Dongo terhadap Sejarah: Penyakit Baru Generasi yang Sibuk Menghujat

Avatar photo

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Kutipan Pramoedya Ananta Toer ini rasanya makin relevan di tengah hiruk pikuk dunia digital yang makin ngga masuk akal. Kita hidup di zaman di mana ingatan manusia kayaknya makin pendek. Kita gampang banget kepancing narasi yang lewat di beranda, ikut marah, ikut menghakimi, lalu ngerasa udah jadi orang paling benar di hari itu. Tapi lucunya, besok pagi kita udah lupa apa yang sebenernya kita permasalahkan. Kita cuma jadi pion yang gampang digerakkan oleh algoritma media tanpa pernah mau meluangkan waktu buat nengok sedikit ke belakang.

Pramoedya Ananta Toer – Wikipedia

Masalahnya, kita kayak lagi kena amnesia kolektif yang akut. Kita cenderung ngeliat peristiwa hari ini sebagai kejadian yang berdiri sendiri, seolah-olah semuanya lahir dari ruang hampa. Padahal kalau kita mau lebih teliti, pola-pola kebencian atau provokasi yang hari ini kita temui itu sebenarnya cuma pengulangan dari masa lalu yang dibungkus dengan baju baru. Kita terlalu malas buat membaca sejarah, terlalu sibuk menelan bulat-bulat apa yang disuapkan layar gawai. Akibatnya, kita jadi manusia yang mudah terframing, yang kehilangan kemampuan buat berpikir jernih karena kita ngga punya akar ingatan yang kuat buat menopang opini kita sendiri.

Sastra, kayak yang ditulis Pram, mungkin kelihatan kuno dan ngga ada hubungannya sama isu viral hari ini. Tapi sebenarnya, karya-karya kayak gitu adalah pengingat bahwa manusia tanpa sejarah itu ibarat pohon tanpa akar, gampang tumbang cuma karena hembusan angin digital yang ngga seberapa.

Ironisnya lagi, di tengah kebiasaan kita yang malas menengok sejarah, kita malah jadi jago banget dalam hal menghujat. Kalau ada orang yang punya pendapat beda, bukannya ngebahas pola pikirnya, yang diserang malah personalnya. Habis itu disebar deh foto atau identitasnya, seolah-olah dengan menjatuhkan martabat orang lain, argumen mereka otomatis jadi paling benar. Padahal, cara-cara rendahan kayak gitu cuma nunjukin kalau mereka sebenarnya ngga punya argumen yang cukup kuat buat diajak diskusi.

Gue beneran muak sama pola kayak gini. Bukannya fokus ke esensi masalah atau ngomongin sistem yang bikin masalah itu ada, banyak orang malah terjebak jadi hakim jalanan yang merasa berhak menghancurkan hidup orang cuma karena perbedaan sudut pandang. Mereka lupa kalau di zaman kolonial dulu, musuh utama Minke bukan cuma penjajah, tapi juga mereka yang cuma bisa menghamba pada opini massa tanpa punya keberanian buat berpikir sendiri. Dan hari ini, keberanian buat berpikir sendiri itu kayaknya makin langka karena orang lebih milih aman dengan ikut arus menghujat daripada repot-repot memahami konteks yang lebih luas.

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.”

— Pramoedya dalam Bumi Manusia

Kutipan ini kayak tamparan keras buat realita kita hari ini. Adil dalam pikiran itu ngga bisa instan, apalagi kalau kita cuma dapet informasi sepotong-sepotong dari judul berita yang emang sengaja dibuat provokatif. Sayangnya, banyak orang lebih milih buat langsung “eksekusi” lewat kolom komentar daripada harus meluangkan waktu buat verifikasi atau sekadar mikir dari sudut pandang yang lain. Kita ngerasa udah paling benar, padahal kita cuma lagi jadi korban framing yang sama sekali ngga nyentuh substansi masalahnya.

Keadilan yang diomongin Pram itu ngga bakal bisa tumbuh kalau kita masih hobi melabeli orang lain dengan-stigma-stigma kasar. Pas kita ngga suka sama argumen seseorang, kita seharusnya bedah pola pikirnya, kita cari tahu kenapa dia bisa mikir kayak gitu. Kalaupun kita tetep ngga setuju, ya kita lawan pakai argumen yang lebih masuk akal. Bukan malah nyerang fisik, ngebongkar kehidupan pribadinya, apalagi sampai ngerasa bangga karena udah bikin orang lain malu di depan publik. Itu bukan cara berpikir orang terpelajar, itu cuma cara orang-orang yang kalah sama egonya sendiri. Kalau kita terus-terusan begini, selamanya kita cuma bakal jadi kerumunan yang ribut, bukan masyarakat yang cerdas.

Pramoedya Ananta Toer – Wikipedia

Ya intinya, opini ini bukan tentang siapa yang paling pintar atau siapa yang punya suara paling nyaring di media sosial. Ini tentang pilihan sadar untuk tidak menjadi bagian dari kerumunan yang cuma bisa merusak. Berhentilah jadi orang yang cuma bisa menunggu disuapi informasi, lalu main hakim sendiri karena merasa paling benar. Menjadi kritis memang ngga gampang, tapi itu satu-satunya cara supaya kita ngga terus-terusan diombang-ambing narasi yang sengaja dibikin buat memecah belah.

Kalau kita memang mau dibilang beradab, mulailah dengan memperlakukan informasi secara bertanggung jawab dan melihat pola pikir orang lain, bukan sekadar menghakimi sosoknya. Kita butuh sejarah, butuh akal sehat, dan yang terpenting, keberanian untuk mengakui kalau kita belum tahu apa-apa sebelum benar-benar mempelajarinya.

Dan keberadaban kita ngga diukur dari seberapa keras kita menghujat, tapi dari seberapa dalam kita berpikir sebelum bertindak. Sebab kalau kita terus membiarkan diri gampang terframing, jangan kaget jika suatu saat nanti kita cuma jadi sejarah yang dilupakan, atau lebih parah lagi, sejarah yang sama sekali ngga berarti karena kita ngga pernah berbuat apa-apa.

Firman Setiawan

Penulis: Zidane Asasani

Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Pamulang

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net