NASIONALISME.NET, Tulungagung — Di era digital seperti sekarang, perkembangan teknologi semakin cepat, salah satunya adalah Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Teknologi ini mulai digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, bisnis, hingga komunikasi. Tidak terkecuali dalam bidang dakwah Islam. Teknologi AI juga digunakan untuk membuat konten ceramah, subtitle otomatis, desain dakwah digital, hingga membantu penyebaran kajian melalui media sosial seperti TikTok, YouTube, dan Instagram. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul juga tantangan baru berupa penyebaran informasi palsu atau deepfake.
Pada tahun 2024, kasus penyalahgunaan AI menjadi perhatian publik di Indonesia. Salah satu yang ramai dibahas adalah penggunaan teknologi deepfake yang mampu meniru wajah dan suara seseorang sehingga terlihat seperti asli. Teknologi ini digunakan untuk membuat video manipulasi tokoh publik dan disebarkan di media sosial.
Dalam laporan media, video AI yang menampilkan Presiden ke-2 RI, Soeharto, sempat digunakan dalam konten kampanye politik dan menjadi viral di media sosial. Video tersebut dibuat menggunakan teknologi AI untuk menampilkan kembali sosok Soeharto seolah-olah sedang berbicara kepada masyarakat. Selain itu, terdapat juga kasus video deepfake yang meniru suara dan wajah Presiden Prabowo Subianto untuk penipuan digital di media sosial.
Fenomena ini kemudian menimbulkan kekhawatiran dalam dunia dakwah. Banyak pihak menilai teknologi serupa dapat digunakan untuk membuat video ceramah palsu yang mengatasnamakan ustadz atau tokoh agama tertentu. Jika masyarakat tidak teliti, informasi palsu tersebut bisa dipercaya begitu saja dan berpotensi menimbulkan fitnah maupun kesalahpahaman di tengah para pengikutnya.
Kementerian Komunikasi dan Informatika bahkan menyatakan bahwa ribuan akun dan konten deepfake telah ditindak sepanjang tahun 2024 karena dianggap meresahkan masyarakat digital Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penyalahgunaan AI sudah menjadi persoalan nyata yang perlu diawasi bersama.
Meski begitu, AI juga memberikan peluang besar dalam perkembangan dakwah modern. Banyak pendakwah kini memanfaatkan AI untuk memperluas jangkauan dakwah kepada generasi muda. Teknologi ini membantu proses editing video, penerjemahan ceramah, hingga pembuatan konten singkat yang lebih mudah dipahami masyarakat digital.
Penggunaan AI dalam dakwah mulai meningkat sejak masyarakat terbiasa menggunakan platform online setelah pandemi COVID-19. Kajian agama kini tidak hanya dilakukan di masjid atau majelis, tetapi juga melalui live streaming, podcast, dan media sosial. Dengan bantuan AI, penyebaran dakwah menjadi lebih cepat dan dapat menjangkau masyarakat luas dalam waktu singkat.
Namun para ahli teknologi mengingatkan bahwa penggunaan AI tetap harus disertai etika dan literasi digital. Masyarakat diminta lebih berhati-hati dalam menerima informasi di internet, terutama yang berkaitan dengan agama dan tokoh publik. Pemeriksaan sumber informasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh video atau suara hasil manipulasi AI.
Perkembangan AI diperkirakan akan terus meningkat di masa depan. Dalam dunia dakwah, teknologi ini dapat menjadi peluang baru untuk menyebarkan nilai-nilai Islam secara kreatif dan modern. Akan tetapi, tanpa pengawasan dan penggunaan yang bijak, AI juga dapat menjadi tantangan baru yang memicu penyebaran hoaks dan informasi menyesatkan di media digital.











