Skandal Kopenhagen: Saat AI Punya Data, Tapi Peneliti Kehilangan Moral

Avatar photo

NASIONALISME.NET, Tangerang — Di Kopenhagen, Mei 2026, seorang peserta konferensi ilmiah internasional tampil berganti-ganti nama, berganti pakaian, berganti jilbab. Wajahnya sama. Riset yang ia bawakan mencantumkan lokasi penelitian di Peru, Ethiopia, Guatemala, Lebanon, sampai Kenya. Semua dilakukan oleh peneliti dari Indonesia, tanpa kolaborator lokal, tanpa izin etik, tanpa riset yang pernah benar-benar ada. Datanya dibuat oleh AI. Posternya dicetak di kertas HVS A4.

Kasus ini viral. Nama-nama pelaku beredar di media sosial. DPR meminta investigasi. Tapi di tengah kegaduhan itu ada satu pertanyaan yang nyaris tidak pernah diajukan. Apakah AI yang salah? Jawabannya tidak. AI hanya mengerjakan apa yang diperintahkan. Yang memerintahkannya untuk berbohong adalah manusia.

Teknologi tidak punya moral. AI yang dipakai untuk memalsukan data di Kopenhagen adalah alat yang sama yang digunakan para peneliti di seluruh dunia untuk mempercepat analisis genomik, mendeteksi pola penyebaran penyakit, dan membantu dokter membaca hasil CT scan. Ia tidak tahu perbedaan antara penelitian yang jujur dan yang tidak. Yang tahu perbedaan itu adalah orang yang duduk di depannya.

Kampus-kampus Indonesia mulai membahas etika AI, tapi yang dibahas baru sebatas aturan penggunaan. Boleh pakai untuk brainstorming, tidak boleh menyalin mentah-mentah. Tidak ada yang benar-benar mengajarkan mahasiswanya untuk bertanya lebih jauh, kapan AI tidak boleh dipakai sama sekali? Padahal itulah pertanyaan yang paling penting. Kita menghasilkan orang yang tahu caranya, tapi tidak tahu batasnya.

Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, saya tahu persis betapa mudahnya membuat sesuatu terlihat meyakinkan dengan AI. Terlalu mudah. Grafik bisa dibuat dalam menit. Abstrak bisa disusun dalam hitungan detik. Data bisa terlihat koheren bahkan saat tidak ada satupun yang nyata. Justru karena kemudahan itulah, pertanyaan moral menjadi lebih penting, bukan lebih ringan. Kalau hambatan teknisnya sudah hilang, yang tersisa hanya satu. Apakah kamu mau jujur atau tidak.

Pelaku di Kopenhagen bukan korban teknologi. Mereka tahu apa yang mereka lakukan, dan mereka memilih melakukannya. Selama kita terus menyalahkan alatnya, kita akan terus mengabaikan masalah yang sesungguhnya. Dan kasus serupa hanya tinggal menunggu forum berikutnya.

Firman Setiawan

Penulis: Rajwaa Nazir Yatim

Mahasiswa Universitas Pamulang

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net