NASIONALISME.NET, Serang — Peralihan dari kendaraan berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik sering dipandang sebagai langkah penting dalam mengurangi emisi karbon dan mengatasi perubahan iklim. Berbagai negara, termasuk Indonesia, mulai mendorong penggunaan kendaraan listrik melalui berbagai kebijakan dan insentif. Namun, pertanyaan yang masih sering muncul adalah: apakah mobil listrik benar-benar lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil konvensional?
Pertanyaan tersebut menjadi fokus penelitian yang saya lakukan telah dipublikasikan pada BICONE (Bhinneka International Conference) 2025 melalui artikel berjudul Toward Greener Mobility: Comparing Environmental Footprint of Electric and Conventional Vehicles. Penelitian ini menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) untuk membandingkan dampak lingkungan kendaraan listrik (Battery Electric Vehicles) dan kendaraan berbahan bakar fosil (Internal Combustion Engine Vehicles) dari hulu hingga hilir.
Hasil penelitian menunjukkan fakta yang mungkin mengejutkan banyak orang. Pada tahap produksi, kendaraan listrik justru menghasilkan jejak karbon yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional. Penyebab utamanya adalah proses pembuatan baterai lithium-ion yang membutuhkan energi besar serta material kritis seperti lithium, nikel, dan kobalt. Emisi pada tahap manufaktur kendaraan listrik dapat mencapai 1,5 hingga 2 kali lebih tinggi dibandingkan kendaraan konvensional yang sekelas.
Temuan ini sering digunakan oleh kelompok yang meragukan manfaat kendaraan listrik. Namun jika analisis dihentikan hanya pada tahap produksi, maka kesimpulan yang dihasilkan menjadi tidak utuh. Kendaraan merupakan produk yang digunakan selama bertahun-tahun, sehingga evaluasi lingkungan harus dilakukan sepanjang siklus hidupnya.
Ketika memasuki fase penggunaan, kendaraan listrik menunjukkan keunggulan yang sangat signifikan. Tidak adanya emisi langsung dari knalpot membuat kendaraan listrik mampu menekan emisi gas rumah kaca secara drastis. Selain itu, efisiensi energi kendaraan listrik jauh lebih tinggi dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak. Berbagai kajian menunjukkan bahwa kendaraan listrik mampu memanfaatkan energi 2,5 hingga 4 kali lebih efisien dibandingkan kendaraan konvensional.

Meski demikian, manfaat lingkungan kendaraan listrik tidak berdiri sendiri. Faktor yang sangat menentukan adalah sumber listrik yang digunakan untuk pengisian daya. Apabila listrik berasal dari pembangkit energi terbarukan seperti tenaga surya, air, atau angin, maka keuntungan lingkungan kendaraan listrik menjadi sangat besar. Sebaliknya, jika listrik masih didominasi pembangkit batu bara, maka pengurangan emisi yang diperoleh menjadi lebih kecil.
Dengan kata lain, transisi menuju kendaraan listrik harus berjalan beriringan dengan transisi menuju energi bersih. Mengganti kendaraan bensin dengan kendaraan listrik tanpa memperbaiki bauran energi nasional hanya akan memindahkan sumber emisi dari jalan raya ke pembangkit listrik.

Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan baterai setelah masa pakainya berakhir. Penelitian menunjukkan bahwa baterai kendaraan listrik masih memiliki nilai ekonomi dan teknis yang tinggi. Baterai yang tidak lagi optimal untuk kendaraan masih dapat dimanfaatkan sebagai penyimpanan energi untuk rumah tangga maupun pembangkit energi terbarukan. Setelah itu, material penting di dalamnya dapat didaur ulang dan digunakan kembali untuk memproduksi baterai baru.

Bagi Indonesia, temuan ini memberikan pesan yang jelas. Pengembangan kendaraan listrik harus diikuti dengan percepatan energi terbarukan, pembangunan industri daur ulang baterai, serta penguatan rantai pasok mineral yang berkelanjutan. Tanpa itu, manfaat lingkungan yang diharapkan tidak akan tercapai secara optimal.

Penelitian saya menyimpulkan bahwa kendaraan listrik tetap memiliki keunggulan lingkungan dibandingkan kendaraan konvensional jika dilihat dari keseluruhan siklus hidupnya. Memang benar bahwa kendaraan listrik tidak sepenuhnya bebas emisi. Namun, dibandingkan kendaraan berbahan bakar fosil, kendaraan listrik tetap menawarkan peluang terbesar untuk menurunkan emisi sektor transportasi di masa depan.
Karena itu, perdebatan yang seharusnya tidak lagi berkisar pada pilihan antara mobil listrik atau mobil bensin. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana memastikan listrik yang digunakan semakin bersih, baterai semakin berkelanjutan, dan sistem transportasi semakin rendah karbon. Di situlah masa depan mobilitas hijau sesungguhnya ditentukan.












