dari gempuran produk impor.

Pandangan dosen tersebut mempertegas bahwa diversifikasi pangan bukan sekadar urusan agronomis atau budidaya tanaman di ladang, melainkan sebuah instrumen kebijakan ekonomi internasional strategis. Pemerintah harus mampu membaca pergerakan pasar dunia agar komoditas lokal kita tidak terus-menerus menjadi korban di rumah sendiri.

Pemerintah daerah tidak bisa hanya mengimbau masyarakat untuk “cinta pangan lokal” tanpa intervensi harga. Pengolahan pangan lokal ini harus didekatkan ke sentra produksi petani. Pemerintah bisa memandatkan agar diversifikasi pangan lokal seperti beras porang dan mie mocaf dapat dimasukkan ke program bantuan sosial daerah, mewajibkan penyediaan menu pangan lokal non beras atau non gandum dalam program makan bergizi gratis, serta memasokkan komoditas pangan lokal di hotel, resto, dan lainnya untuk menyerap hasil taninya.

Namun, pemerintah perlu mengimbangi dengan pengadaan pendampingan rantai pasok yang terintegrasi bagi petani agar tercipta kepastian harga, benih unggul dan teknologi pengolahan pascapanen yang memadai.

Dengan demikian, pengembangan dan penjualan beras porang serta mi mocaf dapat menjadi contoh nyata bagaimana diversifikasi pangan lokal mampu menjadi benteng ketahanan pangan daerah di tengah gejolak krisis global. Ketahanan pangan masa depan tidak hanya bergantung pada ketersediaan beras, tetapi juga pada kemampuan daerah memanfaatkan potensi pangan lokal secara inovatif dan berkelanjutan.

Penulis: Kiki Puspitasari, Faizah Noviani (Mahasiswa Magister Agribisnis, Universitas Jenderal Soedirman) dan Dr. Irene Kartika Eka Wijayanti, S.P., M.P. (Dosen Fakultas Pertanian dan Pasca Sarjana, Universitas Jenderal Soedirman)

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net