Masa Depan Pertanian Indonesia Terancam, Mengungkap Penyebab Alih Fungsi Lahan dan Krisis Regenerasi Petani

Avatar photo

EDISIKINI.COM, Jakarta — Sektor pertanian adalah salah satu bidang yang memiliki peran penting dalam kemajuan indonesia. Sebagai negara agraris dan memiliki populasi terbanyak keempat di dunia, Indonesia sangat bergantung pada sektor ini. Karena dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. meskipun kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional saat ini hanya berkisar 13% dan cenderung mengalami penurunan. Walaupun mengalami penurunan, sektor ini tetap memiliki peran penting dalam menyediakan lapangan kerja, khususnya bagi penduduk di daerah pedesaan.

Selain itu, sektor ini berfungsi sebagai penghasil pangan utama yang mendukung ketersediaan serta ketahanan pangan di indonesia. Namun, seiring berjalannya waktu terdapat berbagai permasalahan yang sedang dihadapi oleh sektor pertanian yaitu alih fungsi lahan dan krisis regenerasi petani. Oleh karena itu, sektor ini juga berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Mengingat bahwa sektor pertanian merupakan bidang yang berperan penting di Indonesia, maka diperlukan pemantauan dan peminimalisiran angka penurunan untuk mencegah terjadinya permasalahan pada masyarakat yang menggantungkan mata pencahariannya pada bidang tersebut. Karena kemampuan masyarakat untuk memberdayakan dirinya pada lapangan pekerjaan yang ada, akan memiliki keterhubungan dengan kesejahteraan masyarakat di indonesia. selain itu, pemantauan dan minimalisir angka penurunan juga dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan stabilitas ekonomi agar lonjakan inflasi pada harga pangan tetap dapat terkendali.

ALIH FUNGSI LAHAN

Ahli fungsi lahan merupakan perubahan lahan dari pertanian menjadi non pertanian. Contohnya seperti kawasan pemukiman dan industri. hal tersebut menjadi salah satu tantangan yang tengah dihadapi oleh sektor pertanian di indonesia, karena jumlahnya yang selalu meningkat setiap tahunnya. Direktur ATR/BPN Budi Situmorang, menyatakan bahwa luas lahan pertanian sawah pada tahun 2013 yaitu 7,75 hektar namun, setiap tahunnya sekitar 150.000 sampai 200.000 hektar lahan sawah beralih fungsi menjadi kawasan non pertanian.

Salah satu penyebab utama alih fungsi lahan yaitu adanya peningkatan jumlah penduduk yang terus – menerus bertambah (Prabowo, 2018, sebagaimana dikutip dalam Fopy Angraini et al., 2020). Data menunjukkan bahwa jumlah penduduk indonesia mengalami kenaikan pada tahun 2000 hingga 2010, dari yang tadinya sekitar 206,3 juta jiwa menjadi 237,6 juta jiwa (BPS Pusat, 2010, sebagaimana dikutip dalam, Rossi Prabowo et al., 2020).

Penyebab terjadinya alih fungsi lahan dibagi menjadi 2 faktor yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor langsung merupakan faktor yang mempengaruhi keputusan langsung oleh petani sedangkan faktor tidak langsung adalah faktor yang tidak berdampak langsung pada keputusan petani. Selain itu, terdapat beberapa faktor lain yang menjadi penyebab terjadinya alih fungsi pertanian menjadi non pertanian yaitu adanya faktor kependudukan, ekonomi, sosial, dan lemahnya undang – undang dan penegak hukum tentang lahan pertanian.

Salah satu dampak yang dirasakan oleh masyarakat khususnya bagi petani di indonesia, akibat terjadinya alih fungsi lahan yaitu berkurangnya area lahan pertanian. Dampak tersebut dapat menyebabkan produksi pangan di indonesia mengalami penurunan. Investasi yang dilakukan oleh pemerintah menjadi kurang maksimal dalam pengembangan insfrakstruktur pertanian. Sementara itu, ekosistem yang berada di sawah pun menjadi hilang.

Melihat dari permasalahan tersebut, kita harus meningkatkan rasa kepedulian kita terhadap lingkungan. Karena fenomena alih fungsi lahan ini dapat mengacam ketahan pangan di Indonesia. Banyak lahan pertanian yang diahli fungsikan menjadi permukiman warga. Salah satu faktor penyebabnya yaitu adanya peningkatan jumlah penduduk setiap tahunya yang dipengaruhi oleh dinamika peningkatan penduduk. Oleh karena itu, kebutuhan ruang untuk pemukiman juga menjadi semakin meningkat sehingga terjadi adanya perubahan lahan yang tadinya merupakan lahan pertanian menjadi area Pembangunan. Beralihnya fungsi lahan tersebut dapat menyebabkan sektor pertanian di Indonesia mengalami penurunan pada jumlah produksi pangan.

KRISIS REGENERASI PETANI DI INDONESIA

Kondisi sektor pertanian di indonesia saat ini memprihatinkan karena petani yang sudah lanjut usia lebih dominan dibandingkan dengan petani yang masih muda. Mayoritas petani di indonesia berusia 55 tahun keatas, sedangkan jumlah petani yang berusia 19 sampai 39 tahun tergolong sangat sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian di indonesia sedang mengalami masalah dalam regenerasi petani muda.

Penurunan minat generasi muda terhadap sektor pertanian juga disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya yaitu keterbatasan terhadap lahan pertanian, kurangnya modal, dan masih banyak generasi muda yang beranggapan bahwa pekerjaan di sektor pertanian kurang bergengsi. Mengakibatkan, banyak anak muda yang lebih memilih untuk bekerja di industri dan tinggal di daerah perkotaan. jika terus dibiarkan tanpa adanya penangan yang cepat dan tepat, dapat berpotensi untuk mengancam keberlangsungan sektor pertanian dalam memenuhi kebutuhan pangan di Indonesia.

Faktor yang menyebabkan menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian adalah masih banyak generasi muda yang beranggapan bahwa pekerjaan pada sektor pertanian tidak menarik dan kurang bergensi. Mengakibatkan, banyak generasi muda yang lebih memilih untuk kerja di sektor non pertanian. selain itu, faktor urbanisasi dan modernisasi menjadi keterbatasan akses terhadap sumber daya yang diperlukan oleh petani. Di sisi lain, faktor peningkatan pada pendidikan juga menjadi penyebab terjadinya penurunan minat generasi muda terhadap sektor pertanian.

Salah satu dampak yang akan dirasakan jika krisis regenerasi petani di indonesia tidak dapat diatasi dengan baik adalah terjadinya penurunan terhadap produksi makanan. Hal tersebut disebabkan oleh banyaknya petani usia lanjut yang tidak mampu lagi untuk bekerja sehingga sektor ini mengalami kekurangan tenaga kerja. Selain itu, kondisi ini juga menyebabkan indonesia mengalami peningkatan ketergantungan terhadap impor bahan pangan. Di sisi lain, situasi ini dapat memperburuk ketidaksetaraan pembangunan antara pedesaan dan perkotaan. Oleh karena itu, pemerintah perlu mengusung dan menjalankan sebuah kebijakan agar krisis regenerasi pertanian di indonesia dapat teratasi dengan baik.

Melihat permasalahan dari alih fungsi lahan dan regenerasi petani muda di Indonesia keduanya memiliki keterkaitan antara satu sama lain, jika permasalahan tersebut tidak diatasi dengan tepat dapat menyebabkan terganggunya ketersediaan pangan di Indonesia. Oleh karena itu, perlu adanya pengupayakan untuk meminimalisir kedua permasalahan tersebut dengan cara meningkatkan ketertarikan generasi muda terhadap sektor pertanian guna mengurangi risiko krisis regenerasi petani dan mencegah terjadinya urbanisasi yang meningkat.

Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan edukasi kepada generasi muda agar mereka dapat mengubah dan memperluas cara pandangnya terhadap sektor pertanian. Bahwasanya, saat ini sektor pertanian di indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat dan mengikuti dengan perkembangan teknologi. seperti adanya smart farming, sudah menggunakan internet of thing (IoT), sensor, drone, dan lain – lain.

Selain itu, sektor pertanian juga menawarkan peluang bisnis yang menjanjikan, karena kebutuhan akan pangan adalah hal pokok yang akan selalu diperlukan setiap harinya. Sementara itu, perlu adanya edukasi terhadap para petani agar tidak mudah untuk menjual lahannya demi kepentingan komersial. terakhir, dukungan dari pemerintah juga sangat diperlukan untuk mendorong regenerasi petani muda dengan memberikan akses terhadap lahan dan bantuan finansial.

Oleh karena itu, mari kita bersama – sama membantu meminimalisir permasalahan ahli fungsi lahan dan krisis regenerasi petani muda agar ketersediaan pangan di Indonesia tetap terjaga dan dapat mengurangin ketergantungan terhadap impor bahan pangan.

Firman Setiawan

Penulis: Farah Qanita Zakauha

Mahasiswa Program Studi Agribisnis, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor: Hafizh Abqori, Tim NASIONALISME.net